Turbiditas Air Minum dan Perannya

Turbiditas Air Minum dan PerannyaKekeruhan turbiditas dalam air minum termasuk ke dalam indikator kualitas yang penting. Hal ini dikarenakan, selain dapat mengurangi estetika air minum ternyata dapat membuat rasa menjadi tidak enak. Kekeruhan juga dapat mengindikasikan terdapat tingkat bakteri, patogen, atau partikel yang tinggi yang akan melindungi organisme berbahaya sehingga mengurangi efektifitas proses desinfeksi dan akan membahayakan kesehatan.

Turbiditas Air Minum dan Perannya

Kekeruhan sangat bermanfaat sebagai indikator kualitas air yang dapat menghasilkan informasi yang berharga dengan cepat, relatif murah dan juga berkelanjutan. Instalasi pengolahan air secara konstan memonitor tingkat kekeruhan untuk memastikan air tidak melebihi tingkat aman.

Turbiditas Air Minum dan Perannya

SNI 01-3553 2006 telah mencantumkan kekeruhan sebagai salah satu persyaratan mutu air minum sebagai ukuran kontrol kualitas dengan batas maksimum 3 NTU. Kekeruhan dapat didefinisikan sebagai ukuran relatif dari kejernihan air. 

Kekeruhan bukan merupakan ukuran langsung dari partikel tersuspensi dalam air namun sebaliknya, yakni ukuran efek hamburan partikel-partikel tersebut terhadap cahaya. Kekeruhan mengukur seberapa besar partikel-partikel itu dapat mempengaruhi cahaya yang ditransmisikan melalui air, atau bagaimana cahaya itu memantulkan partikel di dalam air.

Sedimen seringkali menempati urutan pertama dalam daftar zat atau polutan yang bisa menyebabkan kekeruhan. Tetapi, Daerah Aliran Sungai (DAS) apa pun memiliki banyak sumber polutan atau fitur fisik yang dapat mempengaruhi kejernihan air seperti bahan kimia

Peran Turbiditas Dalam Pengolahan Air Minum Saat Ini

Alasan utama untuk mengukur kekeruhan dalam air minum yaitu untuk menghilangkan patogen penyebab penyakit yang dapat ditularkan melalui air. Kekeruhan merupakan salah satu pengukuran yang dapat ditelusuri jika terjadi wabah karena ada hubungannya antara peningkatan nilai kekeruhan dan terjadinya insiden wabah, sehingga kekeruhan bisa digunakan untuk memantau patogen yang sangat berbahaya.

Nilai dari pembacaan kekeruhan bukanlah seberapa banyak patogen yang mungkin dapat terkandung dalam suatu sampel, namun dengan mengukur kekeruhan, nilai itu dapat menjadi acuan secara relatif seberapa banyak atau sedikit dari setiap partikel reflektif yang bisa mempengaruhi kejernihan sampel, bahkan jika mereka tidak terdeteksi dengan mata manusia.

Monitoring Kekeruhan dalam Instalasi Pengolahan Air Minum

Pengukuran kekeruhan umumnya diambil dari beberapa titik lokasi Instalasi Pengolahan Air Minum (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) sebagai berikut :

1. Sumber Air Minum

Kekeruhan bisa digunakan untuk memantau kualitas air sumber yang biasanya berasal dari air tanah, air sungai maupun air pegunungan. Perubahan cepat dalam kekeruhan dapat mengindikasikan terjadi polusi di air permukaan dan air tanah misalnya dipicu oleh badai, pencairan, kebakaran atau tumpahan, yang mungkin ditambah dengan kegiatan antropogenik contohnya pembukaan hutan, atau masuknya kontaminasi melalui infrastruktur air tanah. Perubahan pada kekeruhan harus diselidiki untuk menentukan penyebab dan mengidentifikasi tindakan korektif yang tepat nantinya.

2. Filtrasi

Kekeruhan filtrasi diukur untuk memverifikasi efektivitas pada proses koagulasi, flokulasi, dan kinerja filter (individu dan gabungan). Pemantauan kekeruhan dari limbah filter individual dan gabungan dibutuhkan untuk memastikan apakah patogen belum berhasil masuk melalui sistem filtrasi konvensional dan / atau membran IPA/WTP. Dengan mengukur kekeruhan pada filtrasi ini, maka pengguna dapat membandingkan efektivitas filtrasi sebelum dan sesudah filtrasi. Selain itu, jika terjadi penyimpangan akan memungkinkan pengguna bereaksi terhadap gangguan potensial dengan cepat untuk melakukan tindakan perbaikan.

