Dalam industri tekstil dan garmen, kegagalan uji pH kain menyumbang sekitar 7% dari total penolakan produk jadi. Angka ini berasal dari analisis perbandingan lembaga uji ITS dan BV yang dirangkum oleh Suede Fabric Supplier, dan menggambarkan betapa isu pH yang tampaknya sepele bisa menjadi sumber biaya, waktu, dan reputasi yang signifikan. Yang lebih mengejutkan, akar masalahnya seringkali tidak terletak pada proses pencelupan atau bahan kimia mahal, melainkan pada sesuatu yang lebih mendasar dan mudah diabaikan: pH air pembilas yang tidak konsisten.
Sebagai manajer QC, kepala laboratorium, atau engineer proses, Anda mungkin sudah akrab dengan fenomena warna belang, kain terasa kaku, atau pengembalian dari buyer karena pH di luar spesifikasi. Di balik semua itu, fluktuasi pH di setiap tahap pembilasan — dari hot rinse hingga cold rinse — memainkan peran kritis yang menentukan apakah serat siap menerima zat warna, apakah residu alkali dan peroksida benar-benar hilang, dan apakah produk akhir aman bagi kulit pengguna.
Artikel ini hadir sebagai panduan diagnostik-operasional pertama berbahasa Indonesia yang secara holistik menghubungkan ketidakstabilan pH air pembilas dengan cacat kain nyata. Anda akan mendapatkan langkah-langkah pemeriksaan QC sederhana yang dapat langsung diterapkan: mulai dari memahami dampak pH pada mutu kain, mendiagnosis akar penyebab fluktuasi, membandingkan standar kepatuhan internasional, prosedur perbaikan kain gagal uji, hingga SOP pemilihan dan kalibrasi alat ukur pH yang tepat untuk laboratorium dan lantai produksi.
- Mengapa pH Air Pembilas Sangat Kritis bagi Kualitas Kain Jadi?
- Dampak Nyata Fluktuasi pH: Cacat Kain yang Muncul di Lapangan
- Akar Penyebab Inkonsistensi pH Air Pembilas
- Standar Kepatuhan pH Kain yang Wajib Dipenuhi Industri Tekstil
- Prosedur Perbaikan: Mengatasi Kain dengan pH Tidak Sesuai Standar
- Langkah Pemeriksaan QC Sederhana: Dari Memilih Alat hingga Mengukur
- Studi Kasus: Mentransformasi Fluktuasi pH Menjadi Kontrol Kualitas Ketat
Mengapa pH Air Pembilas Sangat Kritis bagi Kualitas Kain Jadi?
Fungsi Krusial Pembilasan Pasca-Bleaching dan Pencelupan
Proses scouring dan bleaching pada kain katun atau serat selulosa bertujuan menghilangkan kotoran alami serta memberikan dasar putih yang seragam. Namun, kedua proses ini meninggalkan residu kimia agresif: soda kaustik (NaOH) dari scouring dan hidrogen peroksida (H₂O₂) beserta stabilizer dari bleaching. Tanpa pembilasan yang memadai, residu tersebut akan menempel pada serat dan mengganggu seluruh tahap selanjutnya.
Praktik modern merekomendasikan protokol pembilasan lima tahap untuk memastikan kebersihan serat 1]. Setiap tahap memiliki rentang [suhu dan pH yang spesifik — mulai dari hot rinse pada 60–80°C dengan pH 9–10 untuk melarutkan sisa alkali, bak katalis pada 50°C pH 8–9, water rinse 40–50°C, acid rinse 30–40°C yang menurunkan pH menjadi 6–7, dan cold rinse 20–30°C. Jika pH pada salah satu tahap melenceng, proses pembersihan tidak tuntas dan zat-zat sisa akan terbawa hingga ke proses pewarnaan.
