Dalam industri pertambangan batubara, pencemaran lingkungan bukan sekadar risiko—melainkan ancaman operasional dan finansial yang nyata. Air Asam Tambang (AAT) atau Acid Mine Drainage (AMD) merupakan dampak lingkungan paling kritis yang dapat mengganggu kelangsungan usaha, merusak reputasi perusahaan, dan menimbulkan denda regulasi yang besar. Kunci untuk mengelola ancaman ini terletak pada deteksi yang sangat dini, jauh sebelum air asam yang merusak terbentuk secara masif. Deteksi dini ini hanya dapat dicapai melalui program monitoring harian yang terstruktur, akurat, dan berfokus pada tiga parameter kunci: pH, Total Dissolved Solids (TDS), dan Konduktivitas Listrik (EC).
Artikel ini dirancang sebagai panduan operasional definitif bagi insinyur lingkungan, supervisor lapangan, dan manajer K3L di tambang batubara Indonesia. Kami akan menghubungkan teori kimia AMD yang solid dengan prosedur monitoring harian berbasis data akurat (dengan spesifikasi error <1%), sekaligus memetakannya langsung ke dalam kerangka regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Anda akan memahami mengapa triad parameter ini menjadi sistem peringatan dini yang vital, bagaimana menerapkan prosedur monitoring harian yang efektif baik secara manual maupun real-time, dan strategi antisipasi proaktif tahun 2025 yang dapat segera diadopsi berdasarkan data yang Anda kumpulkan.
- Dasar Ilmiah Air Asam Tambang (AMD) dan Dampaknya
- Tiga Parameter Kunci: pH, TDS, dan Konduktivitas dalam Konteks AMD
- Sistem Monitoring Harian: Prosedur, Teknologi, dan Pencatatan
- Interpretasi Data dan Threshold Menurut Regulasi Indonesia (KLHK)
- Strategi Antisipasi AMD 2025: Dari Data Monitoring ke Aksi Nyata
- Kesimpulan
- Referensi
Dasar Ilmiah Air Asam Tambang (AMD) dan Dampaknya
Air Asam Tambang (AMD) bukanlah polutan biasa; ini adalah hasil dari reaksi geokimia yang tak terelakkan ketika mineral sulfida—terutama pirit (FeS₂)—yang terekspos akibat kegiatan penambangan, bertemu dengan udara dan air. Proses ini mengubah batuan yang sebelumnya inert menjadi generator asam sulfat dan pelarut logam berat yang berpotensi mencemari lingkungan untuk waktu yang sangat lama. Bagi operasi pertambangan, AMD bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga ancaman terhadap infrastruktur (korosi), peningkatan biaya pengolahan air, dan potensi gangguan hubungan dengan masyarakat serta regulator.
Proses Kimia Pembentukan AMD: Dari Pirit menjadi Asam Sulfat
Pembentukan AMD diawali dengan oksidasi mineral pirit oleh oksigen yang terlarut dalam air. Reaksi kimia utama dapat disederhanakan sebagai berikut:
2 FeS₂(s) + 7 O₂(g) + 2 H₂O(l) → 2 Fe²⁺(aq) + 4 SO₄²⁻(aq) + 4 H⁺(aq)
Reaksi ini menghasilkan ion besi ferro (Fe²⁺), ion sulfat (SO₄²⁻), dan yang paling kritis: ion hidrogen (H⁺) yang menyebabkan penurunan pH (peningkatan keasaman). Dalam kondisi aerobik dan dengan adanya bakteri pengoksidasi besi seperti Acidithiobacillus ferrooxidans, ion besi ferro kemudian dioksidasi lebih lanjut menjadi besi ferri (Fe³⁺), yang merupakan oksidan kuat. Besi ferri ini selanjutnya dapat mengoksidasi lebih banyak pirit dalam suatu siklus yang mempercepat produksi asam secara eksponensial. Hasil akhirnya adalah air dengan keasaman tinggi (pH sangat rendah) yang kaya akan sulfat dan logam berat terlarut seperti besi, aluminium, mangan, tembaga, dan seng.
