Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Di balik setiap botol yang beredar, terdapat proses produksi yang ketat untuk memastikan produk bebas dari kontaminasi mikrobiologi. Salah satu pilar utama dalam jaminan mutu AMDK adalah disinfeksi, dan ozon (O₃) telah menjadi agen disinfektan pilihan utama di industri ini. Namun, efektivitas ozon sangat bergantung pada kadar yang tepat. Kadar yang terlalu rendah dapat menyebabkan kegagalan disinfeksi, sementara kadar berlebih menimbulkan risiko residu dan masalah regulasi.
Artikel ini dirancang sebagai panduan komprehensif bagi para Quality Control Manager, teknisi produksi, dan pemilik industri AMDK untuk menguji kualitas air. Kami akan mengupas tuntas mekanisme ozon sebagai disinfektan, standar regulasi nasional dan internasional, urgensi monitoring, metode pengukuran yang akurat, hingga solusi praktis untuk menjaga kadar ozon tetap optimal. Dengan pemahaman yang mendalam, Anda dapat memastikan produk AMDK aman, sesuai standar SNI, dan mampu bersaing di pasar.
- Apa Itu Ozon dan Bagaimana Cara Kerjanya Sebagai Disinfektan?
- Standar Regulasi Kadar Ozon AMDK di Indonesia
- Mengapa Kadar Ozon Harus Dipantau Secara Rutin?
- Cara Mengukur Kadar Ozon dalam Air Minum
- Masalah dan Solusi Terkait Ozonasi AMDK
- Panduan Praktis bagi Produsen AMDK
- Kesimpulan
- Referensi
Apa Itu Ozon dan Bagaimana Cara Kerjanya Sebagai Disinfektan?
Ozon (O₃) adalah molekul yang terdiri dari tiga atom oksigen, dikenal sebagai oksidator kuat. Dalam pengolahan air, ozon berfungsi sebagai disinfektan primer yang mampu menginaktivasi bakteri, virus, dan jamur dengan cara mengoksidasi dinding sel mikroorganisme, menyebabkan kebocoran sel dan kematian. Dibandingkan klorin, ozon 1,5 kali lebih kuat dan bereaksi 3.000 kali lebih cepat [1][3]. Selain itu, ozon tidak meninggalkan residu kimia persisten karena terurai menjadi oksigen (O₂) dalam waktu kurang dari 20 menit pada suhu ruang [1].
Penelitian dari UPN Veteran Jatim membuktikan bahwa ozon pada kadar 4,761 ppm mampu mendegradasi bakteri Escherichia coli hingga 100% pada laju alir optimal 9 LPM [4]. Sementara itu, WHO Guidelines for Drinking-Water Quality menegaskan bahwa ozon dapat digunakan sebagai disinfektan utama dengan dosis tipikal 2–5 mg/L dan residual ozon sekitar 0,5 mg/L setelah waktu kontak hingga 20 menit [3]. Data ini menunjukkan potensi besar ozon, sekaligus menekankan pentingnya pengendalian kadar yang presisi.
Mekanisme Ozonasi: Menghancurkan Mikroorganisme Tanpa Residu
Proses ozonasi bekerja melalui dua mekanisme utama: oksidasi langsung oleh molekul ozon dan oksidasi tidak langsung melalui radikal hidroksil yang terbentuk saat ozon terurai. Kedua mekanisme ini mampu mengoksidasi lipid, protein, dan asam nukleat pada membran sel mikroba, sehingga mikroorganisme kehilangan kemampuan reproduksi dan mati. Keunggulan utama ozon adalah transformasinya kembali menjadi oksigen, sehingga tidak ada residu kimia berbahaya seperti trihalometana (THMs) yang dihasilkan klorinasi [1][3].
Penelitian dari Universitas Islam Negeri (UIN) Banten mengonfirmasi bahwa variasi konsentrasi ozon 0,05–0,4 ppm pada AMDK berpengaruh signifikan terhadap total koloni bakteri, dengan konsentrasi optimal pada kisaran 0,16 ppm 6]. Studi dari Politeknik Negeri Malang (Polinema) juga menunjukkan bahwa kadar ozon 0,138–0,140 ppm mampu menurunkan pH dan [TDS namun masih dalam batas SNI, tanpa mengompromikan keamanan produk [1].
