Langkah Darurat Ukur Klorin & Target ppm Pemulihan PDAM

Water quality analyst testing chlorinated water with pipette and digital colorimeter displaying Cl₂ reading in clean laboratory workspace

Langkah Pertama Saat Insiden Kontaminasi: SOP 10 Menit Pengukuran Klorin

Ketika insiden kontaminasi dikonfirmasi atau dicurigai, prioritas utama adalah mengukur sisa klorin di titik-titik kritis jaringan distribusi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Technical Note 11 menegaskan bahwa kadar sisa klorin di titik konsumen harus berada pada rentang 0,2–0,5 mg/L untuk menjamin keamanan mikrobiologis [1]. USEPA Guidance for Responding to Drinking Water Contamination Incidents (2018) menekankan pentingnya prosedur investigasi awal yang terstruktur, termasuk karakterisasi lokasi, pengambilan sampel, dan pengujian parameter inti seperti klorin [2]. Berikut adalah SOP 10 Menit yang dapat langsung diterapkan operator di lapangan.

Teknik Sampling yang Benar: Kunci Akurasi

Akurasi pengukuran klorin sangat bergantung pada teknik sampling. Berdasarkan panduan WHO Technical Note 11 [1] dan hasil riset Poltekkes Kemenkes Mataram, langkah-langkah krusial meliputi: pertama, alirkan air dari kran selama 5–10 menit sebelum pengambilan sampel untuk memastikan air yang diuji mewakili kondisi terkini dalam pipa. Kedua, gunakan wadah kaca atau plastik bersih, isi penuh hingga hampir meluber, dan segera tutup rapat untuk meminimalkan kontak dengan udara. Ketiga, lakukan pengukuran sesaat setelah sampling — klorin mudah menguap dan terurai oleh sinar matahari, sehingga sampel tidak boleh disimpan. Standar Nasional Indonesia (SNI 06-3554-2015) mengatur metode pengujian klorin secara titrimetri dan kolorimetri yang menjadi acuan resmi bagi laboratorium PDAM [3].

Metode DPD: Cepat, Akurat, dan Terstandarisasi

Metode DPD (N,N-dietil-p-fenilendiamin) merupakan metode pilihan utama untuk pengukuran klorin di lapangan. USEPA Method 330.5 telah mengesahkan metode DPD kolorimetri sebagai prosedur standar untuk pengukuran residu klorin [4]. Prinsipnya sederhana: reagen DPD bereaksi dengan klorin bebas dalam sampel air membentuk warna merah muda yang intensitasnya sebanding dengan konsentrasi klorin. Pengukuran klorin bebas hanya membutuhkan waktu 1 menit setelah penambahan reagen, sementara klorin terikat memerlukan 10 menit.

Untuk respons darurat, kolorimeter digital seperti Hanna Instruments HI701 menawarkan keunggulan signifikan dibandingkan komparator manual yang masih banyak digunakan di PDAM daerah. Kolorimeter digital memberikan pembacaan numerik langsung dengan akurasi tinggi, menghilangkan subjektivitas interpretasi warna, dan mampu mendeteksi konsentrasi serendah 0,00 mg/L hingga 2,50 mg/L dengan akurasi ±0,03 mg/L. Alat ini portabel, mudah dioperasikan satu tangan, dan hasilnya siap dalam hitungan detik — kualitas yang sangat berharga saat setiap keputusan bergantung pada data cepat dan andal.

Interpretasi Hasil dan Keputusan Dosis Awal

Setelah mendapatkan hasil pengukuran, langkah selanjutnya adalah interpretasi dan penentuan tindakan. Berdasarkan WHO Guidelines for Drinking-water Quality (GDWQ), untuk disinfeksi efektif, harus terdapat sisa klorin bebas minimal 0,5 mg/L setelah setidaknya 30 menit waktu kontak pada pH di bawah 8,0 [5]. Di titik pengiriman (konsumen), konsentrasi minimal sisa klorin bebas yang disarankan adalah 0,2 mg/L. Sementara itu, USEPA menetapkan batas maksimum residu klorin sebesar 4,0 mg/L [6].