Memantau aliran penyaringan atau tepi membran terpisah sebelum aliran digabungkan kembali juga bisa membantu mengoptimalkan langkah perawatan dan pembersihan filter yaitu dengan mendokumentasikan penurunan kinerja atau kegagalan aliran demi aliran. Turbidimeter juga digunakan untuk membaca kejernihan air backwash dan untuk menghindari prosedur backwash berjalan lebih lama dari yang diperlukan.

3. Desinfeksi

Kekeruhan bisa digunakan sebagai parameter operasional untuk menilai kemungkinan efektivitas disinfeksi, dan sebagai dasar pengaturan dosis desinfektan dan memodifikasi waktu kontak ini jika modifikasi tersebut dimungkinkan.

4. Limbah Effluent Akhir Plant

Bacaan kekeruhan tambahan juga bisa diambil pada titik di mana air memasuki sistem distribusi air. Hal ini bisa menjadi sangat penting ketika pengolahan air dan distribusi air ditangani oleh organisasi yang terpisah. Pembacaan kekeruhan tambahan juga bisa dilakukan di beberapa titik lain di jaringan distribusi untuk memantau setiap perubahan kualitas air saat mengalir melalui sistem.

Pengukuran Kekeruhan

Kekeruhan dapat diukur dengan menggunakan peralatan optik khusus di laboratorium atau di lapangan. Cahaya akan diarahkan melewati sampel air, dan jumlah cahaya tersebar diukur. Unit unit pada pengukuran disebut Nephelometric Turbidity Unit (NTU), atau satuan kekeruhan lainnya (seperti FAU, FNU, dll). Semakin besar hamburan cahaya, semakin tinggi pula kekeruhan. Nilai kekeruhan rendah maka menunjukkan tinggi kejernihan air; nilai yang tinggi menunjukkan kejernihan air yang rendah.

Turbiditimeter merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat kekeruhan. Pada alat turbiditimeter terdapat dua metode yang digunakan sebagai acuan untuk mengukur kekeruhan, yakni International Standardization Organization Method 7027 (ISO Method 7027)  atau Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, Method 2130B. (The United States Environmental Protection Agency  atau USEPA Method 180.1 adalah untuk kekeruhan. Metode itu didasarkan pada metode yang paling umum digunakan oleh badan regulasi.

Untuk memilih turbiditimeter berdasarkan standard USEPA Method 180.1, kriteria yang diperlukan yakni :

  • Detektor utama adalah pengukuran berdasarkan nephelometrik (90 derajat)
  • Sumber cahaya yang digunakan merupakan lampu filamen tungsten.
  • Puncak respon spectral  400 – 600 nm
  • Rentang pengukuran biasanya berkisar antara 0 – 40 NTU

Sedangkan untuk memilih turbidimeter biasanya berdasarkan standard Metode ISO 7027. Adapun kriteria yang diperlukan yakni :

  • Detektor utama harus untuk pengukuran nephelometric (90 derajat),
  • Sumber cahaya harus di panjang gelombang 860 nm.
  • Bandwidth spektral cahaya harus berada dalam 860 nm ± 30 nm.
  • Rentang pengukuran yaitu dari 0 hingga 40 NTU.

Sekarang, sumber cahaya yang digunakan untuk turbidimeter tidak hanya menggunakan lampu tungsten atau LED, namun dapat juga menggunakan sumber cahaya misalnya laser, monokromatik atau lampu merkuri. Semua turbidimeter yang menggunakan prinsip nephelometrik  mengukur cahaya yang tersebar di posisi 90°, bahkan seringkali menggunakan detektor tambahan untuk mendeteksi hamburan cahaya yang tersebar di bagian depan dan belakang.

Aplikasi air minum, ukuran partikel dan tingkat jumlah partikel sangat rendah. Pada turbidimeter yang kurang sensitif di level rendah ini, perubahan kekeruhan yang dihasilkan dari penyimpangan filter dapat sangat kecil sehingga tidak akan bisa dibedakan dari baseline noise kekeruhan instrumen.

Sehingga diperlukan turbidimeter dengan presisi dan akurasi pengukuran kekeruhan yang lebih baik pada pengukuran dengan rentang yang rendah. Selain itu juga waktu respon turbidimeter terhadap sampel diharapkan singkat sehingga akan menghemat waktu yang ada dikarenakan proses monitoring untuk air minum ada di beberapa titik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *