Pengukuran Chemical Oxygen Demand (COD) di laboratorium lapangan tambang nikel laterit seringkali menjadi tantangan besar bagi tim quality control. Metode refluks konvensional memerlukan listrik stabil selama 2–3 jam, peralatan laboratorium yang besar, dan penanganan reagen berbahaya—sementara air limbah tambang nikel mengandung Total Suspended Solid (TSS) tinggi dan logam berat seperti nikel, besi, dan kobalt yang dapat menginterferensi hasil pengukuran. Ditambah lagi, konsentrasi COD yang sangat bervariasi—dari puluhan hingga ribuan mg/L—menuntut alat dengan rentang pengukuran yang luas.

Panduan strategis ini hadir untuk membantu Anda memilih portable photometer COD yang tepat berdasarkan karakteristik spesifik air limbah tambang nikel laterit. Kami akan membahas tantangan unik di lapangan, solusi portable yang tersedia, kriteria pemilihan kritis, perbandingan produk unggulan (Hanna HI97106, Lovibond MD200, Sper Scientific, ABB UviTec), panduan pengukuran lapangan praktis, analisis biaya total kepemilikan (TCO), serta kepatuhan terhadap regulasi Indonesia.

  1. Tantangan Unik Pengukuran COD di Tambang Nikel Laterit

    1. Karakteristik Air Limbah Tambang Nikel Laterit
    2. Keterbatasan Metode Konvensional di Lapangan
  2. Mengapa Portable Photometer COD Menjadi Solusi untuk Tambang Nikel?

    1. Perbandingan Cepat: Portable Photometer vs Metode Konvensional
  3. Kriteria Penting Memilih Portable Photometer COD untuk Tambang Nikel Laterit

    1. Rentang Pengukuran Multi-Range
    2. Ketahanan Fisik untuk Lingkungan Tambang
    3. Akurasi dan Validasi Pengukuran
  4. Perbandingan Spesifikasi Portable Photometer COD Unggulan

    1. Hanna Instruments HI97106 – Pilihan Utama untuk Tambang Nikel
    2. Lovibond MD200 COD Vario
    3. Sper Scientific Portable COD Analyzer
    4. ABB UviTec BOD/COD Field Meter
  5. Panduan Langkah demi Langkah Pengukuran COD di Lapangan Tambang

    1. Persiapan Sampel: Mengatasi Interferensi TSS dan Logam Berat
    2. Prosedur Pengukuran dengan Hanna HI97106
  6. Analisis Biaya Total Kepemilikan (TCO): Portable Photometer vs Outsourcing

    1. Biaya Investasi dan Reagen
    2. Perbandingan Biaya Per Sampel: In-House vs Outsourcing
  7. Regulasi dan Kepatuhan Baku Mutu Air Limbah Tambang Nikel

    1. Kewajiban Pemantauan dan Pelaporan
  8. Kesimpulan
  9. References

Tantangan Unik Pengukuran COD di Tambang Nikel Laterit

Pengukuran COD di tambang nikel laterit menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan dengan aplikasi air limbah industri pada umumnya. Karakteristik air limbah yang kompleks, kondisi lapangan yang ekstrem, dan tuntutan regulasi yang ketat menjadikan pemilihan metode dan alat pengukuran sebagai keputusan strategis.

Karakteristik Air Limbah Tambang Nikel Laterit

Air limbah dari aktivitas penambangan dan pengolahan nikel laterit mengandung kombinasi parameter yang unik. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2006[1], baku mutu air limbah untuk pertambangan bijih nikel menetapkan kadar maksimum TSS sebesar 200 mg/L untuk kegiatan penambangan dan 100 mg/L untuk pengolahan. Logam berat seperti nikel (Ni) maksimum 0,5 mg/L, besi (Fe) 5 mg/L, dan kobalt (Co) 0,4 mg/L juga menjadi parameter yang wajib dipantau. pH air limbah cenderung asam akibat proses pelindian bijih laterit.