Keunggulan Ozon Dibandingkan Klorin dan UV
| Parameter | Ozon | Klorin | Sinar UV |
|---|---|---|---|
| Kekuatan oksidasi | 1,5× klorin | 1 (baseline) | Tidak berlaku |
| Waktu kontak | Detik–menit | 30–60 menit | Kontak langsung |
| Residu | O₂ (aman) | THMs (karsinogen) | Tidak ada residu |
| Efek residual | Tidak ada (perlu kombinasi) | Ada, namun berbahaya | Tidak ada |
| Risiko kontaminasi ulang | Perlu treatment lanjutan | Rendah | Tinggi |
Tabel di atas menunjukkan bahwa ozon unggul dalam kecepatan dan keamanan, namun memiliki keterbatasan: tidak memberikan efek residual. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan kombinasi ozonasi dengan filtrasi biologis atau karbon aktif, diikuti dengan pemberian klorin residual dalam jumlah sangat kecil [3]. Pedoman BPOM RI menetapkan kadar ozon optimal 0,2–0,6 ppm dan residu ozon 0,1–0,4 ppm untuk konteks AMDK di Indonesia [6].
Standar Regulasi Kadar Ozon AMDK di Indonesia
Regulasi kadar ozon dalam AMDK di Indonesia diatur secara ketat untuk melindungi konsumen. Peraturan Menteri Perindustrian No. 62 Tahun 2024 tentang Pemberlakuan SNI untuk Air Minum dalam Kemasan Secara Wajib (selanjutnya disebut Permenperin 62/2024) merupakan regulasi terbaru yang mencabut Permenperin No. 78/2016. Regulasi ini mewajibkan seluruh produsen AMDK memiliki sertifikasi SNI untuk lima jenis produk: Air Mineral (SNI 3553:2023), Air Demineral (SNI 6241:2023), Air Mineral Alami (SNI 6242:2023), Air Minum Embun (SNI 7812:2021), dan Air Minum pH Tinggi (SNI 8982:2021) [2].
SNI 3553:2023 dan Permenperin Terbaru
SNI 3553:2023 (revisi dari SNI 3553:2015) menetapkan rentang kadar ozon yang diizinkan sebesar 0,05–0,25 mg/L. Sementara Permenperin 78/2016 yang sebelumnya berlaku menetapkan rentang 0,05–0,3 ppm. Dengan hadirnya Permenperin 62/2024, seluruh standar tersebut kini menjadi wajib dan mengikat secara hukum [2][1]. Tujuan regulasi ini adalah “menjamin keamanan, kesehatan, dan keselamatan manusia dari konsumsi air minum dalam kemasan, meningkatkan daya saing industri AMDK, menciptakan persaingan usaha yang sehat, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup” [2].
Penelitian lapangan di PT Tirtamas Lestari (Pandaan) selama 11 bulan (Juli 2020–Mei 2021) menunjukkan bahwa konsentrasi ozon 0,16 ppm menghasilkan produk AMDK dengan HPC 36°C hanya 1 CFU/mL dan Coli/E.Coli 0 CFU/250 mL, memenuhi persyaratan SNI [1].
Perbandingan Standar Nasional dengan WHO dan US EPA
| Sumber | Rentang Kadar Ozon | Keterangan |
|---|---|---|
| SNI 3553:2023 (Indonesia) | 0,05–0,25 mg/L | Produk akhir AMDK |
| Permenperin 78/2016 | 0,05–0,3 ppm | Digantikan 62/2024 |
| WHO Guidelines [3] | Residual ~0,5 mg/L setelah 20 menit | Dosis 2–5 mg/L |
| US EPA | Tidak ada batas spesifik; disinfeksi primer | Bergantung pada sistem |
Perbedaan ini wajar karena standar Indonesia lebih ketat pada produk akhir untuk melindungi konsumen, sementara WHO memberikan rekomendasi untuk proses disinfeksi primer. Risiko pembentukan bromat pada ozonasi dosis tinggi perlu diwaspadai, terutama jika air baku mengandung bromida. WHO menetapkan guideline value untuk bromat sebesar 10 µg/L [4]. Bagi produsen AMDK, kepatuhan terhadap SNI menjadi kunci keberlangsungan usaha, dan monitoring kadar ozon yang akurat adalah langkah pertama yang krusial.
Mengapa Kadar Ozon Harus Dipantau Secara Rutin?