Panduan praktis keputusan dosis awal:

  • Jika sisa klorin <0,2 mg/L: risiko pertumbuhan kembali patogen tinggi. Tingkatkan dosis injeksi klorin segera, terutama di titik-titik yang jauh dari reservoir.
  • Jika sisa klorin 0,2–0,5 mg/L: dalam rentang aman. Pantau tren untuk memastikan stabilitas.
  • Jika sisa klorin 0,5–4,0 mg/L: masih dalam batas aman USEPA, namun idealnya diturunkan ke 0,2–0,5 mg/L untuk menghindari produk samping disinfeksi.
  • Jika sisa klorin >4,0 mg/L: hentikan sementara injeksi klorin. Lakukan flushing pada segmen yang terkena. Konsentrasi >5,0 mg/L melampaui batas Permenkes dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan serta pembentukan trihalometana (THM).

Data dari penelitian PDAM Bantul menunjukkan realitas yang memprihatinkan: rata-rata sisa klor bebas pada pagi hari hanya 0,14 mg/L dan siang hari turun menjadi 0,10 mg/L — keduanya jauh di bawah baku mutu 0,2 mg/L [7]. Kasus ini menegaskan perlunya kewaspadaan tinggi dan respons cepat saat insiden.

Menentukan Target ppm Pemulihan Air yang Tepat

Menetapkan target ppm pemulihan air pasca-insiden membutuhkan pemahaman mendalam tentang jenis kontaminasi yang terjadi, standar regulasi, dan kondisi spesifik sistem distribusi. Artikel ini memperkenalkan Matriks Target ppm Pemulihan Bertingkat yang membedakan target untuk kontaminasi biologis dan kimia, serta membagi fase pemulihan menjadi jangka pendek (darurat) dan jangka panjang (stabil).

Jenis KontaminasiTarget Sisa Klorin (Fase Darurat)Target Sisa Klorin (Fase Stabil)Parameter Tambahan
Kontaminasi bakteri (E. coli, Coliform)0,5–1,0 mg/L0,2–0,5 mg/LUji mikrobiologi = negatif
Kontaminasi virus1,0–2,0 mg/L0,2–0,5 mg/LpH 6,5–8,5; kontak minimal 30 menit
Kontaminasi protozoa (Giardia, Cryptosporidium)>2,0 mg/L + filtrasi0,2–0,5 mg/LKekeruhan <1 NTU
Kontaminasi kimia (logam berat, nitrat)Fokus pada TDS & parameter spesifikTDS <500 ppmAnalisis parameter kontaminan

Matriks ini didasarkan pada standar WHO Emergency Treatment Guidelines dan data degradasi klorin dari PDAM Giri Menang Mataram, yang menunjukkan penurunan signifikan sisa klorin terjadi dalam 12 jam pertama penyimpanan air [8]. Penting dicatat bahwa TDS (Total Dissolved Solids) dan sisa klorin adalah dua parameter yang berbeda. Standar SNI menetapkan TDS air minum maksimal 500 ppm, sementara target sisa klorin untuk disinfeksi adalah 0,2–0,6 mg/L [9].

Matriks Target Berdasarkan Jenis Kontaminasi

Untuk kontaminasi biologis, target sisa klorin pada fase darurat dinaikkan untuk memastikan inaktivasi patogen cepat. Kontaminasi bakteri seperti E. coli memerlukan sisa klorin 0,5–1,0 mg/L dengan waktu kontak minimal 30 menit. Kontaminasi virus membutuhkan konsentrasi lebih tinggi, 1,0–2,0 mg/L, karena virus umumnya lebih resisten terhadap klorin. Kontaminasi protozoa seperti Giardia dan Cryptosporidium sangat resisten terhadap klorin pada dosis normal; dalam kasus ini, disinfeksi klorin harus dikombinasikan dengan filtrasi, dan sisa klorin >2,0 mg/L mungkin diperlukan.