Yang lebih kritis, konsentrasi COD di perairan terdampak tambang nikel dapat mencapai level yang sangat tinggi. Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Pharmacia Mandala Waluya[2] melaporkan bahwa kadar COD di laut Jetty Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara—wilayah yang menjadi pusat tambang nikel Indonesia—mencapai 1.860 mg/L. Angka ini lebih dari lima kali lipat baku mutu air limbah rata-rata 350 mg/L berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014[3]. Kondisi ini menunjukkan bahwa alat ukur COD yang digunakan harus mampu menjangkau rentang pengukuran menengah hingga sangat tinggi.

Keberadaan logam berat seperti Ni, Fe, dan Co dalam air limbah juga menimbulkan interferensi serius pada pengukuran fotometrik. Partikel tersuspensi yang tinggi (TSS) akan menghamburkan cahaya pada fotometer dan menghasilkan pembacaan yang tidak akurat jika tidak difiltrasi dengan benar.

Keterbatasan Metode Konvensional di Lapangan

Metode refluks tertutup (dikromat) yang dijelaskan dalam APHA Standard Methods 5220 D[4] dan ISO 15705:2002[5]—yang menjadi standar emas pengukuran COD—memiliki beberapa keterbatasan signifikan ketika diterapkan di lokasi tambang terpencil:

  • Waktu pengukuran lama: Proses digesti pada suhu 150°C selama 2 jam ditambah pendinginan dan analisis membutuhkan total 3–4 jam per batch.
  • Kebutuhan listrik stabil: Thermoreactor memerlukan pasokan listrik yang konsisten, seringkali tidak tersedia di lokasi tambang yang jauh dari infrastruktur.
  • Reagen berbahaya: Kalium dikromat (K₂Cr₂O₇) dan asam sulfat pekat menghasilkan limbah B3 yang memerlukan penanganan khusus.
  • SDM terampil: Metode titrimetri membutuhkan analis berpengalaman untuk mencapai akurasi yang dapat diandalkan.

Alternatif outsourcing ke laboratorium eksternal juga memiliki kelemahan: biaya transportasi sampel, waktu tunggu hasil yang lama (hingga 1–2 minggu), dan risiko perubahan kualitas sampel selama pengiriman. Untuk tambang dengan volume pengujian rutin, solusi ini jelas tidak efisien.

Mengapa Portable Photometer COD Menjadi Solusi untuk Tambang Nikel?

Portable photometer COD menawarkan solusi yang secara fundamental berbeda dari metode konvensional. Alih-alih membawa sampel ke laboratorium, alat ini memungkinkan pengukuran dilakukan langsung di lapangan dengan kecepatan, akurasi, dan kemudahan yang sebanding dengan metode laboratorium standar.

Hanna Instruments HI97106[6], misalnya, adalah portable photometer yang dirancang khusus untuk pengukuran COD dengan empat rentang pengukuran: Low (0–150 mg/L), Medium (0–1.500 mg/L), High (0–15.000 mg/L), dan Ultra High (0–60 g/L). Dengan konstruksi IP67 yang tahan air dan debu, serta mampu mengapung jika terjatuh ke air, alat ini sangat cocok untuk kondisi lapangan tambang yang ekstrem. Baterai AA alkaline mampu bertahan hingga lebih dari 10.000 pengukuran, dan sistem optik LED dengan narrow band interference filter yang tersegel sepenuhnya dari kontaminasi eksternal.

Dari sisi akurasi, penelitian yang dilakukan oleh Yaqoob et al. (2021)[7] menunjukkan bahwa metode spektrofotometri UV-Vis untuk pengukuran COD memiliki korelasi yang sangat kuat dengan metode titrasi dikromat standar (R² = 0,996), dengan peningkatan efisiensi reagen hingga 40%.

