- Mengapa Fluktuasi COD pada Air Limbah HPAL Menjadi Masalah Kritis?
- Faktor Operasional Utama Penyebab Fluktuasi COD pada Proses HPAL
- Dampak Gabungan Faktor Operasional terhadap Profil COD Effluent
- Strategi Mengukur dan Memantau COD Air Limbah HPAL Secara Efektif
- Panduan Stabilisasi COD Air Limbah HPAL: Langkah-Langkah Praktis
- Rekomendasi Alat Ukur COD untuk Aplikasi HPAL: HI97106 sebagai Jawaban
- Kesimpulan
- Referensi
Mengapa Fluktuasi COD pada Air Limbah HPAL Menjadi Masalah Kritis?
Dalam industri pengolahan nikel laterit menggunakan metode High-Pressure Acid Leach (HPAL), fluktuasi Chemical Oxygen Demand (COD) pada air limbah merupakan salah satu tantangan operasional yang paling kompleks dan berpotensi menimbulkan risiko kepatuhan lingkungan yang serius. Data dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Rekayasa Hijau menunjukkan bahwa kadar COD pada air limbah HPAL dapat bervariasi secara ekstrem dari 23,7 mg/L hingga 547 mg/L dalam periode pengamatan tujuh hari [1]. Rentang fluktuasi dengan rasio hampir 1:20 ini menciptakan ketidakpastian yang signifikan bagi para environmental engineer dan operator plant dalam mengelola sistem pengolahan air limbah.
Permasalahan ini menjadi semakin kritis mengingat Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 5 Tahun 2014 menetapkan baku mutu COD maksimum untuk kegiatan pertambangan bijih nikel sebesar 100 mg/L [2]. Dengan rentang fluktuasi yang mencapai 547 mg/L, terdapat potensi nyata pelanggaran baku mutu yang dapat berakibat pada sanksi administratif, denda, hingga pencabutan izin lingkungan. PT Vale Indonesia, sebagai salah satu operator HPAL terbesar di Indonesia, secara konsisten menunjukkan bahwa pengelolaan air limbah yang sesuai standar merupakan prioritas utama dalam operasional mereka [3]. Namun demikian, fluktuasi yang tidak terkendali tetap menjadi ancaman yang memerlukan pemahaman mendalam dan strategi mitigasi yang tepat.
Regulasi dan Batasan COD untuk Limbah Pertambangan Nikel
Baku mutu COD sebesar 100 mg/L sebagaimana ditetapkan dalam Permen LHK No. 5/2014 bukanlah angka yang diambil secara arbitrer. Nilai ini ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah tentang daya dukung lingkungan perairan dan kemampuan teknologi pengolahan air limbah yang tersedia [2]. Penting untuk dipahami bahwa baku mutu ini bersifat mengikat dan pelanggarannya dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Data dari lapangan menunjukkan bahwa tanpa strategi stabilisasi yang tepat, fluktuasi COD harian pada limbah HPAL dapat dengan mudah melampaui ambang batas ini. Penelitian yang dilakukan pada limbah cair industri serupa mencatat bahwa nilai COD rata-rata berada pada kisaran 179 mg/L [1], yang berarti secara rata-rata sudah melampaui baku mutu yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan pengendalian COD bukanlah isu yang dapat diabaikan, melainkan memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan di industri pertambangan nikel.
Dampak Operasional dan Lingkungan dari COD Tidak Stabil
Fluktuasi COD yang tidak terkendali membawa konsekuensi operasional yang signifikan. Sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dirancang untuk beban kontaminan tertentu akan mengalami inefisiensi ketika dihadapkan pada fluktuasi ekstrem [4]. Ketika konsentrasi COD tiba-tiba melonjak, dosis koagulan dan flokulan yang sebelumnya optimal menjadi tidak memadai, menyebabkan penurunan efisiensi pengolahan dan potensi pelepasan limbah yang belum terolah ke badan air penerima.
Dari sisi finansial, ketidakstabilan COD menyebabkan pemborosan reagen kimia karena operator cenderung memberikan dosis yang lebih tinggi dari kebutuhan sebagai tindakan pencegahan. Lebih jauh lagi, risiko dumping limbah tak terolah dapat mengakibatkan kerusakan reputasi perusahaan dan hilangnya kepercayaan dari masyarakat serta regulator. Pengalaman dari praktisi di industri pertambangan menunjukkan bahwa insiden lingkungan akibat fluktuasi parameter limbah yang tidak terkontrol seringkali berujung pada penghentian operasi sementara dan biaya remediasi yang besar [5]. Oleh karena itu, memahami akar penyebab fluktuasi COD bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan imperatif bisnis yang strategis.