Hubungan Langsung pH Air Pembilas dengan Mutu Akhir Kain
Kain harus berada pada pH netral (6–7) sebelum memasuki bak pewarnaan. BSI Knowledge dalam penjelasan BS EN ISO 3071:2020 secara eksplisit menyatakan: “Fabrics made from textiles of a higher pH value may exhibit challenges such as yellowing tendencies, change of shade upon storage and during shipment, poor dye pick up, patchy dyeing, and poor colourfastness. Very high and very low pH results in the degradation of textiles during storage and also poor softness and harsh feel.” [2]. Pernyataan ini menegaskan bahwa pH yang tidak terjaga bukan sekadar parameter kimia, melainkan pemicu langsung cacat visual dan fisik pada kain.
Efisiensi penyerapan zat warna reaktif, misalnya, hanya berkisar 30–70% [3]. Dengan pH air bilas yang tidak netral, zat warna tidak dapat terfiksasi secara merata, menyebabkan belang atau perbedaan nuansa antar bagian kain. Di sisi kekuatan serat, meskipun bleaching terkontrol sekalipun, kekuatan tarik kain dapat menurun 3–5% [1]. Jika residu alkali dan H₂O₂ tidak dinetralkan karena pH bilas yang buruk, degradasi selulosa semakin parah sehingga kain menjadi rapuh dan kaku.
Dari aspek keamanan, pH kulit manusia berada pada kisaran asam lemah 5,5–6,0 [4]. Kain yang menyimpan residu basa atau asam ekstrem dapat merusak mantel asam pelindung kulit, memicu iritasi, gatal, atau alergi bagi pemakai akhir. Oleh karena itu, menjaga pH air pembilas bukan hanya soal produktivitas, tetapi juga kepatuhan terhadap regulasi keamanan produk.
Dampak Nyata Fluktuasi pH: Cacat Kain yang Muncul di Lapangan
Warna Tidak Seragam atau Belang (Uneven Dye Strike)
Ketika pH air bilas tidak mencapai netral, afinitas serat kapas terhadap zat warna reaktif berubah. Pada pH tinggi, gugus hidroksil selulosa lebih reaktif, sementara pada pH rendah reaksi fiksasi melambat. Akibatnya, migrasi zat warna ke seluruh permukaan kain menjadi tidak seragam. Hasilnya adalah belang, perbedaan nuansa warna (shade variation), atau efek patchy yang mengakibatkan penolakan dari departemen QC. Referensi dari Jurnal Teknoin UII menunjukkan bahwa penguraian zat warna reaktif sangat dipengaruhi oleh pH larutan [5]; pengendalian pH air bilas pada 6–7 secara signifikan meningkatkan kerataan dan mengurangi limbah zat warna yang tidak terserap.
Serat Rapuh, Kaku, dan Kehilangan Kekuatan Tarik
Serat kapas yang terpapar residu alkali dan oksidator akan mengalami degradasi selulosa. Ikatan hidrogen antarmolekul melemah, membuat kain terasa kaku dan mudah sobek. National Scientific Corporation menunjukkan rentang pH aman untuk kain berada pada 4–9 [6]; di luar rentang tersebut, degradasi terjadi dengan cepat. Bahkan pada kondisi bleaching yang ideal, kehilangan kekuatan tarik 3–5% sudah umum terjadi karena agresivitas proses kimiawi [1]. Bila bilasan tidak mampu menetralkan residu, persentase penurunan bisa jauh lebih tinggi, langsung memengaruhi daya tahan produk akhir.
Kain Gagal Uji Standar pH (GB 18401, Spesifikasi Buyer)
Kain jadi yang pH-nya terdeteksi 8–9 — kondisi yang sering terjadi akibat penyesuaian cuka es yang tidak stabil — otomatis akan gagal memenuhi standar keamanan nasional China GB 18401-2010. SGS Safeguards bulletin No. 035/11 [7] mendokumentasikan batas pH resmi untuk:
- Kategori A (produk bayi) : pH 4,0–7,5
- Kategori B (produk kontak langsung kulit) : pH 4,0–8,5
- Kategori C (produk non-kontak langsung) : pH 4,0–9,0
Namun, pabrik yang mengekspor ke brand internasional sering menghadapi spesifikasi buyer yang jauh lebih ketat: pH 5,5–7,5, bahkan beberapa meminta 6–7 [8]. Kegagalan memenuhi batas ini langsung berujung pada penolakan pengiriman, pengerjaan ulang (rewashing), dan biaya tambahan yang tidak sedikit. Pengalaman Sinoever International menunjukkan bahwa pH setelah pencelupan sering berada di angka 8–9 justru karena praktik penambahan cuka es yang tidak terukur dan sulit diulang [4].