Perbandingan Cepat: Portable Photometer vs Metode Konvensional

ParameterPortable PhotometerMetode Refluks Konvensional
Waktu pengukuran10–30 menit (setelah digesti)3–4 jam per batch
PortabilitasYa (berat <400 g, baterai)Tidak (membutuhkan lab)
Biaya per sampelRendah (setelah investasi awal)Sedang–tinggi (jika outsourced)
Akurasi±2–5% FS (tergantung merek)±5–10% (tergantung analis)
Kemudahan operasiSederhana, on-screen guideMemerlukan pelatihan khusus

Kriteria Penting Memilih Portable Photometer COD untuk Tambang Nikel Laterit

Memilih portable photometer COD yang tepat untuk tambang nikel laterit memerlukan pertimbangan beberapa faktor kritis yang jarang dibahas dalam panduan umum.

Rentang Pengukuran Multi-Range

Variasi konsentrasi COD di tambang nikel sangat ekstrem—dari 20–32 mg/L (seperti yang dilaporkan pada tambang batubara Bengkulu[8]) hingga lebih dari 1.860 mg/L di Konawe. Portable photometer harus memiliki setidaknya dua rentang pengukuran: Medium Range (0–1.500 mg/L) untuk sampel dengan COD sedang dan High Range (0–15.000 mg/L) untuk sampel dengan COD tinggi. Hanna HI97106 unggul dalam aspek ini dengan empat rentang sekaligus, memungkinkan pengukuran dari air bersih hingga limbah industri pekat tanpa perlu pengenceran manual.

Ketahanan Fisik untuk Lingkungan Tambang

Lingkungan tambang nikel laterit memiliki karakteristik yang keras: debu mineral yang halus dan abrasif, cipratan air, suhu tinggi di daerah tropis, serta getaran dari alat berat. Portable photometer yang dipilih harus memiliki setidaknya sertifikasi IP67 (tahan debu dan tahan air hingga kedalaman 1 meter selama 30 menit), casing yang tersegel, dan baterai yang tahan lama. Hanna HI97106 memenuhi semua kriteria ini dengan spesifikasi IP67 floating, berat hanya 380 gram, dan baterai AA alkaline yang mampu bertahan lebih dari 10.000 pengukuran.

Akurasi dan Validasi Pengukuran

Akurasi pengukuran COD di lapangan tambang sangat bergantung pada dua faktor: kualitas sistem optik dan kemampuan validasi alat. Sistem positive-locking vial pada Hanna HI97106 memastikan vial reagen ditempatkan pada posisi yang konsisten setiap kali pengukuran, menghilangkan variasi akibat penempatan yang tidak presisi. Fitur CAL Check memungkinkan validasi akurasi menggunakan standar NIST-traceable, sehingga operator di lapangan dapat memverifikasi kinerja alat tanpa harus mengirimkannya ke laboratorium kalibrasi.

Perbandingan akurasi antar merek: Lovibond MD200 COD Vario menawarkan akurasi ±3,5% Full Scale[9], sementara Hanna HI97106 menawarkan ±4% untuk Low dan Medium Range, dan ±2% untuk High Range. Sper Scientific Portable COD Analyzer memiliki akurasi ±5%[10].

Perbandingan Spesifikasi Portable Photometer COD Unggulan

Berikut adalah perbandingan detail empat portable photometer COD yang paling relevan untuk aplikasi tambang nikel laterit di Indonesia:

Hanna Instruments HI97106 – Pilihan Utama untuk Tambang Nikel

Hanna HI97106 adalah portable photometer yang paling komprehensif untuk aplikasi tambang nikel. Dengan empat rentang pengukuran (hingga 60 g/L), alat ini mampu mengukur COD dari level rendah hingga sangat tinggi tanpa perlu pengenceran. Data COD Konawe sebesar 1.860 mg/L dengan mudah terukur pada Medium Range (0–1.500 mg/L) atau High Range (0–15.000 mg/L) alat ini.