Faktor Operasional Utama Penyebab Fluktuasi COD pada Proses HPAL
Setelah memahami urgensi pengendalian COD, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor operasional yang menjadi akar penyebab fluktuasi. Proses HPAL melibatkan serangkaian reaksi kimia dan fisik yang kompleks pada suhu tinggi, dan setiap perubahan parameter operasi dapat berdampak langsung pada profil COD effluent. Berdasarkan dokumentasi teknis dari berbagai sumber dan pengalaman operator HPAL global, terdapat empat faktor utama yang perlu mendapat perhatian.
Variabilitas Komposisi Bijih Laterit (Limonit vs Saprolit)
Salah satu karakteristik paling menantang dari deposit nikel laterit adalah heterogenitasnya yang ekstrem. Bijih laterit terdiri dari dua lapisan utama dengan komposisi mineralogi yang sangat berbeda: lapisan limonit di permukaan yang kaya akan besi (Fe) dan nikel kadar rendah, serta lapisan saprolit di bawahnya yang kaya akan magnesium (Mg) dan nikel kadar tinggi [6]. Setiap jenis bijih ini bereaksi secara berbeda terhadap proses pelindian asam.
Bijih limonit dengan kadar Fe tinggi membutuhkan konsumsi asam yang lebih besar dan menghasilkan residu padatan berupa hematit dan goethit dalam jumlah signifikan. Sebaliknya, bijih saprolit dengan kadar Mg tinggi mengkonsumsi asam dalam jumlah yang lebih besar per ton bijih dan menghasilkan limbah dengan karakteristik kimia yang berbeda. Variabilitas ini menyebabkan perubahan beban organik dan anorganik yang masuk ke sistem effluent [7].
Presentasi ALTA 2022 secara spesifik menekankan bahwa variabilitas solids density umpan pompa akibat perubahan komposisi bijih merupakan penyebab utama fluktuasi NPSHa (Net Positive Suction Head available) yang berujung pada flashing dan ketidakstabilan hidrolik [8]. Dalam praktiknya, ketika plant beralih dari umpan limonit ke saprolit atau sebaliknya, profil COD effluent dapat berubah secara dramatis dalam hitungan jam tanpa adanya perubahan parameter operasi lainnya.
Fluktuasi Parameter Autoklaf: Suhu, Tekanan, dan Konsentrasi Asam
Operasi autoklaf HPAL berlangsung pada kondisi yang sangat ketat: suhu 225–250°C dan tekanan 4–5 MPa [9]. Pada kondisi ini, reaksi pelindian berlangsung sangat cepat dan sensitif terhadap perubahan parameter. Fluktuasi suhu sekecil 5–10°C dapat mengubah laju reaksi dan distribusi produk samping yang akhirnya mempengaruhi komposisi kimia effluent.
Konsentrasi asam sulfat merupakan parameter yang paling kritis dalam konteks ini. Asam sulfat yang digunakan sebagai reagen pelindian tidak hanya melarutkan nikel dan kobalt, tetapi juga bereaksi dengan mineral pengotor menghasilkan senyawa yang berkontribusi terhadap COD. Ketika konsentrasi asam tidak stabil akibat variasi umpan atau masalah pada sistem dosing, senyawa organik dan anorganik yang terlarut dalam limbah akan bervariasi secara proporsional [10]. Kondisi ini menciptakan hubungan langsung antara fluktuasi dosis asam dengan fluktuasi COD effluent.
Reaksi hidrolisis besi yang terjadi pada kondisi autoklaf juga berperan penting. Besi yang terlarut dari bijih akan mengalami hidrolisis membentuk hematit (Fe₂O₃) dan melepaskan asam kembali ke larutan. Jika reaksi hidrolisis ini terganggu akibat perubahan suhu atau konsentrasi, ion besi terlarut yang tidak terpresipitasi akan ikut terhitung sebagai COD karena sifatnya yang dapat teroksidasi dalam kondisi pengujian [9].
Scaling pada Heater Train dan Carry-Over Asam dari Flash Tank
Salah satu tantangan operasional yang paling sering dihadapi pada plant HPAL adalah fenomena scaling pada heater train. Sebelum slurry bijih memasuki autoklaf, slurry dipanaskan melalui serangkaian heater menggunakan steam. Pada suhu di atas 100°C, terjadi pre-leaching yang tidak terkendali yang menyebabkan presipitasi senyawa besi dan aluminium pada permukaan heater [8]. Scaling ini tidak hanya mengurangi efisiensi perpindahan panas, tetapi juga secara periodik terlepas dan terbawa ke sistem effluent.
Lebih lanjut, sistem flash tank yang dirancang untuk menurunkan tekanan secara bertahap dari autoklaf seringkali mengalami carry-over asam dan padatan. Caldera Engineering, sebagai spesialis komponen pressure let-down untuk HPAL, mendokumentasikan bahwa desain flash tank yang tidak optimal dapat menyebabkan carry-over partikel halus dan asam sulfat secara signifikan ke sistem netralisasi dan pengolahan limbah [11]. Carry-over ini menjadi sumber kontribusi COD yang tidak terduga karena volume dan konsentrasinya bervariasi tergantung pada kondisi operasi autoklaf.
Perubahan Laju Umpan dan Densitas Padatan ke Autoklaf
Parameter hidrolik dari sistem umpan slurry ke autoklaf seringkali diabaikan sebagai faktor yang mempengaruhi COD, namun data dari operasi nyata menunjukkan sebaliknya. Variasi laju umpan slurry dan densitas padatan menyebabkan ketidakstabilan hidrolik yang berdampak langsung pada profil effluent [8].
Perubahan densitas padatan, yang sering terjadi akibat variasi komposisi bijih, mempengaruhi NPSHa pompa umpan autoklaf. Ketika NPSHa turun di bawah nilai kritis, terjadi flashing pada pompa yang menyebabkan fluktuasi aliran dan distribusi waktu tinggal yang tidak merata. Akibatnya, sebagian slurry mungkin mengalami pelindian berlebih sementara bagian lainnya kurang terlindi, menciptakan variasi komposisi limba yang akhirnya terdeteksi sebagai fluktuasi COD.
Dampak Gabungan Faktor Operasional terhadap Profil COD Effluent
Interaksi antara berbagai faktor operasional di atas menghasilkan pola fluktuasi COD yang kompleks dan sulit diprediksi dengan pendekatan linier sederhana. Misalnya, perubahan komposisi bijih (faktor 1) dapat mengubah konsumsi asam (faktor 2) yang kemudian mempengaruhi derajat scaling di heater (faktor 3) dan akhirnya mengubah karakteristik slurry yang masuk ke autoklaf (faktor 4). Masing-masing faktor ini saling memperkuat dan menghasilkan efek multiplikatif.
Data dari penelitian yang dipublikasikan melalui ResearchGate mengkonfirmasi bahwa fluktuasi COD harian pada limbah HPAL tidak hanya besar dalam rentang absolut, tetapi juga menunjukkan pola yang tidak menentu dengan puncak-puncak yang muncul secara tiba-tiba [12]. kondisi ini sangat membingungkan operator yang mengandalkan parameter operasi yang stabil. Lebih lanjut, penelitian tersebut menekankan bahwa setiap plant HPAL memiliki karakteristik fluktuasi yang unik tergantung pada sumber bijih, konfigurasi peralatan, dan praktik operasional yang diterapkan [12].
Pemahaman bahwa fluktuasi COD merupakan hasil dari interaksi multifaktor sangat penting. Tidak ada solusi tunggal yang dapat mengatasi seluruh sumber variabilitas. Sebaliknya, pendekatan sistematis yang mengintegrasikan pengendalian di setiap titik kritis proses diperlukan untuk mencapai stabilisasi yang berkelanjutan.
Strategi Mengukur dan Memantau COD Air Limbah HPAL Secara Efektif
Sebelum dapat mengendalikan fluktuasi COD, langkah pertama yang paling fundamental adalah kemampuan untuk mengukurnya secara akurat dan tepat waktu. Pengukuran COD pada limbah HPAL menghadirkan tantangan unik yang membedakannya dari pengukuran pada air limbah industri lainnya.
Tantangan Unik Pengukuran COD pada Limbah HPAL
Matriks limbah HPAL mengandung beberapa interferen yang dapat mengganggu akurasi pengukuran COD. Klorida merupakan interferen utama karena ion klorida dapat teroksidasi oleh dikromat dalam kondisi digesti asam, memberikan hasil COD yang lebih tinggi dari nilai sebenarnya. Limbah HPAL seringkali mengandung klorida dalam konsentrasi signifikan karena penggunaan air laut atau air tanah payau sebagai air proses [13].