Dampak Lingkungan dan Operasional yang Harus Diwaspadai
Dampak AMD bersifat multifaset dan dapat menghancurkan. Dari perspektif bisnis, dampak-dampak ini diterjemahkan menjadi biaya langsung dan tidak langsung:
- Pencemaran Sumber Air: AMD menurunkan pH air secara drastis. Penelitian di area eks-tambang batubara Mantewe, Kalimantan Selatan, menemukan pH air di kolam bekas tambang antara 2.8 hingga 3.361. Nilai ini jauh di bawah ambang batas baku mutu air yang diizinkan (biasanya 6-9) dan dikategorikan sebagai sangat asam. Keasaman ekstrem ini mematikan bagi biota akuatik dan menjadikan air tidak dapat digunakan untuk keperluan apapun.
- Pelarutan dan Mobilisasi Logam Berat: pH rendah meningkatkan kelarutan logam-logam beracun. Logam-logam ini terlepas dari batuan, mencemari air tanah dan permukaan, serta berpotensi memasuki rantai makanan, menimbulkan liabilitas lingkungan dan kesehatan jangka panjang yang besar bagi perusahaan.
- Korosi Infrastruktur: Air bersifat asam tinggi bersifat sangat korosif terhadap pipa, pompa, struktur baja, dan peralatan pengolahan, yang menyebabkan peningkatan biaya perawatan dan penggantian aset.
- Degradasi Lahan dan Tanggung Jawab Pasca-Tambang: Lahan yang terkontaminasi AMD kehilangan kesuburannya, mempersulit revegetasi, dan meningkatkan biaya serta kompleksitas penutupan tambang (mine closure) serta pemulihan lingkungan.
Memahami proses dan dampak ini adalah langkah pertama untuk mengapresiasi mengapa monitoring parameter tertentu bukanlah tugas administratif belaka, melainkan investasi kritis dalam manajemen risiko operasional. Untuk gambaran yang lebih luas tentang pendekatan global dalam mengatasi dampak AMD, Anda dapat merujuk pada AMD Prevention and Remediation Strategies Overview dari American Geosciences Institute.
Tiga Parameter Kunci: pH, TDS, dan Konduktivitas dalam Konteks AMD
Setelah memahami ancamannya, langkah logis berikutnya adalah mengidentifikasi alat ukur yang dapat mendeteksinya sedini mungkin. Dalam konteks AMD, tiga parameter—pH, TDS, dan Konduktivitas Listrik (EC)—bekerja sinergis sebagai sistem sensor biologis yang sangat sensitif. Mereka memberikan sinyal kimia-fisika pertama sebelum kondisi benar-benar memburuk. Bagi manajer operasi, data dari ketiganya adalah indikator kinerja lingkungan (KPI) yang vital untuk pengambilan keputusan preventif.
pH: Indikator Utama Keasaman dan Deteksi Dini AMD
pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen (H⁺) dalam air, dinyatakan dalam skala logaritmik dari 0 (sangat asam) hingga 14 (sangat basa). Dalam sistem monitoring AMD, pH adalah parameter primer dan paling sensitif. Penurunan nilai pH, meskipun kecil, adalah sinyal langsung bahwa reaksi oksidasi sulfida sedang aktif dan menghasilkan asam.
- Nilai Normal: Air netral atau lingkungan yang tidak terdampak umumnya memiliki pH antara 6.5 dan 8.5.
- Indikasi Potensi AMD: Nilai pH yang konsisten di bawah 6, dan terutama yang menuju atau di bawah 5, adalah tanda bahaya. Air Asam Tambang yang sudah terbentuk seringkali memiliki pH di bawah 3, sebuah kondisi yang sangat merusak.
TDS dan Konduktivitas: Melacak Pelarutan Mineral dan Pencemaran Ionik
Sementara pH mengukur “kekuatan” asam, TDS dan Konduktivitas mengukur “produk” dari proses asam tersebut.
- Total Dissolved Solids (TDS): Mengukur total massa padatan anorganik dan organik yang terlarut dalam air, dinyatakan dalam parts per million (ppm) atau mg/L. Dalam konteks AMD, peningkatan TDS terutama disebabkan oleh pelarutan mineral (seperti sulfat, besi, aluminium) ke dalam air oleh asam.
- Konduktivitas Listrik (EC): Mengukur kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik, yang berbanding lurus dengan konsentrasi ion terlarut. Air murni hampir tidak menghantarkan listrik, tetapi air yang mengandung ion (seperti dari garam, asam, atau basa) akan memiliki konduktivitas yang lebih tinggi. EC adalah proxy yang cepat dan akurat untuk TDS.
Alat portabel seperti HI9813-51 biasanya memiliki rentang pengukuran EC hingga 4.00 mS/cm dan TDS hingga 1999 ppm, yang mencukupi untuk mendeteksi peningkatan signifikan akibat AMD.
| Parameter | Nilai Normal / Baseline | Indikasi Potensi AMD | Keterangan |
|---|---|---|---|
| pH | 6.5 – 8.5 | < 6.0 (Waspada), < 5.0 (Bahaya) | Sinyal pertama dan paling kritis. |
| Konduktivitas (EC) | 50 – 500 µS/cm | > 1000 µS/cm | Meningkat seiring pelarutan mineral oleh asam. |
| TDS | Rendah, bervariasi alami | Peningkatan tajam dari baseline | Korrelasi kuat dengan EC, indikasi padatan terlarut. |
Memantau ketiga parameter ini bersama-sama memberikan gambaran yang komprehensif: pH yang turun memberi tahu Anda asam sedang diproduksi, sementara TDS dan Konduktivitas yang naik menunjukkan mineral sedang dilarutkan oleh asam tersebut. Untuk pedoman teknis yang lebih mendalam mengenai pemantauan parameter-parameter ini dalam program AMD, International AMD Monitoring Guidelines from MEND menyediakan kerangka kerja yang diakui secara global.
Sistem Monitoring Harian: Prosedur, Teknologi, dan Pencatatan
Data hanya seberguna metode pengumpulannya. Sebuah program monitoring harian yang efektif membutuhkan prosedur yang terstandarisasi, alat yang terkalibrasi, dan sistem pencatatan yang konsisten. Bagian ini memberikan blueprint operasional yang dapat langsung diimplementasikan oleh tim lapangan, dengan pilihan teknologi dari manual hingga otomatis penuh.
Panduan Langkah-demi-Langkah Monitoring Manual Harian
Monitoring manual menggunakan portable meter (seperti HI9813-51) tetap relevan untuk titik sampling tertentu atau sebagai cadangan untuk sistem otomatis. Konsistensi adalah kuncinya.
- Persiapan dan Kalibrasi (Setiap Hari/Sesi):
- Periksa Alat: Pastikan elektroda/probe bersih, dan baterai mencukupi.
- Kalibrasi pH: Gunakan setidaknya dua buffer solution (misalnya, pH 4.01 dan 7.01) sesuai petunjuk alat. Kalibrasi memastikan akurasi, terutama dalam rentang asam yang kritis untuk AMD.
- Kalibrasi Konduktivitas/TDS (jika diperlukan): Kalibrasi menggunakan larutan standar konduktivitas.
- Catat: Catat tanggal, waktu, dan hasil kalibrasi pada log sheet.
- Pengambilan Sampel dan Pengukuran:
- Titik Sampling: Ukur selalu di titik yang sama (dengan koordinat GPS tercatat) untuk konsistensi data tren. Titik harus representatif (misal, aliran keluar dari waste dump, kolam sedimentasi, sungai penerima).
- Teknik Pengukuran: Celupkan probe ke dalam air, kocok perlahan untuk homogenisasi, dan tunggu pembacaan stabil. Pastikan kompensasi suhu otomatis aktif (biasanya 2%/°C) untuk akurasi maksimal.
- Baca dan Catat: Catat nilai pH, EC (µS/cm atau mS/cm), dan TDS (ppm). Juga catat suhu air, waktu, dan kondisi cuaca observasional.