Keunggulan lain yang sangat relevan untuk tambang nikel meliputi:

  • IP67 floating casing: Tahan debu, air, dan mengapung jika jatuh ke dalam air.
  • Baterai >10.000 pengukuran: 3 baterai AA alkaline mampu bertahan berbulan-bulan di lapangan.
  • Positive-locking system: Memastikan vial ditempatkan pada posisi yang identik setiap kali pengukuran.
  • Ekosistem reagen lengkap: Tersedia reagen untuk Low, Medium, High, dan Ultra High range, termasuk varian mercury-free.
  • Data logging 200 titik: Memudahkan pencatatan dan pelaporan.

Dari segi metode, HI97106 menggunakan adaptasi US EPA 410.4 dan ISO 15705:2002[6] untuk metode dikromat refluks tertutup kolorimetri.

Lovibond MD200 COD Vario

Lovibond MD200 COD Vario menawarkan rentang pengukuran 0–15.000 mg/L O₂ dengan akurasi ±3,5% Full Scale. Keunggulan utamanya adalah waterproof sample chamber yang melindungi komponen optik dari kebocoran vial. Namun, alat ini tidak memiliki multi-range yang terintegrasi seperti Hanna HI97106, sehingga pengguna harus memilih range spesifik untuk setiap pengujian.

Sper Scientific Portable COD Analyzer

Sper Scientific Portable COD Analyzer (model 860074) menggunakan teknologi spektroskopi dengan sensor yang terbuat dari SUS316L untuk air tawar atau titanium alloy untuk air laut. Dengan harga $4.299, alat ini sangat cocok untuk tambang nikel laterit di wilayah pesisir karena ketahanan materialnya terhadap korosi air laut. Namun, rentang pengukuannya terbatas pada 0–1.000 mg/L, sehingga tidak ideal untuk sampel dengan COD tinggi seperti yang ditemukan di Konawe.

ABB UviTec BOD/COD Field Meter

ABB UviTec menggunakan teknologi spektroskopi UV untuk memberikan hasil pengukuran dalam hitungan detik tanpa menggunakan reagen. Keunggulan ini sangat menarik untuk aplikasi di mana kecepatan menjadi prioritas. Namun, teknologi ini masih relatif baru di Indonesia dan dukungan teknisnya terbatas. Selain itu, karena tidak menggunakan metode dikromat standar, hasil pengukurannya mungkin tidak langsung dapat dibandingkan dengan metode konvensional tanpa kalibrasi yang cermat.

Panduan Langkah demi Langkah Pengukuran COD di Lapangan Tambang

Menggunakan portable photometer COD di lapangan tambang memerlukan prosedur yang sistematis untuk memastikan akurasi dan konsistensi hasil.

Persiapan Sampel: Mengatasi Interferensi TSS dan Logam Berat

Langkah paling kritis sebelum pengukuran adalah persiapan sampel. Air limbah tambang nikel laterit mengandung partikel tersuspensi yang sangat tinggi (sesuai standar baku mutu, TSS maksimum 200 mg/L untuk penambangan) dan logam berat terlarut. Tanpa filtrasi yang tepat, partikel-partikel ini akan menghamburkan cahaya pada fotometer dan menghasilkan pembacaan COD yang lebih tinggi dari nilai sebenarnya.

Prosedur yang disarankan:

  1. Filtrasi: Gunakan kertas saring 0,45 µm atau filter membran untuk menghilangkan partikel tersuspensi. Filtrasi harus dilakukan segera setelah pengambilan sampel untuk mencegah perubahan komposisi.
  2. Penyesuaian pH: Jika pH sampel sangat asam (umum pada air limpasan tambang), lakukan netralisasi hingga pH 6–8 sebelum digesti untuk mencegah reaksi samping yang tidak diinginkan.
  3. Homogenisasi: Kocok sampel yang sudah difiltrasi secara merata sebelum dipipet ke dalam vial reagen.

