Konduktivitas meter merupakan salah satu alat ukur paling vital dalam operasional Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Parameter konduktivitas listrik air menjadi indikator utama kualitas air minum yang harus dipantau secara ketat untuk memenuhi standar WHO dan regulasi nasional. Namun, banyak PDAM di Indonesia menghadapi tantangan serius: biaya kalibrasi yang tinggi, probe yang cepat rusak akibat air sadah, dan ketidakpastian dalam menentukan jadwal pemeliharaan yang optimal. Dampaknya? Pengukuran tidak akurat dapat menyebabkan retur produk, kegagalan audit mutu, dan peningkatan total biaya kepemilikan (TCO) hingga 10–20% jika hanya mengandalkan pendekatan reaktif (run-to-fail).
Artikel ini hadir sebagai panduan terintegrasi pertama di Indonesia yang menggabungkan standar SNI/ISO, data biaya riil, dan praktik lapangan untuk membantu manajer laboratorium, teknisi, dan pengelola fasilitas PDAM mengoptimalkan akurasi pengukuran konduktivitas sekaligus menekan TCO hingga 20% melalui pendekatan pemeliharaan preventif dan kalibrasi mandiri. Kami akan membahas secara mendalam prosedur kalibrasi dan verifikasi, teknik pemeliharaan probe, analisis total biaya kepemilikan, dan strategi penentuan jadwal berbasis risiko.
- Mengapa Kalibrasi dan Verifikasi Konduktivitas Meter Krusial untuk PDAM?
- Prosedur Kalibrasi Konduktivitas Meter Sesuai Standar Nasional (SNI/ISO)
- Pemeliharaan Preventif Probe Konduktivitas untuk Memperpanjang Umur Pakai
- Total Cost of Ownership (TCO) Konduktivitas Meter untuk PDAM
- Menentukan Jadwal Pemeliharaan dan Kalibrasi Berbasis Risiko
- Kesimpulan
- Referensi
Mengapa Kalibrasi dan Verifikasi Konduktivitas Meter Krusial untuk PDAM?
Konduktivitas air minum tidak boleh melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 400 μS/cm[1][4]. Nilai ini menjadi acuan bagi PDAM dalam memastikan air yang didistribusikan aman bagi konsumen. Sayangnya, penelitian lapangan di Indonesia menunjukkan bahwa konduktivitas air PDAM di beberapa wilayah justru berkisar antara 1.000–1.265 μS/cm—jauh melampaui batas aman[6]. Keakuratan alat ukur di titik-titik pengambilan sampel menjadi kunci untuk deteksi dini dan tindakan korektif.
Kesalahan pengukuran konduktivitas bukan sekadar masalah teknis, melainkan memiliki konsekuensi biaya yang nyata. Data industri menunjukkan bahwa 80% perusahaan gagal dalam audit ISO 9001/17025 karena belum melakukan kalibrasi alat ukur secara berkala, dan lebih dari 60% retur produk terkait dengan kesalahan pengukuran di quality control[8]. Untuk PDAM, setiap deviasi pengukuran dapat menyebabkan keputusan operasional yang salah, pemborosan bahan kimia, dan bahkan sanksi regulasi.
Dampak Kualitas Air Minum dan Regulasi
Regulasi nasional melalui Peraturan Menteri Kesehatan dan standar internasional WHO sama-sama menekankan pentingnya pemantauan konduktivitas sebagai parameter fisika air minum. Penelitian resmi dari Standar Nasional Satuan Ukuran – Badan Standardisasi Nasional (SNSU-BSN) menegaskan bahwa “mengkalibrasi konduktometer secara rutin dengan larutan standar konduktivitas yang tertelusur dapat menjamin hasil pembacaan yang presisi, dapat diandalkan, dan mendapatkan hasil pengukuran yang tertelusur ke SI seperti yang dipersyaratkan dalam klausul 6.5 pada ISO/IEC 17025:2017″[1]. Lembaga metrologi nasional ini telah mengembangkan metode sekunder pengukuran konduktivitas menggunakan Sel Jones tipe E dengan bias hanya 0,1 μS/cm dan RSD 0,04%, menjamin akurasi tertinggi untuk pemantauan kualitas air minum.
Data dari lapangan menunjukkan fluktuasi konduktivitas yang signifikan pada air PDAM, terutama pada pagi hari[6]. Tanpa kalibrasi dan verifikasi yang tepat, PDAM berisiko mendistribusikan air yang tidak memenuhi standar tanpa sepengetahuan operator.