Akar Penyebab Inkonsistensi pH Air Pembilas
Faktor Kimia-Fisika Air: CO₂, Suhu, dan Buffer Karbonat
Karakteristik air baku yang digunakan pabrik turut menentukan stabilitas pH. Gas CO₂ terlarut dalam air membentuk asam karbonat lemah yang menurunkan pH. Saat suhu air naik (misalnya pada hot rinse 60–80°C), kelarutan CO₂ menurun drastis sehingga pH air justru naik (menjadi lebih basa) [9]. Sebaliknya, pada air dingin dengan kelarutan CO₂ tinggi, pH bisa turun. Belum lagi keberadaan ion karbonat dan bikarbonat yang bersifat sebagai larutan penyangga (buffer): air dengan buffer tinggi akan melawan perubahan pH, membuat dosis asam tambahan tidak langsung berefek sesuai perhitungan. Akibatnya, setpoint pH yang ditetapkan operator bisa meleset tanpa disadari.
Residu Proses: Alkali, Hidrogen Peroksida, dan Cuka Es Tidak Stabil
Residu dari tahap scouring (NaOH) dan bleaching (H₂O₂) yang tidak dibilas sempurna menjadi sumber utama pergeseran pH di bak bilasan berikutnya. NaOH adalah basa kuat; sedikit saja terbawa akan langsung menaikkan pH. Situasi diperparah oleh praktik penyesuaian pH dengan cuka es (asam asetat) yang sering dilakukan secara manual tanpa dosis presisi. Sinoever International mencatat, “penyesuaian cuka es yang tidak stabil, umumnya membuat kain menjadi basa sekitar 8–9” [4]. Artinya, alih-alih menurunkan pH ke 6–7, langkah fix yang asal-asalan justru memunculkan masalah baru tepat di ujung proses.
Kesalahan Pengukuran: Kalibrasi dan Kompensasi Suhu (ATC)
Tidak sedikit penyimpangan pH yang terekam ternyata berasal dari instrumen, bukan dari proses. Dua kesalahan paling sering adalah: (1) tidak melakukan kalibrasi harian dengan buffer standar pH 4, 7, dan 10, sehingga hasil tidak akurat; (2) mengukur larutan bersuhu tinggi tanpa mengaktifkan fitur Kompensasi Suhu Otomatis (ATC). pH meter tanpa ATC akan membaca potensial elektroda tanpa mengoreksi pengaruh suhu, menghasilkan deviasi yang cukup signifikan [10]. Tanpa data yang andal, tim QC tidak bisa membedakan fluktuasi pH nyata dari sekadar error pengukuran.
Standar Kepatuhan pH Kain yang Wajib Dipenuhi Industri Tekstil
ISO 3071:2020 — Metode Uji pH Ekstrak Air untuk Tekstil
Standar internasional ISO 3071:2020 mendefinisikan metode penentuan pH ekstrak aqueous dari serat, benang, atau kain. Prinsipnya: sampel kain 2 gram diekstraksi dalam 100 ml air suling atau deionisasi pada suhu kamar, dikocok mekanis 60 rpm selama 2 jam, lalu ekstrak diukur dengan pH meter elektroda kaca yang memiliki resolusi minimal 0,01 satuan pH dan direkomendasikan memiliki kompensasi suhu [11]. Standar mewajibkan kalibrasi menggunakan dua larutan buffer, misalnya pH 4 dan 7 atau pH 7 dan 9, serta melaporkan hasil sebagai rata-rata dua pengukuran yang dibulatkan ke 0,1 pH terdekat. Batas reprodusibilitas antar laboratorium R=1,1 unit pH, menunjukkan bahwa variabilitas wajar pun relatif besar, sehingga konsistensi internal pengukuran menjadi krusial.
Pernyataan dari Pendahuluan standar ini amat relevan untuk QC: “The pH-value of the aqueous extract of a textile affords a useful index to its processing history” — nilai pH ekstrak kain adalah cerminan dari keseluruhan proses yang telah dilaluinya, termasuk efektivitas pembilasan. Bila pH air bilas tidak konsisten, “jejak” itu akan terekam pada kain jadi.
GB 18401-2010 & OEKO-TEX — Batas Keamanan pH untuk Konsumen
Untuk kepatuhan ekspor, khususnya ke pasar Tiongkok, GB 18401-2010 [12] menetapkan batas pH seperti dijelaskan sebelumnya. Sementara itu, OEKO-TEX Standard 100 juga mengatur pH sebagai salah satu parameter wajib dalam setiap kelas produk, dengan batas serupa yang didasarkan pada keamanan kulit [13]. Kedua standar ini secara rutin diperiksa oleh laboratorium penguji pihak ketiga, dan hasil di luar rentang langsung mengakibatkan produk ditolak masuk pasar.
Spesifikasi Buyer: Lebih Ketat dari Regulasi, Standar 5.5–7.5
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa banyak brand global mengadopsi rentang yang lebih sempit, misalnya pH 5,5–7,5 atau 6–7, mendekati pH alami kulit manusia [8]. Dengan demikian, kain yang secara teknis lulus GB 18401 (kategori B hingga pH 8,5) bisa saja gagal memenuhi persyaratan buyer. Inilah mengapa pengendalian pH air bilasan harus dibawa ke tingkat yang lebih presisi: target akhir bukan sekadar “masuk toleransi,” melainkan “memenuhi ekspektasi pelanggan.” Data dari Sinoever bahwa kain sering keluar dari proses pada pH 8–9 menegaskan masih banyak pabrik yang perlu meningkatkan kontrol di area ini.
Prosedur Perbaikan: Mengatasi Kain dengan pH Tidak Sesuai Standar
Ketika hasil uji laboratorium menunjukkan pH kain di luar batas yang disepakati, langkah korektif harus segera dilakukan sebelum barang dikemas dan dikirim.
Diagnosis Awal: Tentukan Status pH Kain Gagal Uji
Mayoritas kasus adalah kain yang terlalu basa (pH >8), karena residu alkali dari tahap sebelumnya dan penggunaan cuka es yang tidak stabil [4]. Langkah pertama: bandingkan hasil uji dengan spesifikasi yang berlaku — apakah buyer meminta 5,5–7,5 atau GB 18401 batas 8,5. Tetapkan target perbaikan yang jelas, misalnya menurunkan pH dari 8,9 menjadi 6,5.
Netralisasi Asam-Basa: Dosis, Waktu, dan Agen yang Tepat
Untuk kain basa, netralisasi dapat dilakukan dengan menambahkan asam asetat (cuka) 0,5–1% atau asam sitrat 0,1–0,5% pada bak bilas terakhir. Proses ini dijalankan pada suhu rendah (30–40°C) selama 5–10 menit agar asam menetralkan residu alkali tanpa merusak serat [4][8]. Sebaliknya, bila kain terlalu asam karena penggunaan asam berlebih, koreksi dilakukan dengan larutan soda ash (natrium karbonat) dosis rendah. Kuncinya adalah pengukuran pH setelah perlakuan: ambil sampel, lakukan ekstraksi sesuai metode ISO 3071, dan pastikan hasil berada dalam rentang target. Ulang siklus jika perlu.
Pencegahan Berulang: Optimalisasi Proses Pencelupan dan Finishing
Agar masalah tidak terulang, pabrik perlu beralih ke sistem dosing otomatis untuk cuka es dan asam lainnya. Sistem kontrol pH inline — yang terdiri dari sensor online, pH controller, dan dosing pump — dapat menjaga pH akhir di kisaran 6,5–7,0 dengan presisi tinggi [1]. Selain meminimalkan risiko kesalahan manusia, optimalisasi bilasan semacam ini juga berdampak positif pada lingkungan: data dari publikasi MDPI menunjukkan penurunan COD hingga 50–70% [14]. Dengan mendokumentasikan setiap langkah perbaikan dan hasil uji ulang, pabrik membangun ketelusuran yang siap diaudit kapan saja.