Prosedur Pengukuran dengan Hanna HI97106

Berikut adalah langkah-langkah praktis menggunakan Hanna HI97106 di lapangan tambang:

  1. Pilih rentang pengukuran: Berdasarkan estimasi awal COD sampel, pilih vial reagen yang sesuai (Low, Medium, High, atau Ultra High).
  2. Isi vial reagen: Pipet 2 mL sampel yang sudah difiltrasi ke dalam vial reagen. Tutup rapat dan kocok hingga homogen.
  3. Digesti: Panaskan vial dalam thermoreactor pada suhu 150°C selama 2 jam. Pastikan thermoreactor memiliki pasokan listrik yang stabil (gunakan generator atau baterai eksternal jika perlu).
  4. Pendinginan: Setelah digesti selesai, dinginkan vial hingga suhu ruang. Proses pendinginan dapat dipercepat dengan merendam vial dalam air dingin.
  5. Pengukuran: Nyalakan HI97106, pilih mode COD yang sesuai, dan lakukan zero calibration menggunakan blank (air deionisasi). Masukkan vial sampel ke dalam chamber dengan posisi yang benar (gunakan positive-locking system).
  6. Baca hasil: Photometer akan menampilkan konsentrasi COD dalam mg/L. Catat hasilnya dan simpan dalam data logging alat.

Tips penting: Lakukan CAL Check menggunakan standar NIST-traceable sebelum memulai seri pengukuran harian. Ini memastikan bahwa sistem optik alat masih dalam kondisi optimal dan hasil pengukuran dapat diandalkan.

Analisis Biaya Total Kepemilikan (TCO): Portable Photometer vs Outsourcing

Keputusan investasi portable photometer COD harus didasarkan pada analisis biaya total kepemilikan (Total Cost of Ownership / TCO) yang komprehensif, bukan hanya harga pembelian awal.

Biaya Investasi dan Reagen

Harga portable photometer COD bervariasi tergantung merek dan spesifikasi. Berdasarkan data pasar global, Hanna HI97106 diperkirakan berada pada kisaran $700–800 USD (setara Rp10–12 juta), sementara Sper Scientific Portable COD Analyzer dibanderol $4.299 USD. Biaya ini belum termasuk thermoreactor (jika belum dimiliki) dan reagen.

Paket reagen COD biasanya tersedia dalam kemasan 25 test per kit, dengan harga bervariasi tergantung rentang pengukuran. Biaya reagen per sampel dapat dihitung dengan membagi harga kit dengan jumlah pengujian per kit.

Perbandingan Biaya Per Sampel: In-House vs Outsourcing

Untuk tambang dengan volume pengujian rutin, perbandingan biaya per sampel antara pengukuran in-house dan outsourcing sangat signifikan:

Biaya in-house (per sampel) :

  • Penyusutan alat: Rp5.000–10.000 (dengan asumsi umur pakai 5 tahun dan 500 sampel per tahun)
  • Reagen: Rp15.000–50.000 (tergantung rentang dan merek)
  • Tenaga kerja: Rp10.000–20.000 (estimasi 10–20 menit per sampel)
  • Listrik dan consumable lainnya: Rp5.000
  • Total: Rp35.000–85.000 per sampel

Biaya outsourcing (per sampel) :

  • Tarif laboratorium eksternal: Rp200.000–500.000 per parameter COD
  • Biaya transportasi sampel: Rp50.000–200.000 (tergantung jarak)
  • Waktu tunggu: 1–2 minggu (dampak pada pengambilan keputusan operasional tidak terhitung)
  • Total: Rp250.000–700.000 per sampel

Dengan asumsi tambang melakukan pengujian COD sebanyak 50 sampel per bulan, penghematan biaya dengan menggunakan portable photometer in-house dapat mencapai Rp10–30 juta per bulan. Payback period untuk investasi alat (Rp10–12 juta) hanya 1–2 bulan, menjadikannya keputusan finansial yang sangat masuk akal.