Konsekuensi Biaya dari Pengukuran Tidak Akurat
Dampak finansial akibat pengukuran konduktivitas yang tidak akurat sangat beragam. Selain potensi denda regulasi, PDAM harus menanggung biaya tak terduga seperti penggantian produk, pengulangan pengujian, dan kehilangan kepercayaan pelanggan. PP No. 85 Tahun 2021 menetapkan tarif sewa alat ukur konduktivitas sebesar Rp 100.000 per unit per hari[5], yang menjadi salah satu komponen biaya saat alat harus dikirim ke laboratorium eksternal untuk kalibrasi. Pendekatan run-to-fail—di mana kalibrasi dan pemeliharaan baru dilakukan saat alat sudah menunjukkan masalah—terbukti meningkatkan TCO sebesar 10–20% karena kerusakan yang lebih parah dan waktu henti produksi yang lebih lama[8][10].
Prosedur Kalibrasi Konduktivitas Meter Sesuai Standar Nasional (SNI/ISO)
Kalibrasi adalah proses membandingkan nilai yang ditunjukkan alat ukur dengan nilai standar yang tertelusur ke SI. Untuk konduktivitas meter di PDAM, prosedur kalibrasi harus mengikuti standar internasional seperti ISO/IEC 17025:2017 dan rekomendasi pabrikan. Berikut adalah panduan langkah-demi-langkah yang dapat diterapkan.
Peralatan dan Larutan Standar yang Diperlukan
Sebelum memulai kalibrasi, pastikan Anda memiliki:
- Conductivity meter (misalnya Hanna HI8733 dengan probe four-ring) – lihat detail produk di halaman produk
- Larutan standar KCl:
- 0,001 M (~147 μS/cm pada 25°C) untuk aplikasi air minum
- 0,1 M (~12.880 mS/cm) untuk air limbah
- 1 M (~111,6 mS/cm) untuk air laut (jarang digunakan di PDAM)
- Gelas beaker bersih, termometer, dan air deionisasi untuk pembilasan.
- Suhu referensi 25°C – pastikan Automatic Temperature Compensation (ATC) berfungsi baik.
Larutan standar memiliki masa simpan 3–6 bulan setelah botol dibuka. Rekomendasi dari HORIBA: “Gunakan larutan standar segar setiap kali kalibrasi dan jangan pernah menuangkan kembali sisa larutan ke dalam botol asli untuk menghindari kontaminasi”[2].
Langkah-Langkah Kalibrasi Multi-Titik
Prosedur kalibrasi multi-titik (minimal 2 titik) sangat direkomendasikan untuk rentang pengukuran yang luas:
- Bilas probe dengan air deionisasi dan keringkan dengan tisu lembut.
- Celupkan probe ke dalam larutan standar pertama (misalnya 147 μS/cm). Aduk perlahan untuk menghilangkan gelembung udara.
- Tunggu stabilisasi suhu (biasanya 1–2 menit). Pastikan pembacaan suhu sesuai dengan larutan standar (25°C +/- 1°C).
- Baca nilai konduktivitas dan catat. Alat akan menampilkan konstanta sel yang terkalibrasi.
- Sesuaikan konstanta sel jika diperlukan hingga pembacaan berada dalam toleransi.
- Ulangi langkah 1–5 dengan larutan standar kedua (misalnya 12.880 mS/cm).
- Verifikasi dengan standar ketiga atau standar yang berbeda untuk memastikan linearitas.
HORIBA merekomendasikan bahwa “calibrated cell constant harus dalam ±10% dari nominal cell constant” dan “nilai yang terbaca harus dalam ±5% dari nilai standar yang diharapkan”[2]. Alat HORIBA mengizinkan kalibrasi hingga ±30% dari konstanta nominal, tetapi untuk akurasi optimal, targetkan dalam ±10%.
Produk seperti Hanna HI8733 yang dilengkapi probe four-ring memudahkan proses ini karena satu probe dapat mencakup seluruh rentang pengukuran tanpa efek polarisasi. Ini menjadikannya pilihan ideal untuk PDAM yang membutuhkan fleksibilitas dan akurasi tinggi.