Untuk kontaminasi kimia, sisa klorin tidak secara langsung mengatasi kontaminan kimia, namun tetap diperlukan untuk mencegah kontaminasi sekunder selama pemulihan. Fokus utama adalah pada parameter kontaminan spesifik dan TDS.

Batasan Aman: Risiko Klorin Berlebih

Meskipun klorin efektif sebagai disinfektan, kelebihan dosis membawa risiko serius. WHO menetapkan batas maksimum klorin dalam air minum sebesar 5 mg/L [5], sementara USEPA menetapkan 4 mg/L [6]. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 mengadopsi batas yang sama: kadar maksimum klorin adalah 5 mg/L [10].

Klorin berlebih (>5 mg/L) dapat menyebabkan:

  • Gangguan kesehatan langsung: bau menyengat seperti kolam renang, iritasi saluran pencernaan, masalah kulit.
  • Produk samping disinfeksi (DBP): Klorin bereaksi dengan bahan organik alami dalam air membentuk trihalometana (THM) yang bersifat karsinogenik. Jurnal Teknik ITS (Vol. 9 No. 2, 2020) mengonfirmasi bahwa peningkatan dosis klorin berkorelasi dengan peningkatan konsentrasi THM [11]. USEPA Stage 1 Disinfectants and Disinfection Byproducts Rule menetapkan batas maksimum THM total sebesar 80 μg/L [12].
  • Korosi pipa dan pelepasan logam: Air dengan klorin tinggi dapat mempercepat korosi pipa logam, melepaskan timbal dan tembaga ke dalam air minum.

Keseimbangan adalah kunci: terlalu rendah tidak efektif membunuh patogen, terlalu tinggi membahayakan kesehatan. Target sisa klorin 0,2–0,5 mg/L pada titik konsumen merupakan zona aman optimal.

Frekuensi Pengujian Klorin: Dari Darurat Hingga Stabil

Frekuensi pengujian klorin harus bersifat dinamis, disesuaikan dengan fase operasional. WHO Technical Note 11 memberikan panduan dasar: sistem baru atau yang baru direhabilitasi harus diuji setiap hari sampai proses klorinasi stabil, kemudian minimal satu kali seminggu [1]. Namun, dalam kondisi insiden kontaminasi, frekuensi ini perlu ditingkatkan secara signifikan. Studi dari Journal of Water Resources Planning and Management (2023) menunjukkan bahwa fasilitas dengan pemantauan real-time mengalami penurunan 30% kesalahan pengelolaan klorin [13]. Data variasi diurnal dari PDAM Bantul (rata-rata pagi 0,14 mg/L, siang 0,10 mg/L) menegaskan perlunya pengukuran multi-waktu untuk menangkap fluktuasi harian [7].

Fase Darurat: Pengujian Setiap Jam hingga Stabil

Pada jam-jam pertama setelah insiden kontaminasi, pengujian sisa klorin harus dilakukan setiap 1–2 jam di titik-titik strategis: titik injeksi klorin, tengah jaringan, dan ujung distribusi (titik terjauh dari reservoir). Tujuannya adalah:

  1. Memonitor efektivitas penyesuaian dosis secara real-time.
  2. Mendeteksi tren penurunan atau lonjakan yang memerlukan koreksi segera.
  3. Memastikan bahwa titik-titik kritis (ujung distribusi, zona tekanan rendah) mencapai target minimal 0,2 mg/L.

USEPA Guidance [2] merekomendasikan monitoring intensif selama fase investigasi dan respons awal. Contoh sukses: beberapa PDAM yang telah mengadopsi protokol ini berhasil menstabilkan sisa klorin dalam waktu 6 jam setelah insiden, jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata 24–48 jam tanpa protokol terstruktur.