Langkah Pemeriksaan QC Sederhana: Dari Memilih Alat hingga Mengukur
Memilih Alat Ukur pH yang Tepat untuk QC Tekstil
Kesuksesan kontrol pH dimulai dari pemilihan alat ukur yang tepat. Untuk aplikasi tekstil, terdapat empat kategori utama:
- Kertas lakmus: hanya memberikan indikasi kasar, tidak cocok untuk QC presisi.
- pH meter portabel: contohnya Hanna HI98107 pHep dengan bodi tahan air IP57, ATC, dan antarmuka dua tombol. Ideal untuk pengecekan cepat di lantai produksi.
- pH meter benchtop laboratorium: Hanna HI2002-02 edge® dengan layar 5,5 inci, fitur Cal Check untuk diagnosis elektroda otomatis, elektroda digital yang menyimpan data kalibrasi, kapasitas penyimpanan 1000 data, serta ekspor via USB. Alat ini dirancang untuk memenuhi tuntutan uji ekstrak ISO 3071 yang mensyaratkan resolusi 0,01 pH dan kompensasi suhu — sangat cocok untuk laboratorium QC yang memerlukan traceability audit [15].
- Sensor inline dan pH controller: untuk kontrol proses otomatis yang mengintegrasikan pengukuran, pengendalian, dan dosing secara real-time.
Untuk laboratorium QC tekstil, pH meter benchtop dengan resolusi 0,01 pH dan kemampuan logging data adalah kebutuhan minimal. Elektroda digital pada HI2002-02 bahkan memungkinkan pertukaran elektroda tanpa kalibrasi ulang karena data kalibrasi tersimpan di chip elektroda — fitur yang sangat bernilai untuk pabrik yang beroperasi 24 jam.
SOP Kalibrasi Harian pH Meter: Buffer 4, 7, dan 10
Prosedur kalibrasi yang diadopsi dari standar EPA [16] dan ISO 3071 bisa diringkas sebagai berikut:
- Nyalakan pH meter dan bilas elektroda dengan air deionisasi.
- Celupkan elektroda ke larutan buffer pH 7,00 dan lakukan kalibrasi titik pertama.
- Bilas kembali, lalu celupkan ke buffer pH 4,01 (dan/atau pH 10,01) sesuai rentang sampel yang akan diuji.
- Setelah kalibrasi, periksa slope dan offset yang ditampilkan — nilai slope ideal 95–102% menandakan elektroda dalam kondisi baik.
- Untuk penggunaan kontinu, ulangi kalibrasi setiap 2–3 jam atau minimal setiap awal shift.
Fitur Cal Check pada HI2002-02 secara otomatis memantau kondisi elektroda berdasarkan offset dan slope, memberikan peringatan jika elektroda perlu dibersihkan atau diganti — nilai tambah besar untuk kesiapan audit ISO 9001 atau ISO 17025.
Cara Mengukur pH Air Pembilas di Setiap Tahap Proses
Berikut peta pengukuran pH sepanjang protokol bilas 5 tahap [1]:
| Tahap | Suhu (°C) | Target pH | Alat yang Disarankan |
|---|---|---|---|
| Hot rinse | 60–80 | 9–10 | Portabel / inline (ATC) |
| Bak katalis | 50 | 8–9 | Portabel (ATC) |
| Water rinse | 40–50 | 6,5–7,5 | Portabel (ATC) |
| Acid rinse | 30–40 | 6–7 | Portabel / benchtop |
| Cold rinse | 20–30 | 6–7 | Portabel |
Pengukuran langsung pada outlet bak dengan pH meter ber-ATC akan memberikan data yang akurat. Untuk produksi massal, lakukan pengecekan di awal setiap batch dan ulangi setiap 30 menit. Data catat di log sederhana atau langsung disimpan di memori alat jika menggunakan HI2002-02.