Verifikasi Mandiri oleh Operator PDAM vs Kalibrasi Formal Laboratorium
PDAM perlu membedakan antara verifikasi harian dan kalibrasi formal:
- Verifikasi harian dilakukan oleh operator di lapangan menggunakan satu larutan standar (biasanya titik yang paling relevan dengan sampel air produksi). Biaya relatif rendah (hanya larutan standar dan waktu operator) dan cukup untuk memastikan alat berfungsi normal.
- Kalibrasi formal dilakukan di laboratorium terakreditasi KAN (misalnya PT Sucofindo atau GIS) setidaknya setahun sekali. Kalibrasi ini menghasilkan sertifikat yang diakui untuk audit ISO 9001/17025.
Kapan perlu kalibrasi formal? Saat:
- Alat baru dibeli atau setelah perbaikan besar.
- Verifikasi harian menunjukkan penyimpangan terus-menerus.
- Menjelang audit eksternal.
- Interval kalibrasi tahunan telah tiba.
Biaya pelatihan kalibrasi untuk teknisi internal berkisar antara Rp 3.300.000 (online) hingga Rp 8.200.000 (offline) per peserta – investasi yang sebanding dengan penghematan jangka panjang jika PDAM mampu melakukan verifikasi dan kalibrasi dasar secara mandiri[8].
Pemeliharaan Preventif Probe Konduktivitas untuk Memperpanjang Umur Pakai
Probe konduktivitas adalah komponen paling rentan dalam sistem pengukuran. Tanpa perawatan yang tepat, umur probe bisa turun drastis—terutama pada air PDAM Indonesia yang cenderung memiliki kesadahan tinggi. Praktik pemeliharaan preventif tidak hanya memperpanjang umur probe tetapi juga menjaga akurasi pengukuran.
Teknik Pembersihan Berdasarkan Jenis Kontaminasi
Pembersihan probe harus disesuaikan dengan jenis kontaminasi yang menempel pada elektroda. HORIBA Technical Tip 6 memberikan panduan berikut[2]:
| Jenis Kontaminasi | Larutan Pembersih | Waktu | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kerak kapur/skala mineral | Asam asetat/asam sitrat 5% atau HCl 1M | 10–30 menit | Jangan gunakan asam kuat pada probe plastik. |
| Minyak/lemak | Deterjen ringan hangat atau alkohol isopropil | 5–10 menit (aduk) | Hindari kontak lama dengan plastik. |
| Pertumbuhan biologis (lumut, bakteri) | Pemutih 1% (sodium hipoklorit) | 10 menit | Bilas bersih setelahnya. |
Larangan penting: Jangan pernah menggosok permukaan elektroda secara mekanis karena dapat merusak lapisan platinum black dan mengubah konstanta sel. Jangan gunakan pelarut organik (aseton, alkohol pekat) pada probe plastik—HORIBA memperingatkan bahwa hal ini membatalkan garansi[2].
Jadwal Pembersihan dan Penyimpanan Probe yang Benar
Frekuensi pembersihan tergantung pada tingkat kontaminasi air:
- Aplikasi air minum sadah: Pembersihan mingguan.
- Aplikasi air limbah atau air baku keruh: Pembersihan setelah setiap shift atau harian.
- Jika pembacaan mulai tidak stabil: Segera lakukan pembersihan.
Penyimpanan probe yang benar juga krusial:
- Jangka pendek (antar pengukuran): Bilas dengan air deionisasi, keringkan, simpan di tempat kering.
- Jangka panjang (lebih dari seminggu): Bersihkan secara menyeluruh, keringkan, dan simpan dalam wadah kedap udara. Beberapa probe four-ring dapat dibongkar (disassembly) untuk pembersihan internal yang lebih menyeluruh, memperpanjang umur pakai secara signifikan.