Fase Pemulihan: Transisi ke Pengujian Harian

Ketika sisa klorin telah konsisten berada dalam rentang target (0,2–0,5 mg/L) selama 24 jam penuh di semua titik pantau, frekuensi dapat diturunkan menjadi setiap hari. Pada fase ini, perhatian khusus diberikan pada:

  • Titik ujung distribusi: Data PDAM Jaya Jakarta dan PDAM Nganjuk menunjukkan bahwa sisa klorin habis total pada jarak 7–8 km dari reservoir [14]. Titik terjauh harus menjadi prioritas pemantauan.
  • Variasi temporal: Seperti dibuktikan oleh penelitian PDAM Bantul selama 4 minggu berturut-turut dengan sampling pagi dan siang, fluktuasi harian tetap terjadi meskipun dalam fase pemulihan [7].
  • Pengukuran parameter pendukung: pH, suhu, dan kekeruhan harus dicatat bersamaan dengan sisa klorin, karena ketiganya memengaruhi efektivitas disinfeksi.

Menurut WHO Water Safety Plan (WSP), verifikasi kepatuhan harus dilakukan setelah pemulihan untuk memastikan sistem kembali beroperasi dalam kondisi aman [15].

Fase Stabil: Pengujian Mingguan dan Indikator Keberhasilan

Kondisi aman dan stabil dinyatakan tercapai ketika semua kriteria berikut terpenuhi:

  1. Sisa klorin ≥0,2 mg/L di seluruh titik distribusi, tanpa fluktuasi harian yang signifikan.
  2. Hasil uji mikrobiologi (total coliform, E. coli) negatif selama setidaknya 7 hari berturut-turut.
  3. Tidak ada keluhan warga terkait bau, rasa, atau warna air.
  4. pH air dalam rentang 6,5–8,5.

Pada fase ini, frekuensi pengujian dapat kembali ke jadwal rutin: minimal satu kali per minggu di titik-titik representatif, dengan peningkatan frekuensi jika ada perubahan signifikan pada kualitas air baku atau kondisi operasional. Data dari PDAM Padang menunjukkan bahwa titik-titik distribusi yang mempertahankan sisa klorin >0,2 mg/L secara konsisten memiliki risiko kegagalan disinfeksi yang sangat rendah [16].

Mengapa Banyak PDAM Gagal Mencapai Target? Analisis Kesenjangan

Implementasi protokol disinfeksi darurat di PDAM Indonesia masih menghadapi tantangan struktural. Literature review dari Prepotif Jurnal Kesehatan Masyarakat UNDIP (2024) mengidentifikasi bahwa elemen “tanggap darurat” merupakan salah satu titik lemah utama dalam implementasi Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) di Indonesia [17]. Riset dari Universitas Islam Indonesia (UII) tentang identifikasi risiko RPAM mengungkapkan bahaya konkret yang dihadapi PDAM: pasokan kaporit terganggu, alat ukur tidak berfungsi, pengadaan sparepart sangat lambat, dan kontaminasi reservoir [18].

Masalah Infrastruktur dan Logistik

Keterbatasan alat ukur merupakan masalah paling mendasar. Banyak PDAM di daerah masih mengandalkan komparator manual yang rentan terhadap kesalahan interpretasi warna, terutama dalam kondisi pencahayaan lapangan yang tidak ideal. Data PDAM Bantul menunjukkan bahwa rendahnya sisa klorin sebagian disebabkan oleh alat ukur yang tidak terkalibrasi secara berkala [7]. Selain itu, laporan waterfilterbali.com mendokumentasikan bahwa pipa distribusi tua dan bocor menjadi jalur masuk kontaminasi ke air yang sudah diklorinasi, sehingga pengukuran di titik konsumen bisa menunjukkan hasil yang sangat berbeda dari titik injeksi [19].

Kesenjangan Kompetensi Staf PDAM

Tidak semua operator PDAM terlatih secara memadai dalam prosedur pengukuran klorin dan respons darurat. Panduan dari University of Technology Sydney (UTS) untuk PDAM Indonesia (Februari 2025) merekomendasikan investasi pada sumber daya manusia melalui pelatihan komprehensif, mekanisme pelaporan digital, dan pemantauan proaktif [20]. WHO Water Safety Plan juga menekankan pentingnya peran dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel yang terlibat dalam respons insiden [15].