Selain klorida, kandungan logam berat terlarut seperti besi (Fe), nikel (Ni), dan kobalt (Co) pada limbah HPAL juga dapat berkontribusi terhadap nilai COD. Logam-logam ini dalam kondisi teroksidasi dapat bereaksi dengan reagen digesti, menciptakan bias positif pada hasil pengukuran. Lebih lanjut, padatan tersuspensi dalam konsentrasi tinggi dapat menghalangi transmisi cahaya pada photometer, sementara suhu sampel yang masih tinggi dari proses memerlukan pendinginan yang memadai sebelum pengujian dapat dilakukan.
Dari segi rentang pengukuran, tantangan terbesar adalah fluktuasi COD yang mencapai rasio 1:20. Metode pengukuran dengan satu rentang tidak akan mampu mengakomodasi variasi ini tanpa pengenceran berulang yang memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan. Inilah mengapa pemilihan alat ukur yang tepat menjadi sangat krusial.
COD Photometer HI97106: Solusi Multi-Range untuk Fluktuasi Ekstrem
Hanna Instruments HI97106 hadir sebagai solusi yang dirancang khusus untuk mengatasi tantangan pengukuran COD pada matriks limbah kompleks dengan fluktuasi lebar. Photometer portabel ini menawarkan empat rentang pengukuran yang dapat dipilih secara manual: Low Range (0–150 mg/L), Medium Range (0–1500 mg/L), High Range (0–15000 mg/L), dan Ultra High Range (0–60.000 mg/L atau 60 g/L) [14].
Keunggulan paling signifikan dari HI97106 untuk aplikasi HPAL adalah rentang Ultra High yang mencapai 60 g/L. Dengan rentang ini, operator dapat mengukur sampel limbah dengan COD sangat tinggi secara langsung tanpa perlu melakukan pengenceran terlebih dahulu. Hal ini menghemat waktu analisis yang sangat berharga, terutama ketika respons cepat diperlukan untuk pengambilan keputusan operasional.
HI97106 mengadaptasi metode US EPA 410.4 sebagai dasar pengukurannya, memberikan jaminan bahwa hasil yang diperoleh sesuai dengan standar internasional yang diakui [14]. Selain itu, akurasi yang dijamin oleh produsen adalah ±150 mg/L atau ±2% dari pembacaan untuk High Range pada 25°C, yang sangat memadai untuk aplikasi monitoring operasional. Dengan IP67 waterproof dan floating case, alat ini juga tahan terhadap lingkungan asam dan debu yang khas di area penambangan dan pengolahan nikel.
Panduan Stabilisasi COD Air Limbah HPAL: Langkah-Langkah Praktis
Dengan pemahaman yang komprehensif tentang penyebab fluktuasi dan kemampuan pengukuran yang akurat, langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan strategi stabilisasi yang sistematis. Pendekatan multi-tahap yang mencakup pengendalian di hulu hingga hilir merupakan kunci keberhasilan.
Pengendalian Hulu: Optimasi Blending Bijih dan Parameter Autoklaf
Strategi paling efektif untuk mengurangi fluktuasi COD dimulai dari hulu proses. Blending bijih antara limonit dan saprolit yang konsisten merupakan langkah pertama yang paling penting. Dengan menjaga rasio blending yang tetap, variasi komposisi umpan yang menjadi sumber utama fluktuasi dapat diminimalkan secara signifikan [8].
Pengalaman dari operator HPAL global menunjukkan bahwa blending yang baik tidak hanya menstabilkan konsumsi asam, tetapi juga mengurangi variasi densitas padatan dan mineralogi umpan [6]. Beberapa plant bahkan mengimplementasikan sistem blending otomatis berbasis data real-time dari alat XRF untuk memastikan konsistensi umpan sepanjang waktu.
Optimasi parameter autoklaf juga memegang peran kunci. Menjaga suhu autoklaf pada kisaran sempit di sekitar set point 245°C, tekanan pada 4,5 MPa, serta konsentrasi asam yang tepat dapat mengurangi variasi produk samping yang berkontribusi terhadap COD. Sistem kontrol proses yang baik dengan feedback dari quality analyzer dapat membantu mencapai konsistensi ini.
Pengolahan Hilir: Equalization Basin, Netralisasi, dan Koagulasi/Flokulasi
Meskipun pengendalian hulu telah dioptimalkan, fluktuasi COD masih dapat terjadi. Oleh karena itu, desain sistem pengolahan hilir yang robust sangat diperlukan. Equalization basin merupakan komponen paling kritis dalam meredam fluktuasi beban COD [4]. Basin yang dirancang dengan kapasitas memadai, idealnya setara dengan volume produksi limbah selama 8–24 jam, dapat meratakan konsentrasi COD sebelum masuk ke unit pengolahan berikutnya.
Setelah equalization, netralisasi dengan limestone merupakan langkah standar pada limbah HPAL yang bersifat asam. Proses netralisasi tidak hanya menaikkan pH, tetapi juga mengendapkan sebagian logam berat yang dapat berkontribusi terhadap COD. Pemberian dosis limestone yang terkontrol berdasarkan pH real-time dapat menjaga efisiensi netralisasi yang stabil [5].
Koagulasi dan flokulasi dengan aluminium sulfat atau koagulan lainnya merupakan langkah lanjutan yang efektif untuk mengikat bahan organik dan anorganik yang terlarut maupun tersuspensi menjadi flok yang mudah diendapkan [4]. GreenChem mencatat bahwa koagulasi yang tepat dapat menurunkan COD secara signifikan dengan mengkontaminan yang mudah diendapkan. Efisiensi koagulasi sangat bergantung pada pH dan dosis yang tepat, sehingga monitoring yang akurat menjadi kunci.
Monitoring Real-Time sebagai Kunci Stabilisasi Berkelanjutan
Tidak ada strategi stabilisasi yang akan berhasil tanpa sistem monitoring yang memadai. Fluktuasi COD yang terjadi secara tiba-tiba memerlukan deteksi dini agar tindakan korektif dapat segera diambil. Inilah peran krusial dari alat ukur COD portabel seperti HI97106.
Dengan kemampuannya untuk memberikan hasil pengukuran dalam hitungan menit, HI97106 memungkinkan operator untuk melakukan troubleshooting langsung di lapangan. Fitur auto-logging yang menyimpan hingga 200 data pengukuran memudahkan analisis tren dan identifikasi pola fluktuasi dari waktu ke waktu [14]. Selain itu, daya tahan baterai yang melebihi 10.000 pengukuran memastikan alat ini siap digunakan kapan pun dibutuhkan tanpa khawatir kehabisan daya.
Penggunaan HI97106 secara rutin, misalnya setiap 2–4 jam atau lebih sering saat terjadi perubahan kondisi umpan, memberikan data yang cukup untuk mengidentifikasi korelasi antara fluktuasi COD dengan perubahan parameter operasi. Data inilah yang menjadi dasar untuk pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
Rekomendasi Alat Ukur COD untuk Aplikasi HPAL: HI97106 sebagai Jawaban
Berdasarkan seluruh analisis yang telah dilakukan, COD Photometer HI97106 dari Hanna Instruments merupakan pilihan yang paling tepat untuk aplikasi monitoring COD pada limbah HPAL. Kombinasi empat rentang pengukuran yang mencakup hingga 60 g/L, ketahanan terhadap lingkungan keras (IP67), akurasi yang tinggi, serta kemudahan penggunaan menjadikannya alat yang ideal untuk kondisi fluktuasi ekstrem yang khas pada industri ini.
Dibandingkan dengan alternatif lain di pasar, HI97106 menawarkan keunggulan kompetitif yang signifikan. Produk kompetitor dari Lovibond dan CHEMetrics memang memiliki performa yang baik untuk aplikasi umum, namun tidak ada yang menawarkan rentang Ultra High hingga 60 g/L yang sangat relevan untuk limbah HPAL dengan COD yang sangat fluktuatif [14]. Kehadiran distributor resmi Hanna Instruments di Indonesia juga menjadi nilai tambah dalam hal ketersediaan reagen, dukungan teknis, dan layanan kalibrasi.
Dengan mengintegrasikan HI97106 ke dalam sistem monitoring rutin plant, operator dapat mengidentifikasi tren fluktuasi lebih awal, mengambil tindakan korektif lebih cepat, dan pada akhirnya menjaga kepatuhan terhadap baku mutu lingkungan yang berlaku.
Kesimpulan
Fluktuasi COD pada air limbah proses HPAL nikel laterit merupakan masalah kompleks yang berakar pada interaksi multifaktor operasional, mulai dari variabilitas komposisi bijih, fluktuasi parameter autoklaf, scaling dan carry-over, hingga perubahan laju umpan. Memahami hubungan kausal antara faktor-faktor ini dengan profil COD effluent merupakan langkah pertama yang paling penting dalam upaya stabilisasi.
Strategi pengendalian yang efektif memerlukan pendekatan multi-tahap yang mencakup pengendalian hulu melalui blending bijih dan optimasi autoklaf, pengolahan hilir melalui equalization basin, netralisasi, dan koagulasi/flokulasi, serta sistem monitoring yang akurat dan responsif. Tanpa pemahaman yang mendalam tentang penyebab fluktuasi dan alat ukur yang tepat, upaya stabilisasi akan selalu bersifat reaktif dan tidak efektif.
Untuk memastikan monitoring COD yang akurat dan andal di plant HPAL Anda, gunakan COD Photometer HI97106. Hubungi distributor resmi Hanna Instruments Indonesia untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan.
Rekomendasi Photometer
Photometer
Photometer
CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur serta instrumen pengujian terpercaya di Indonesia, khusus dalam melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri. Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam menyediakan solusi pengukuran untuk sektor pertambangan, manufaktur, dan lingkungan, kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial yang terkait dengan monitoring kualitas air limbah. Hubungi kami untuk konsultasi solusi bisnis dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda.
Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan ahli lingkungan atau teknisi proses. Untuk informasi produk HI97106, hubungi distributor resmi.
Referensi
- Tim Peneliti Rekayasa Hijau. (2024). Analisis Fluktuasi Kadar COD pada Air Limbah Proses High-Pressure Acid Leaching (HPAL) Nikel Laterit. Jurnal Rekayasa Hijau: Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan. Diperoleh dari https://ejurnal.itenas.ac.id/index.php/tekno/article/download/14227/4429/
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia.
- PT Vale Indonesia. (2022). Ringkasan Eksekutif PT Vale 2022 – Pengelolaan Lingkungan. Diperoleh dari https://www.ptvale.com/media/2414/ringkasan-eksekutif-2022.pdf
- GreenChem Indonesia. (N.D.). BOD dan COD: Pengertian, Metode Pengukuran, serta Cara Menurunkan Kadarnya di Air Limbah. Diperoleh dari https://www.greenchem.co.id
- PT Saka Energi. (N.D.). BOD dan COD dalam Limbah Pertambangan. Diperoleh dari https://www.saka.co.id
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. (N.D.). Data Karakteristik Bijih Nikel Indonesia.
- Azramedia Indonesia. (N.D.). Review Proses Ekstraksi Nikel Laterit: HPAL, RKEF, dan Blast Furnace. Diperoleh dari https://www.azramedia-indonesia.com
- ALTA Metallurgical Services. (2022). Keynote Presentation: High Pressure Acid Leach (HPAL) Design and Operations – 25 Years of Experience. ALTA 2022 Nickel-Cobalt-Copper Conference. Diperoleh dari https://d3e2i5nuh73s15.cloudfront.net
- ScienceDirect Topics. (N.D.). High Pressure Acid Leaching – An Overview. Elsevier. Diperoleh dari https://www.sciencedirect.com/topics/engineering/high-pressure-acid-leaching
- GEM Indonesia. (N.D.). Dokumentasi Teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL). Diperoleh dari https://www.gemindonesia.com
- Caldera Engineering. (N.D.). Pressure Letdown Systems and Slurry Handling for HPAL Applications.
- ResearchGate Publication. (2024). Analisis Fluktuasi Kadar COD pada Air Limbah Proses High-Pressure Acid Leaching (HPAL) Nikel Laterit. Diperoleh dari https://www.researchgate.net/publication/388677067
- Badan Standardisasi Nasional. (2019). SNI 6989.2:2019 – Air dan Air Limbah – Bagian 2: Cara Uji Chemical Oxygen Demand (COD) dengan Refluks Tertutup secara Spektrofotometri. BSN.
- Hanna Instruments. (N.D.). HI97106 Chemical Oxygen Demand (COD) Portable Photometer – Product Specifications. Diperoleh dari https://www.hannainst.id/product/hi97106-chemical-oxygen-demand-portable-photometer-hanna-instruments/