Troubleshooting Kesalahan Umum Pengukuran
JUMO GmbH mengidentifikasi 15 penyebab umum kesalahan pengukuran konduktivitas[9], yang dapat diadaptasi untuk konteks PDAM:
| Gejala | Kemungkinan Penyebab | Solusi |
|---|---|---|
| Pembacaan tidak stabil, melonjak-lonjak | Probe kotor atau kabel rusak | Bersihkan probe; periksa koneksi kabel. |
| Nilai konduktivitas terlalu rendah | Lapisan platinum black terkelupas | Ganti probe. |
| Perbedaan besar antara sensor otomatis dan EC meter manual | Suhu tidak stabil atau ATC mati | Pastikan ATC berfungsi; stabilkan suhu sampel. |
| Pembacaan konstan meski sampel berubah | Probe grounded (fringe field effect pada four-ring) | Jauhkan probe dari dinding wadah minimal 1 inch. |
| Nilai drop drastis setelah kalibrasi | Kontaminasi larutan standar | Gunakan larutan standar baru. |
Penelitian dari ITN Malang mencatat bahwa error pengukuran di PDAM berkisar antara -0,71% hingga 1,43% akibat toleransi alat dan faktor lingkungan seperti suhu dan waktu sampling[6]. Dengan menerapkan troubleshooting di atas, PDAM dapat mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan secara cepat, meminimalkan downtime.
Total Cost of Ownership (TCO) Konduktivitas Meter untuk PDAM
Memahami TCO sangat penting bagi PDAM untuk membuat keputusan investasi yang tepat. TCO tidak hanya mencakup harga beli alat, tetapi juga biaya kalibrasi, pelatihan, pemeliharaan, penggantian probe, dan biaya tersembunyi akibat downtime.
Rincian Biaya: Akuisisi, Kalibrasi, Pelatihan, Perawatan, dan Penggantian Probe
Berikut adalah ilustrasi TCO tahunan untuk PDAM skala menengah dengan 5 titik pengukuran:
| Komponen Biaya | Estimasi per Tahun | Catatan |
|---|---|---|
| Akuisisi alat (5 unit, misal Hanna HI8733) | Rp 25–35 juta (investasi awal) | Sekali beli, umur alat 5–7 tahun. |
| Kalibrasi formal di lab eksternal | Rp 5–10 juta per tahun | Termasuk ongkos kirim; PP 85/2021 tarif sewa Rp 100.000/unit/hari. |
| Pelatihan teknisi | Rp 3,3–8,2 juta per peserta | Investasi SDM. |
| Larutan standar (3–6 bulan) | Rp 2–4 juta per tahun | Ganti setiap 3–6 bulan. |
| Pembersihan dan perawatan | Rp 1–2 juta per tahun | Tenaga kerja dan bahan pembersih. |
| Penggantian probe (setiap 2–3 tahun) | Rp 5–10 juta per tahun (dialokasikan) | Probe four-ring lebih tahan lama. |
| Biaya tersembunyi (downtime, retur, audit gagal) | Rp 10–20 juta per tahun | Jika pemeliharaan reaktif. |
| Total TCO tahunan (tahun ke-2 dst.) | Rp 26–54 juta | Tergantung skala dan kondisi. |
Data dari studi JICA menunjukkan bahwa biaya distribusi PDAM Bantul mencapai Rp 271/m³ dan biaya produksi PDAM Sleman Rp 301/m³ termasuk listrik dan bahan bakar[7]. Biaya pemeliharaan alat ukur yang tidak efisien akan langsung membebani tarif air.
Strategi Optimasi: Kalibrasi Mandiri, Kontrak Tahunan, dan Pelatihan Internal
Untuk menekan TCO hingga 20%, terapkan strategi berikut:
- Kalibrasi mandiri untuk verifikasi harian: Operator terlatih dapat melakukan kalibrasi multi-titik secara mandiri menggunakan larutan standar. Ini mengurangi frekuensi pengiriman alat ke laboratorium eksternal.
- Kontrak tahunan dengan laboratorium terakreditasi: Negosiasi harga paket untuk kalibrasi semua alat sekaligus, termasuk layanan jemput antar.
- Investasi pelatihan internal: Biaya pelatihan Rp 3,3–8,2 juta per teknisi akan terbayar dalam tahun pertama karena penghematan biaya kalibrasi eksternal.
Penelitian dari BRIN menekankan bahwa penentuan interval kalibrasi dapat dilakukan berdasarkan “rekomendasi pabrikan, tingkat dan keparahan penggunaan, serta data historis alat yang sama atau serupa”[3]. Dengan data historis yang tercatat, PDAM dapat memperpanjang interval kalibrasi tanpa mengorbankan akurasi.
Studi Kasus: Potensi Penghematan Hingga 20% dengan Pemeliharaan Preventif
Scoring untuk PDAM dengan 5 titik pengukuran:
- Skenario A (Run-to-fail): Kalibrasi hanya saat ada masalah. TCO tahunan: Rp 45–55 juta (termasuk biaya perbaikan darurat, retur produk, dan audit gagal).