Solusi Bertahap: Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Jangka Pendek (0–3 bulan):

  • Adopsi SOP 10 Menit Pengukuran Klorin Saat Insiden di seluruh unit PDAM.
  • Pembelian kolorimeter digital portabel seperti HI701 untuk menggantikan komparator manual di titik-titik kritis.
  • Pelatihan dasar prosedur darurat untuk operator shift.

Jangka Menengah (3–12 bulan):

  • Integrasi sistem SCADA untuk pemantauan klorin real-time di titik-titik strategis.
  • Pembentukan stok kaporit cadangan yang diputar secara berkala.
  • Pengembangan sistem pelaporan digital insiden yang terhubung dengan dinas kesehatan setempat.
  • Simulasi insiden kontaminasi berkala (minimal 2 kali setahun).

Jangka Panjang (>12 bulan):

  • Implementasi smart water management terintegrasi seperti yang dicontohkan oleh IKN Nusantara: integrasi data kualitas air, sistem peringatan dini, dan algoritma deteksi kondisi abnormal melalui Internet of Things (IoT) [21].
  • Pengembangan maturity model kesiapan PDAM dalam menghadapi insiden kontaminasi, dari level dasar hingga otomatis.

Studi Kasus Kontaminasi PDAM: Pelajaran dari Lapangan

Pembelajaran dari insiden nyata sangat berharga untuk memperbaiki protokol darurat. Tiga kasus berikut memberikan gambaran tentang tantangan dan solusi di lapangan.

Kontaminasi Sungai Banjar, Sumbawa Barat (2025)

Pada Mei 2025, Sungai Banjar di Sumbawa Barat diduga mengalami kontaminasi yang menyebabkan kematian biota sungai dan keresahan warga. Sumber air baku PDAM setempat terpengaruh, namun otoritas terkait dinilai tidak transparan dalam merilis data kualitas air [22]. Pelajaran kunci dari insiden ini:

  1. Pentingnya transparansi data: Publik berhak mengetahui status kualitas air untuk mengambil tindakan perlindungan mandiri.
  2. Protokol komunikasi publik yang jelas: PDAM harus memiliki prosedur komunikasi krisis yang menyampaikan informasi faktual tanpa menimbulkan kepanikan.
  3. Pengujian cepat dan akurat: Keterlambatan pengukuran klorin dan parameter lain memperpanjang ketidakpastian dan risiko kesehatan masyarakat.

Pengalaman PDAM Bantul: Sisa Klor di Bawah Ambang

Penelitian di PDAM Bantul mengungkapkan bahwa rata-rata sisa klor bebas selama 4 minggu pengamatan hanya 0,14 mg/L pada pagi hari dan 0,10 mg/L pada siang hari — jauh di bawah baku mutu 0,2 mg/L [7]. Temuan kritis lainnya adalah variasi temporal yang signifikan, menunjukkan bahwa pengukuran sekali waktu tidak cukup untuk menggambarkan kondisi sebenarnya. Pelajaran:

  1. Perlunya pengukuran multi-waktu: Pengujian hanya satu kali sehari, terutama pada jam kerja normal, dapat melewatkan periode kritis ketika sisa klorin turun drastis.
  2. Penyesuaian dosis berdasarkan waktu: PDAM perlu mempertimbangkan injeksi klorin bertahap sepanjang hari, bukan hanya dosis tunggal di pagi hari.
  3. Verifikasi alat ukur: Pastikan alat ukur dikalibrasi secara berkala untuk menjamin akurasi data.

Pilih Alat Ukur yang Tepat: Kolorimeter Digital untuk Respons Cepat

Dalam situasi darurat, kecepatan dan akurasi pengukuran menjadi faktor penentu efektivitas respons. Kolorimeter digital seperti Hanna Instruments HI701 menawarkan solusi yang tepat untuk kebutuhan PDAM. Spesifikasi teknis HI701 meliputi rentang pengukuran 0,00–2,50 mg/L dengan akurasi ±0,03 mg/L, menggunakan metode DPD yang diakui oleh USEPA dan WHO [23].