Mengukur pH Ekstrak Kain Jadi Sesuai ISO 3071
Untuk memverifikasi pH kain jadi, ikuti langkah sederhana yang mengacu pada ISO 3071:2020:
- Potong sampel kain menjadi bagian-bagian kecil, timbang tepat 2,0 gram.
- Masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 250 ml, tambahkan 100 ml air deionisasi (suling).
- Tutup dan kocok menggunakan mechanical shaker pada 60 rpm selama 2 jam pada suhu ruang.
- Setelah pengocokan, ukur pH ekstrak dengan pH meter yang sudah dikalibrasi (dua titik buffer).
- Lakukan dua kali pengukuran dan ambil rata-ratanya, bulatkan ke 0,1 unit pH terdekat.
Prosedur ini bisa dijalankan oleh staf QC non-teknis setelah pelatihan singkat. Dengan pH meter benchtop yang memiliki pencatatan otomatis, hasil langsung terekam dan siap dilampirkan dalam laporan ke buyer.
Mendokumentasikan Data untuk Audit Mutu dengan pH Meter Digital
Sistem manajemen mutu modern mensyaratkan setiap data pengukuran dapat ditelusuri. pH meter seperti HI2002-02 menyimpan hingga 1000 data lengkap dengan timestamp, mode on-demand maupun interval logging, dan dapat diekspor via USB ke komputer. Ini sangat membantu saat menghadapi audit ISO 9001 (klausul 7.5 Informasi Terdokumentasi) atau inspeksi mendadak dari buyer. Dengan beralih dari pencatatan manual ke digital, pabrik mengurangi risiko kehilangan data, mempercepat analisis tren, dan membangun kepercayaan pelanggan.
Studi Kasus: Mentransformasi Fluktuasi pH Menjadi Kontrol Kualitas Ketat
Sebuah pabrik tekstil di Jawa Barat yang memproduksi kain katun untuk ekspor mengalami reject berulang karena pH kain jadi sering berada di 8,5–9,0, melampaui batas spesifikasi buyer China (GB 18401 Kategori B maksimal 8,5). Awalnya, pengukuran pH hanya dilakukan dengan kertas lakmus, dan penambahan cuka es dilakukan secara manual oleh operator tanpa takaran pasti. Akibatnya, reject rate akibat parameter pH mencapai 12%.
Manajemen kemudian melakukan intervensi terstruktur:
- Menginstal Hanna HI2002-02 edge® di laboratorium QC untuk mengukur pH ekstrak kain sesuai ISO 3071.
- Menerapkan SOP kalibrasi harian (buffer 7, 4, 10) dan pencatatan digital.
- Menempatkan pH meter portabel Hanna HI98107 di dua titik bilasan kritis (acid rinse dan cold rinse) untuk pengecekan setiap 30 menit.
- Melatih operator finishing tentang prinsip netralisasi dan cara membaca hasil pengukuran.
Dalam tiga bulan, pH bilasan akhir stabil di kisaran 6,5–7,0. Reject rate karena pH turun menjadi di bawah 2%, dan buyer approval meningkat signifikan. Di sisi lain, COD limbah cair pabrik tercatat turun sekitar 60% karena residu kimia yang lebih sedikit — sejalan dengan temuan MDPI bahwa optimasi bilasan menurunkan COD 50–70% [14]. Investasi pada alat ukur presisi dan prosedur QC sederhana terbukti mendatangkan return dalam bentuk penghematan biaya rework, peningkatan kepercayaan pelanggan, dan kepatuhan lingkungan.
Rekomendasi pH Controller
pH Controller
Ketidakstabilan pH air pembilas bukan sekadar variabel teknis, melainkan akar dari banyak cacat kain dan penolakan buyer yang sebenarnya dapat dicegah. Dengan memahami penyebab fluktuasi — mulai dari karakteristik air baku, residu proses, hingga kesalahan pengukuran — tim QC dan produksi dapat mengambil alih kendali kualitas di setiap tahap. Penerapan standar internasional seperti ISO 3071 dan GB 18401, dipadukan dengan langkah QC sederhana: pemilihan pH meter yang tepat, kalibrasi harian yang disiplin, pengukuran rutin di titik kritis, dan dokumentasi digital untuk audit, akan mengubah pendekatan dari reaktif menjadi proaktif.