- Pencatatan Data yang Sistematis:
Gunakan formulir digital atau fisik yang konsisten. Contoh template sederhana:
| Tanggal | Waktu | Titik Sampling | pH | EC (µS/cm) | TDS (ppm) | Suhu (°C) | Catatan Lapangan | Initial |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 21/02/2026 | 08.00 | Outlet Kolam A | 6.2 | 850 | 420 | 28 | Cerah, debit normal | JDO |
| 21/02/2026 | 08.15 | Bawah Dump X | 5.8 | 1200 | 600 | 27 | – | JDO |
Teknologi Monitoring Real-Time Berbasis IoT untuk Respons Cepat
Untuk deteksi yang lebih cepat dan efisiensi operasional, sistem monitoring real-time berbasis Internet of Things (IoT) adalah evolusi logis. Sistem ini menggunakan sensor yang terpasang tetap di lapangan yang mengirim data secara nirkabel ke platform cloud (seperti Thingspeak) setiap beberapa menit.
- Keunggulan Operasional:
- Deteksi Segera: Alarm otomatis dapat dikonfigurasi untuk mengirim notifikasi (SMS/Email) ketika pH turun di bawah threshold yang ditentukan, memungkinkan respons dalam hitungan menit, bukan jam atau hari.
- Akurasi Tinggi dan Berkelanjutan: Penelitian pada sistem monitoring IoT menunjukkan tingkat error yang sangat rendah, yaitu 0.202% untuk sensor pH dan 0.367% untuk sensor TDS5. Akurasi ini konsisten selama sistem terkalibrasi.
- Analisis Tren yang Kuat: Data kontinu memungkinkan pembuatan grafik tren yang jelas, membantu mengidentifikasi pola musiman atau korelasi dengan aktivitas operasi (misalnya, setelah hujan deras atau peledakan).
- Efisiensi Sumber Daya: Mengurangi kebutuhan personel untuk pengukuran manual rutin di lokasi yang berbahaya atau sulit dijangkau.
Implementasi sistem semacam ini telah diteliti di konteks Indonesia, seperti dalam studi pengembangan sistem pemantauan pH berbasis IoT untuk industri tambang batubara6. Teknologi ini mengubah paradigma dari monitoring reaktif menjadi manajemen lingkungan yang proaktif dan berbasis data. Untuk melihat contoh penerapan teknologi pengolahan dan kontrol yang dapat diintegrasikan dengan sistem monitoring, Indonesian Research on Coal Mine AMD Treatment Technologies memberikan wawasan yang berguna.
Interpretasi Data dan Threshold Menurut Regulasi Indonesia (KLHK)
Mengumpulkan data hanyalah setengah pertempuran. Nilai sebenarnya muncul ketika data tersebut diinterpretasikan dalam kerangka kepatuhan hukum dan digunakan untuk mengambil keputusan bisnis yang tepat. Di Indonesia, acuan utama adalah regulasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Memetakan Hasil Monitoring ke Baku Mutu Air Limbah
Perusahaan tambang batubara wajib mematuhi baku mutu air limbah yang ditetapkan pemerintah. Regulasi kunci yang sering dirujuk adalah Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Batubara4, serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah.
Data monitoring harian Anda harus secara konsisten dibandingkan dengan ambang batas (threshold) dalam regulasi ini. Sebagai contoh, Kepmen LH 113/2003 umumnya menetapkan batas pH air limbah antara 6.0 – 9.0. Dengan demikian, pembacaan pH 5.8 seperti dalam contoh tabel di atas bukan hanya indikator teknis potensi AMD, tetapi juga merupakan early warning untuk potensi ketidakpatuhan terhadap regulasi.
Tindakan yang Diperlukan Saat Threshold Terlampaui:
- Verifikasi Segera: Lakukan pengukuran ulang untuk memastikan bukan kesalahan alat atau sampling.
- Investigasi Sumber: Identifikasi area operasi yang mungkin memicu penurunan pH (misalnya, area penimbunan batuan penutup yang mengandung pirit).
- Laporan Internal & Eksternal: Laporkan kejadian ini melalui sistem manajemen lingkungan perusahaan. Jika melanggar baku mutu yang berlaku untuk pembuangan, pelaporan kepada otoritas yang berwenang mungkin diwajibkan sesuai peraturan.
- Implementasi Tindakan Korektif: Ambil langkah segera untuk mengendalikan sumber asam, seperti aplikasi kapur (liming) atau pengaliran air.
Untuk mengakses dokumen regulasi secara langsung, Anda dapat merujuk ke Indonesian Regulation on Wastewater Quality Standards (Permen LH No. 5/2014).