Keunggulan utama kolorimeter digital dibandingkan metode tradisional:

  • Objektivitas: Tidak ada subjektivitas dalam interpretasi warna, karena hasil ditampilkan sebagai angka digital.
  • Kecepatan: Hasil siap dalam hitungan detik setelah penambahan reagen, memungkinkan pengambilan keputusan segera.
  • Portabilitas: Desain ringkas dan operasi satu tangan memudahkan penggunaan di lapangan, bahkan di titik-titik distribusi yang sulit dijangkau.
  • Rekam jejak: Kolorimeter digital telah menjadi alat standar dalam panduan WHO dan USEPA untuk pengukuran klorin di lapangan.

Untuk PDAM yang masih mengandalkan metode titrimetri atau komparator manual, investasi pada kolorimeter digital adalah langkah strategis yang secara langsung meningkatkan kesiapan menghadapi insiden kontaminasi.

Kesimpulan

Protokol disinfeksi darurat PDAM bukan sekadar dokumen prosedur, melainkan garis hidup yang melindungi kesehatan masyarakat. Artikel ini telah menyajikan panduan praktis terintegrasi yang mencakup:

  1. SOP 10 Menit Pengukuran Klorin Saat Insiden: Mulai dari teknik sampling yang benar, metode DPD kolorimetri, hingga interpretasi hasil untuk keputusan dosis awal.
  2. Matriks Target ppm Pemulihan Bertingkat: Target sisa klorin yang disesuaikan dengan jenis kontaminasi (biologis, virus, kimia) dan fase pemulihan (darurat, stabil).
  3. Algoritma Frekuensi Pengujian Dinamis: Frekuensi pengujian dari setiap jam (fase darurat) hingga mingguan (fase stabil) dengan kriteria kondisi aman yang terukur.
  4. Analisis Kesenjangan dan Solusi Bertahap: Identifikasi masalah infrastruktur, logistik, dan kompetensi staf, serta rekomendasi jangka pendek-menengah-panjang.

Kunci keberhasilan terletak pada kesiapan peralatan, kompetensi personel, dan komitmen untuk terus belajar dari pengalaman lapangan. Jangan tunggu insiden terjadi untuk mempersiapkan diri.

Untuk memastikan kesiapan PDAM Anda dalam menghadapi insiden kontaminasi, segera adopsi SOP 10 menit yang telah dijabarkan dan lengkapi peralatan pengukuran klorin yang akurat. Lihat rekomendasi kolorimeter digital HI701 untuk respons cepat dan andal. Konsultasikan dengan tim ahli kami untuk implementasi protokol disinfeksi darurat di instalasi Anda.

CV. Java Multi Mandiri adalah penyedia dan distributor alat ukur dan uji presisi yang telah berpengalaman melayani sektor bisnis dan industri di Indonesia. Kami memahami bahwa keandalan sistem disinfeksi PDAM bukan hanya soal kepatuhan regulasi, melainkan fondasi kepercayaan publik dan keberlanjutan operasional perusahaan. Sebagai spesialis dalam menyediakan solusi pengukuran klorin, kami menawarkan kolorimeter digital HI701 serta berbagai instrumen kualitas air lainnya yang dirancang untuk memenuhi standar ketat operasional PDAM. Kami mengundang perusahaan Anda untuk bermitra dalam mengoptimalkan sistem pengelolaan air minum. Untuk konsultasi solusi bisnis yang spesifik sesuai kebutuhan instalasi Anda, tim teknis kami siap berdiskusi.

Disclaimer: Artikel ini menyediakan panduan umum dan referensi standar. Tidak menggantikan SOP resmi dari PDAM terkait atau otoritas regulasi. Selalu konsultasikan peraturan daerah yang berlaku dan tenaga ahli bersertifikat.