- Skenario B (Preventif terencana): Verifikasi harian mandiri, kalibrasi formal 1x/tahun, pembersihan rutin, pelatihan teknisi. TCO tahunan: Rp 30–40 juta.
Penghematan: sekitar 20–30% atau Rp 10–15 juta per tahun. Belum termasuk manfaat non-finansial berupa kepatuhan regulasi, kepercayaan pelanggan, dan data kualitas air yang andal.
Menentukan Jadwal Pemeliharaan dan Kalibrasi Berbasis Risiko
Jadwal yang tepat adalah kunci keseimbangan antara akurasi dan biaya. Pendekatan berbasis risiko memungkinkan PDAM untuk menyesuaikan frekuensi kalibrasi sesuai dengan kondisi operasional spesifik.
Faktor yang Mempengaruhi Interval Kalibrasi
Interval kalibrasi tidak boleh seragam untuk semua titik. Faktor-faktor berikut perlu dipertimbangkan:
- Kualitas air baku: Air dengan TDS tinggi (500–630 PPM) dan kesadahan tinggi mempercepat kontaminasi probe, sehingga kalibrasi lebih sering diperlukan.
- Frekuensi penggunaan: Alat yang digunakan setiap hari (misal di laboratorium produksi) perlu kalibrasi lebih sering daripada alat cadangan.
- Kondisi lingkungan: Suhu dan kelembaban ekstrem, debu, dan getaran dapat mempengaruhi stabilitas alat.
- Akurasi yang dibutuhkan: Untuk pengukuran kepatuhan regulasi, interval lebih pendek dibandingkan untuk pemantauan proses internal.
- Rekomendasi pabrikan: HORIBA merekomendasikan kalibrasi “setidaknya 1x per hari dengan larutan standar segar untuk aplikasi kritis”[2].
Data dari ITN menunjukkan bahwa faktor konversi TDS ke EC untuk PDAM lokal adalah K=0,5[6], yang berarti setiap 1 PPM TDS setara dengan 2 μS/cm. Ini membantu dalam estimasi nilai konduktivitas dari data TDS yang ada.
Rekomendasi Jadwal untuk Berbagai Aplikasi PDAM
Berikut matriks jadwal yang direkomendasikan:
| Aplikasi | Kalibrasi Harian | Kalibrasi Formal | Pembersihan Probe | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| Monitoring air baku (sungai, danau) | Ya (dengan larutan standar titik rendah) | 1x/tahun | Mingguan | Fluktuasi tinggi, kontaminasi lumpur. |
| Produksi air bersih (outlet IPA) | Ya (2 titik) | 1x/tahun | Mingguan | Prioritas utama untuk kepatuhan. |
| Air limbah (outlet IPAL) | Tidak perlu harian, 2x/minggu | 1x/tahun | Setelah setiap pengukuran | Rentang tinggi, kontaminasi berat. |
| Monitoring IoT (real-time) | Verifikasi mingguan dengan check standard | 1x/tahun | Sesuai petunjuk pabrikan | Sensor otomatis perlu divalidasi secara berkala. |
Pembersihan probe sebaiknya dilakukan setiap minggu untuk aplikasi air sadah, atau segera setelah pembacaan mencurigakan.
Pencatatan Riwayat Kalibrasi dan Kepatuhan ISO 9001/17025
Dokumentasi adalah fondasi sistem mutu. Setiap kalibrasi dan verifikasi harus dicatat dalam logbook yang mencakup:
- Tanggal dan waktu
- Nilai standar yang digunakan
- Hasil pembacaan (sebelum dan sesudah koreksi)
- Tindakan korektif (jika ada)
- Nama teknisi dan tanda tangan
- Tanggal kalibrasi formal berikutnya
Kepatuhan terhadap ISO 9001 mensyaratkan bahwa alat ukur harus dikalibrasi pada interval yang ditentukan dan hasilnya terdokumentasi. Sementara ISO/IEC 17025 menuntut ketertelusuran metrologis ke standar nasional/internasional. Penelitian BRIN menggarisbawahi bahwa “pemenuhan persyaratan sumber daya ISO/IEC 17025:2017 di laboratorium kalibrasi dan pengujian Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dalam penyediaan Certified Reference Material (CRM) yang tertelusur”[3]. PDAM yang menerapkan pencatatan riwayat dengan disiplin akan lebih siap menghadapi audit dan dapat menganalisis tren untuk menyesuaikan interval kalibrasi secara optimal.