Studi Kasus: Analisis Tren Data untuk Deteksi Dini
Kekuatan sebenarnya dari monitoring harian terletak pada analisis tren, bukan pada data titik tunggal. Bayangkan grafik data pH dan konduktivitas dari satu titik sampling selama 10 hari:
- Hari 1-3: pH stabil di 6.5, konduktivitas di 800 µS/cm.
- Hari 4-6: pH mulai menurun perlahan ke 6.0, konduktivitas naik ke 1000 µS/cm.
- Hari 7-10: pH turun lebih cepat ke 5.5, konduktivitas melonjak ke 1500 µS/cm.
Meskipun pada Hari 10 pun pH mungkin masih di atas ambang batas limbah tertentu, tren yang jelas menurun adalah sinyal deteksi dini yang sangat kuat bahwa proses pembentukan AMD sedang aktif. Ini adalah waktu yang tepat untuk menerapkan strategi antisipasi—jauh lebih murah dan efektif daripada menunggu sampai pH mencapai 3.0 dan pencemaran skala penuh terjadi.
Strategi Antisipasi AMD 2025: Dari Data Monitoring ke Aksi Nyata
Data monitoring yang akurat adalah kompas yang menunjuk ke masalah. Strategi antisipasi adalah peta dan kendaraan untuk menghindarinya. Berdasarkan temuan monitoring, perusahaan dapat memilih dan mengimplementasikan strategi yang paling tepat sasaran, efektif biaya, dan sesuai dengan konteks lokasi tambang.
Strategi Preventif: Menghentikan AMD Sebelum Terbentuk
Pencegahan adalah strategi paling ekonomis. Pendekatan ini berfokus pada pengelolaan material dan desain tambang untuk meminimalkan pembentukan asam sejak awal.
- Manajemen Material Sulfida: Mengidentifikasi dan menangani secara khusus batuan yang mengandung mineral pembentuk asam (Potentially Acid Forming/PAF). Metode seperti selektif dumping dan enkapsulasi (membungkus material PAF dengan material non-PAF) bertujuan untuk membatasi kontaknya dengan udara dan air.
- Rekayasa Penutup (Dry Covers): Melapisikan timbunan dengan material berpermukaan rendah (seperti tanah liat) atau penutup kering untuk menghalangi infiltrasi air dan oksigen.
- Rekayasa Aliran Air: Merancang sistem drainase dan diversion untuk mengalirkan air limpasan bersih menjauhi area PAF, sehingga mengurangi air yang tersedia untuk reaksi pembentukan asam.
Strategi Remediasi Aktif dan Pasif Berbasis Data
Ketika monitoring menunjukkan tanda-tanda pembentukan asam, strategi pengendalian dan pengolahan diperlukan. Pilihan ini harus didasarkan pada data flow rate, beban asam, dan karakteristik kimia air.
- Amandemen Alkali (Aktif): Penambahan bahan penetral seperti kapur (limestone) atau soda abu secara terkendali ke air yang bersifat asam. Ini adalah metode yang kuat dan cepat. Efektivitasnya dipantau langsung melalui kenaikan pH dan penurunan konduktivitas.
- Sistem Pengolahan Pasif: Cocok untuk aliran dengan keasaman rendah hingga menengah. Contohnya adalah Open Limestone Channel (OLC). Penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa sistem OLC dapat menetralkan AMD dengan efisiensi hingga 76%, menghasilkan air dengan pH netral sekitar 7.513. Sistem seperti ini relatif rendah biaya operasi dan pemeliharaan setelah dibangun, dan kinerjanya dapat dipantau melalui parameter rutin pH dan EC di inlet dan outlet.
- Lahan Basah Buatan (Constructed Wetlands): Memanfaatkan tanaman dan mikroba alami untuk menetralkan asam dan mengendapkan logam. Desain dan efektivitasnya sangat bergantung pada data kualitas air influen.
Pemilihan strategi yang tepat adalah keputusan teknis-ekonomis yang kompleks. Data monitoring harian yang andal menjadi dasar untuk pemodelan, desain, dan evaluasi kinerja semua strategi di atas. Pedoman komprehensif tentang menghubungkan data monitoring dengan pilihan strategi mitigasi dapat ditemukan dalam International AMD Monitoring Guidelines from MEND.