Sebagai mitra terpercaya bagi industri tekstil dan garmen Indonesia, CV. Java Multi Mandiri melalui tim Hanna Instrument Indonesia siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan kontrol mutu dengan menyediakan pH meter presisi seperti Hanna HI2002-02 edge® yang telah teruji di laboratorium QC, lengkap dengan layanan purna jual dan konsultasi teknis. Jangan biarkan fluktuasi pH menjadi penghambat produktivitas dan reputasi ekspor Anda. Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim kami hari ini, dan dapatkan solusi alat ukur yang memberikan ketelusuran dan keandalan data untuk setiap batch produksi.
Referensi
- Beta Pramesti Asia. (n.d.). Textile Bleaching: Pentingnya Kontrol pH, Suhu, dan Kimia Khusus untuk Menjaga Kualitas Kain. Retrieved from https://beta.co.id/blog/…
- BSI Knowledge. (2020). BS EN ISO 3071:2020 — Textiles. Determination of pH of aqueous extract. Retrieved from https://knowledge.bsigroup.com/products/textiles-determination-of-ph-of-aqueous-extract
- Jurnal Teknoin Universitas Islam Indonesia. (n.d.). Pengaruh pH pada Penguraian Zat Warna Reaktif. Journal UII.
- Sinoever International Co., Ltd. (2020). Pengetahuan tentang Nilai pH Tekstil. Retrieved from https://id.solventdyestuffs.com/info/knowledge-of-textile-ph-value-49884828.html
- Jurnal Teknoin UII. (n.d.). Ibid.
- National Scientific Corporation. (n.d.). Fabric pH test – ISO 3071. [Video]. YouTube.
- SGS. (2011). SGS Safeguards Softlines No. 035/11 — Revised GB 18401-2010: China Revised National General Safety Standard for Textile Products. Retrieved from https://newsletter.sgs.com/eNewsletterPro/uploadedimages/000006/SGS-Safeguards-03511-GB-18401-2010-A4-V2-EN-11.pdf
- Suede Fabric Supplier. (n.d.). Analisis Masalah Umum Kain Tekstil yang Tidak Lulus Uji dan Cara Mengatasinya. Retrieved from https://id.suedefabricsupplier.com/news/analysis-of-common-problems-of-textile-fabrics-80117031.html
- PT Hyprowira Adhitama. (n.d.). Faktor yang Mempengaruhi pH. Retrieved from https://hyprowira.com/blog/faktor-yang-mempengaruhi-ph
- Hanna Instruments. (n.d.). Manual Produk HI2002 edge®.
- ISO. (2020). ISO 3071:2020 — Textiles — Determination of pH of aqueous extract. Preview resmi via iTeh. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/74203/98ed63e018be40a0a27aac13596366c9/ISO-3071-2020.pdf
- Standardization Administration of China. (2010). GB 18401-2010. Retrieved from https://openstd.samr.gov.cn/bzgk/std/newGbInfo?hcno=52C1F4CBDE863F5095D7C9D17F8E3F71
- OEKO-TEX Association. (n.d.). OEKO-TEX STANDARD 100. Retrieved from https://www.oeko-tex.com/en/our-standards/oeko-tex-standard-100
- MDPI. (n.d.). Publikasi tentang batas pH efluen dan efisiensi proses tekstil. Dikutip dalam Beta Pramesti Asia (ref. 1).
- Hanna Instruments. (n.d.). Manual resmi HI2002 edge®.
- U.S. Environmental Protection Agency. (2023). ATMP — EQ-01-10 Calibration and Maintenance of pH Meters. Retrieved from https://www.epa.gov/system/files/documents/2023-01/EQ-01-10.pdf