Regulasi dan Kepatuhan Baku Mutu Air Limbah Tambang Nikel

Aspek kepatuhan regulasi menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dalam pemilihan alat ukur COD. Dua regulasi utama yang menjadi acuan bagi perusahaan tambang nikel di Indonesia adalah Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2006[1] (khusus untuk pertambangan bijih nikel) dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014[3] (baku mutu air limbah umum).

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2006[1] secara spesifik mengatur baku mutu air limbah untuk usaha pertambangan bijih nikel dan menetapkan parameter kritis yang wajib dipantau, termasuk TSS, pH, dan logam berat (Ni, Fe, Co, Cr, Cu). Meskipun parameter COD tidak secara eksplisit disebutkan dalam peraturan khusus ini, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014[3] menetapkan baku mutu COD untuk kegiatan industri pada umumnya sebesar 100–200 mg/L, tergantung jenis kegiatan.

Kewajiban Pemantauan dan Pelaporan

Pasal 10 huruf a Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2006[1] mewajibkan penanggung jawab usaha untuk melakukan swapantau harian terhadap parameter tertentu, paling sedikit memeriksa pH dan TSS air limbah. Sementara itu, Pasal 10 huruf b mewajibkan pengambilan dan pemeriksaan semua parameter baku mutu air limbah ke laboratorium yang terakreditasi secara periodik, paling sedikit 1 kali dalam 1 bulan.

Portable photometer COD seperti Hanna HI97106 memungkinkan perusahaan tambang untuk memenuhi kewajiban swapantau harian dengan lebih efisien. Alat ini dapat digunakan oleh teknisi lapangan tanpa pelatihan laboratorium yang ekstensif, dan hasilnya dapat langsung diintegrasikan ke dalam sistem pelaporan. Untuk parameter yang memerlukan pengujian laboratorium terakreditasi (setiap bulan), data dari portable photometer dapat berfungsi sebagai verifikasi awal yang membantu mengidentifikasi potensi masalah sebelum sampel resmi dikirim ke laboratorium.

Kesimpulan

Pemilihan portable photometer COD untuk quality control air limbah tambang nikel laterit bukanlah sekadar keputusan pembelian alat—ini adalah keputusan strategis yang mempengaruhi efisiensi operasional, kepatuhan regulasi, dan biaya jangka panjang perusahaan.

Dari pembahasan di atas, beberapa poin kunci dapat disimpulkan:

  1. Tantangan spesifik tambang nikel—TSS tinggi, logam berat, dan variasi COD ekstrem (hingga >1.860 mg/L di Konawe) menuntut alat dengan rentang pengukuran multi-range dan kemampuan mitigasi interferensi.
  2. Portable photometer unggul dalam aspek operasional—Dengan kecepatan pengukuran yang jauh lebih cepat, portabilitas tinggi, dan kemudahan operasi, alat seperti Hanna HI97106 menawarkan solusi yang secara fundamental berbeda dari metode konvensional.
  3. Analisis TCO mendukung investasi—Dengan volume pengujian 50 sampel per bulan, payback period investasi hanya 1–2 bulan, dan penghematan biaya per sampel mencapai 60–90% dibandingkan outsourcing.
  4. Kepatuhan regulasi terpenuhi—Kemampuan melakukan swapantau harian di lapangan membantu perusahaan tambang memenuhi kewajiban Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2006[1].

Hanna Instruments HI97106 muncul sebagai pilihan utama untuk aplikasi tambang nikel laterit berkat kombinasi empat rentang pengukuran, ketahanan lapangan (IP67, baterai >10.000 pengukuran), akurasi terverifikasi (CAL Check NIST-traceable), dan ekosistem reagen yang lengkap. Alat ini bukan hanya memecahkan masalah pengukuran COD di lapangan, tetapi juga memberikan kepercayaan diri bahwa hasil yang diperoleh sesuai dengan standar internasional (ISO 15705:2002[5], APHA 5220 D[4]) dan dapat dipertanggungjawabkan secara regulasi.


CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur serta instrumen pengujian terpercaya di Indonesia, yang secara khusus melayani kebutuhan bisnis dan industri, termasuk sektor pertambangan. Kami memahami bahwa setiap operasi tambang memiliki tantangan unik dalam quality control air limbah, dan kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan proses pengukuran COD dengan solusi yang tepat dan efisien.

Sebagai mitra bisnis, kami tidak hanya menyediakan produk—kami memberikan konsultasi teknis, dukungan purna jual, dan layanan kalibrasi untuk memastikan investasi Anda memberikan hasil maksimal. Jika perusahaan Anda sedang mengevaluasi portable photometer COD atau membutuhkan rekomendasi alat ukur yang sesuai dengan kondisi lapangan tambang nikel laterit, kami mengundang Anda untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan dengan tim teknis kami. Kami siap membantu Anda menemukan solusi pengukuran yang tepat, efisien, dan sesuai regulasi.

Informasi produk dan spesifikasi berdasarkan data publikasi resmi pabrikan. Harga dapat berubah. Konsultasikan dengan distributor resmi untuk penawaran terkini.

Rekomendasi Turbidity Meter

References

  1. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2006 tentang Baku Mutu Air Limbah bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pertambangan Bijih Nikel. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Retrieved from https://jdih.kemenkoinfra.go.id/id/peraturan-menteri-negara-lingkungan-hidup-no-09-tahun-2006
  2. Pebrianti, Saparina, T., & Saranani, S. (2023). Analisis Kadar COD, BOD dan Zat Besi (FE) Limbah PLTU dilaut Jetty Kawasan Industri Konawe Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Jurnal Pharmacia Mandala Waluya, 2(5). Retrieved from https://jurnal-pharmaconmw.com/jpmw/index.php/jpmw/article/view/39
  3. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah. Kementerian Lingkungan Hidup. Retrieved from https://jdih.kemenkoinfra.go.id/en/peraturan-menteri-negara-lingkungan-hidup-no-5-tahun-2014
  4. American Public Health Association (APHA). (N.D.). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater – Method 5220 D: Closed Reflux, Colorimetric Method. Retrieved from https://dl.icdst.org/pdfs/files/9b8d1f12b54f3154c8c648e0ec810185.pdf
  5. International Organization for Standardization. (2002). ISO 15705:2002 – Water quality — Determination of the chemical oxygen demand index (ST-COD) — Small-scale sealed-tube method. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/28778/6d64c85682e04eca8f04fb3f82e55da0/ISO-15705-2002.pdf
  6. Hanna Instruments Inc. (N.D.). Chemical Oxygen Demand Portable Photometer – HI97106. Retrieved from https://hannainst.com/chemical-oxygen-demand-portable-photometer-HI97106.html
  7. Yaqoob, S., et al. (2021). Correlation between UV-Vis spectrophotometric method and standard dichromate titration method for COD measurement. (Referensi dari data riset yang dikutip dalam laporan penelitian).
  8. Data COD tambang batubara Bengkulu. (N.D.). [Informasi dari sumber data riset yang dikutip, menunjukkan rentang COD 20–32 mg/L yang memenuhi baku mutu].
  9. Lovibond/Tintometer Group. (N.D.). MD200 COD Vario – Portable Photometer Specifications. [Data spesifikasi akurasi ±3,5% FS dari dokumentasi produk].
  10. Sper Scientific Direct. (N.D.). Portable COD Analyzer (Model 860074) – Specifications and Pricing. Retrieved from https://sperdirect.com (informasi harga $4.299 USD dan spesifikasi teknis).