Kesimpulan
Dalam lanskap pertambangan batubara modern yang penuh dengan tuntutan regulasi dan kesadaran lingkungan, kemampuan untuk mengantisipasi masalah lebih bernilai daripada sekadar meresponsnya. Monitoring harian terhadap triad parameter pH, TDS, dan Konduktivitas bukanlah beban biaya, melainkan fondasi dari sistem manajemen risiko lingkungan yang tangguh. Ketiganya berfungsi sebagai sistem peringatan dini yang vital, memberikan sinyal kimiawi pertama yang dapat menyelamatkan perusahaan dari dampak finansial dan reputasi yang besar akibat Air Asam Tambang.
Artikel ini telah memberikan panduan operasional yang menghubungkan teori kimia AMD, prosedur monitoring berbasis data akurat (dengan error <1%), interpretasi dalam kerangka regulasi KLHK Indonesia, hingga strategi antisipasi proaktif berbasis riset terbaru 2025. Investasi dalam prosedur monitoring yang tepat, baik manual maupun berbasis IoT real-time, adalah langkah paling cost-effective untuk melindungi aset lingkungan dan operasional perusahaan.
Langkah Selanjutnya untuk Perusahaan Anda:
Lakukan audit menyeluruh terhadap sistem monitoring AMD yang ada di lokasi tambang Anda. Mulailah dengan memastikan prosedur pencatatan harian telah terstandarisasi dan data historis dapat dianalisis untuk tren. Pertimbangkan untuk meningkatkan kemampuan deteksi dengan teknologi sensor real-time untuk titik-titik kritis. Yang terpenting, integrasikan temuan dari data monitoring ini secara langsung ke dalam proses pengambilan keputusan operasional dan perencanaan strategi lingkungan jangka panjang.
Sebagai mitra bisnis yang berkomitmen mendukung industri nasional, CV. Java Multi Mandiri hadir sebagai supplier dan distributor terpercaya untuk instrumentasi ukur dan uji, termasuk peralatan monitoring kualitas air untuk aplikasi industri dan pertambangan. Kami menyediakan solusi peralatan yang andal, dari portable meter hingga komponen sistem sensor, untuk membantu tim teknis Anda mengimplementasikan program monitoring yang akurat dan memenuhi kepatuhan regulasi. Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai kebutuhan spesifik perusahaan Anda, silakan hubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini untuk tujuan edukasi dan panduan umum. Implementasi di lapangan harus mengacu pada regulasi terbaru dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta melibatkan profesional berlisensi.
Rekomendasi Data Logger
Data Logger
Data Logger
Data Logger
Referensi
- Penulis tidak diketahui. (N.D.). The Effect Of Acid Mine Water On Ground Water Hydro-Chemical, In Mantewe, Tanah Bumbu Regency, South Kalimantan, Indonesia. International Journal of Applied Chemistry. RIPC. Retrieved from https://www.ripublication.com/ijac16/ijacv12n3_12.pdf
- Dhian, I. P. A., Wardhana, A. Y. P., & Muluk, M. R. K. (2021). Case Study in Acid Mine Drainage Management Policy in Indonesia. E3S Web of Conferences. EDP Sciences. Retrieved from https://www.e3s-conferences.org/articles/e3sconf/pdf/2021/25/e3sconf_css2021_02006.pdf
- Fajri, H., et al. (2025). PASSIVE TREATMENT OF ACID MINE DRAINAGE (AMD) USING AN OPEN LIMESTONE CHANNEL SYSTEM PRIOR TO DISCHARGE INTO SURFACE WATER BODIES. Water Conservation & Management. Retrieved from https://www.watconman.org/archives-pdf/2wcm2025/2wcm2025-257-268.pdf
- Republik Indonesia. (2003). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 113 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Batubara.
- [Artikel mengenai sistem monitoring IoT]. (N.D.). Retrieved from https://ejurnal.unisap.ac.id/magnetic/article/view/634
- [Penelitian sistem pemantauan pH berbasis IoT di tambang batubara]. (N.D.). [Sumber dari analisis kata kunci].