Kesimpulan
Kalibrasi, verifikasi, dan pemeliharaan konduktivitas meter bukan sekadar tugas rutin, melainkan investasi strategis untuk memastikan kualitas air minum dan efisiensi biaya operasional PDAM. Dengan mengintegrasikan standar SNI/ISO, praktik lapangan terbaik, dan data biaya riil, artikel ini telah menyajikan panduan komprehensif yang mencakup:
- Prosedur kalibrasi multi-titik dengan larutan standar KCl sesuai rekomendasi HORIBA dan SNSU-BSN.
- Teknik pemeliharaan preventif probe yang disesuaikan dengan jenis kontaminasi spesifik air Indonesia.
- Analisis TCO yang menunjukkan potensi penghematan hingga 20% melalui kalibrasi mandiri dan kontrak tahunan.
- Jadwal berbasis risiko yang memungkinkan PDAM menyesuaikan frekuensi kalibrasi dengan kondisi operasional.
Langkah selanjutnya: Evaluasi kondisi alat konduktivitas meter di fasilitas PDAM Anda. Mulai terapkan jadwal kalibrasi harian dan pembersihan rutin berdasarkan panduan ini. Untuk konsultasi produk dan solusi pengukuran yang handal, percayakan pada CV. Java Multi Mandiri – supplier dan distributor terpercaya alat ukur dan instrumen pengukuran untuk kebutuhan bisnis dan industri. Kami hadir sebagai mitra bisnis bagi PDAM dan perusahaan di Indonesia yang ingin mengoptimalkan operasional melalui peralatan berkualitas tinggi. Hubungi kami untuk konsultasi solusi bisnis dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda melalui halaman kontak.
Kunjungi halaman produk Hanna HI8733 untuk informasi lebih lanjut: https://hannainst.id/product/alat-ukur-konduktivitas-hanna-instrument-hi8733/
Informasi dalam artikel ini bersifat panduan umum dan tidak menggantikan prosedur resmi dari pabrikan, standar SNI, atau regulasi pemerintah. Untuk kepatuhan penuh, rujuk pada dokumen teknis alat, standar ISO/IEC 17025, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rekomendasi Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Conductivity Meter
Referensi
- Hindayani, A. & Hamim, N. (2022). Akurasi dan Presisi Metode Sekunder Pengukuran Konduktivitas Menggunakan Sel Jones Tipe E untuk Pemantauan Kualitas Air Minum. Indonesian Journal of Chemical Analysis, 5(1). Retrieved from https://journal.uii.ac.id/IJCA/article/view/21508
- HORIBA Advanced Techno Co., Ltd. (n.d.). Conductivity Cell Care and Maintenance Procedures (Technical Tip 6). Retrieved from https://www.horiba.com/usa/water-quality/support/technical-tips/electrodes/conductivity-cell-care-and-maintenance-procedures
- Krismastuti, F.S.H. & Habibie, M.H. (2022). Complying with the resource requirements of ISO/IEC 17025:2017 in Indonesian calibration and testing laboratories: current challenges and future directions. Accreditation and Quality Assurance, 27, 337–348. Retrieved from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9579603
- World Health Organization. (2022). Guidelines for Drinking-water Quality (4th ed.). Retrieved from https://www.who.int/teams/environment-climate-change-and-health/water-sanitation-and-health/water-safety-and-quality/drinking-water-quality-guidelines
- Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak. (n.d.). Retrieved from https://saji.kkp.go.id
- Penelitian ITN Malang (Alinier Journal). (2023). Data error pengukuran dan konduktivitas air PDAM. Retrieved from https://ejournal.itn.ac.id/alinier
- Japan International Cooperation Agency (JICA). (2019). Laporan Studi PDAM Indonesia: Analisis Biaya Operasional.
- BMD Street. (n.d.). Pelatihan Kalibrasi: Biaya dan Jadwal. Retrieved from https://bmdstreet.com
- JUMO GmbH & Co. KG. (n.d.). 15 Solutions for Common Conductivity Meter Errors. Retrieved from https://jumo.group
- RFMA Online. (n.d.). White Paper: Total Cost of Ownership in Industrial Instrumentation. Retrieved from https://cdn.ymaws.com/rfmaonline.com