Rekomendasi TDS Meter

Referensi

  1. Reed, B., & Shaw, R. (N.D.). WHO Technical Notes on Drinking-Water, Sanitation and Hygiene in Emergencies – Technical Note 11: Measuring chlorine levels in water supplies. World Health Organization. Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/who-tn-11-measuring-chlorine-levels-in-water-supplies.pdf
  2. Platten III, W.E., & US EPA Water Security Division. (2018). US EPA Guidance for Responding to Drinking Water Contamination Incidents (EPA 817-B-18-005). United States Environmental Protection Agency. Retrieved from https://www.epa.gov/sites/default/files/2018-12/documents/responding_to_dw_contamination_incidents.pdf
  3. Badan Standardisasi Nasional. (2015). SNI 06-3554-2015: Metode pengujian klorin dalam air. Jakarta: BSN.
  4. US EPA. (N.D.). Method 330.5: Chlorine, Total Residual (Spectrophotometric, DPD). United States Environmental Protection Agency.
  5. World Health Organization. (2017). WHO Guidelines for Drinking-water Quality, 4th Edition – Annex 3: Chemical Summary Tables (Chlorine entry). Geneva: WHO. Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/water-safety-and-quality/dwq-guidelines-4/gdwq4-with-add1-annex3.pdf
  6. US EPA. (2006). National Primary Drinking Water Regulations: Stage 1 Disinfectants and Disinfection Byproducts Rule. United States Environmental Protection Agency.
  7. Media Neliti. (N.D.). Analisa Keberadaan Sisa Klor Bebas PDAM Bantul. Retrieved from https://media.neliti.com
  8. Poltekkes Kemenkes Mataram. (N.D.). Pengaruh Lama Penyimpanan Air terhadap Sisa Klor. Retrieved from https://poltekkes-mataram.ac.id
  9. Badan Standardisasi Nasional. (2006). SNI 01-3553-2006: Syarat mutu air minum. Jakarta: BSN.
  10. Kementerian Kesehatan RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Jakarta: Kemenkes RI.
  11. Jurnal Teknik ITS. (2020). Studi Kemampuan IPA Meminimalisasi THM. Vol. 9 No. 2. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  12. US EPA. (2006). Stage 1 and 2 Disinfectants and Disinfection Byproducts Rules. United States Environmental Protection Agency.
  13. Journal of Water Resources Planning and Management. (2023). [Title not specified]. American Society of Civil Engineers.
  14. Saka.co.id. (N.D.). Pengukuran dan Pemantauan Nilai Klorin pada Proses Klorinasi. Retrieved from https://saka.co.id
  15. World Health Organization. (2009). Water Safety Plan Manual: Step-by-step risk management for drinking-water suppliers. Geneva: WHO.
  16. Lingkungan FT Universitas Andalas. (N.D.). Kajian Kadar Sisa Klor di Jaringan Distribusi PDAM Padang. Retrieved from https://lingkungan.ft.unand.ac.id
  17. Prepotif Jurnal Kesehatan Masyarakat UNDIP. (2024). Evaluasi Implementasi RPAM (Literature Review). Universitas Diponegoro. Retrieved from https://journal.universitaspahlawan.ac.id
  18. Dspace Universitas Islam Indonesia. (N.D.). Identifikasi Risiko RPAM Program PDAM. Retrieved from https://dspace.uii.ac.id
  19. waterfilterbali.com. (N.D.). Mengapa Air PDAM Masih Perlu Disaring. Retrieved from https://waterfilterbali.com
  20. University of Technology Sydney (UTS). (2025). Panduan untuk PDAM Indonesia. Sydney: UTS.
  21. IKN Nusantara. (N.D.). Pedoman Smart Water & Smart Wastewater Management. Retrieved from https://ikn.go.id
  22. Radio Arki FM. (2025). Sumber Air PDAM Diduga Terkontaminasi Pencemaran Sungai Banjar, Sumbawa Barat. Retrieved from https://arkifm.com
  23. Hanna Instruments. (N.D.). Spesifikasi Teknis Kolorimeter Klorin HI701. Retrieved from https://hannainst.id