Tanpa monitoring yang konsisten, kadar ozon dalam produksi AMDK dapat mengalami fluktuasi signifikan yang berdampak langsung pada keamanan produk. Data dari PT Tirtamas Lestari menunjukkan fluktuasi kadar ozon dari 0,10 ppm hingga 0,24 ppm dalam kurun waktu 11 bulan [1]. Pada September 2020, saat kadar ozon hanya mencapai 0,1 ppm, ditemukan Coli & E.Coli sebanyak 1 CFU/250 mL dan Pseudomonas Aeruginosa 1 CFU/250 mL—bukti bahwa kadar di bawah ambang efektif dapat menyebabkan kegagalan disinfeksi [1].
Praktisi Quality Control di industri AMDK umumnya melakukan pengecekan setiap jam, dengan total 8 kali per shift. Frekuensi ini penting karena ozon mudah terurai oleh suhu, pH, dan adanya senyawa organik dalam air.
Dampak Fluktuasi Kadar Ozon Terhadap Kualitas dan Keamanan Produk
Peningkatan konsentrasi ozon memengaruhi parameter kualitas air lainnya. Studi Polinema menunjukkan bahwa ketika kadar ozon naik dari 0,136 ppm menjadi 0,138 ppm, pH turun dari 7,07 menjadi 7,00 dan TDS menurun dari 130,78 mg/L menjadi 128,45 mg/L [1]. Meskipun masih dalam batas SNI, perubahan ini perlu diantisipasi. Lebih penting lagi, ozon berlebih dapat memicu pembentukan bromat jika air baku mengandung bromida—senyawa yang diklasifikasikan sebagai karsinogen potensial dengan guideline WHO 10 µg/L [4]. Selain itu, kadar ozon >0,3 ppm berpotensi menyebabkan migrasi residu dari kemasan plastik dan mengubah rasa air menjadi metalik.
Sebaliknya, kadar ozon di bawah 0,1 ppm mulai tidak efektif. Studi Polinema membuktikan bahwa pada kadar 0,1 ppm masih ditemukan 1 Coli & E.Coli dan 1 Pseudomonas per 250 mL [1]. Oleh karena itu, menjaga kadar ozon pada kisaran 0,16–0,25 ppm merupakan praktik terbaik yang direkomendasikan berdasarkan data industri.
Studi Kasus: Data Time-Series dari Pabrik AMDK
Berikut data monitoring kadar ozon di PT Tirtamas Lestari selama 11 bulan, yang mencerminkan fluktuasi nyata di lapangan:
| Bulan | Kadar Ozon (ppm) | Temuan Mikrobiologi |
|---|---|---|
| Juli 2020 | 0,14 | Negatif |
| Agustus 2020 | 0,12 | Negatif |
| September 2020 | 0,10 | Coli 1 CFU/250mL, Pseudomonas 1 CFU/250mL |
| Oktober 2020 | 0,11 | Negatif |
| Desember 2020 | 0,15 | Negatif |
| Januari 2021 | 0,16 | Negatif |
| Februari 2021 | 0,24 | Negatif |
| Maret 2021 | 0,13 | Negatif |
| April 2021 | 0,14 | Negatif |
| Mei 2021 | 0,15 | Negatif |
Sumber: Jurnal Distilat Polinema [1]
Fluktuasi ini disebabkan oleh variasi suhu air baku, pH, laju alir, dan kondisi ozone generator. Tindakan korektif yang dapat dilakukan meliputi penyesuaian laju alir, pengendalian suhu air, dan kalibrasi generator secara berkala.
Cara Mengukur Kadar Ozon dalam Air Minum
Pengukuran kadar ozon yang akurat adalah fondasi dari sistem monitoring yang efektif. Terdapat beberapa metode yang diakui secara internasional, dengan tingkat akurasi dan kemudahan yang berbeda.
Metode Indigo dan DPD Colorimetric
Metode Indigo (Standard Methods 4500-O3) adalah gold standard untuk uji ozon dalam air. Prinsipnya: reagen kalium indigo trisulfonat bereaksi dengan ozon menghasilkan perubahan warna biru-keunguan yang diukur pada panjang gelombang 600 ± 10 nm menggunakan spektrofotometer [5]. Metode ini sangat akurat namun memerlukan peralatan laboratorium dan keahlian teknis.
Metode DPD Colorimetric menggunakan reagen DPD yang bereaksi dengan ozon menghasilkan warna merah muda, diukur pada panjang gelombang 525 nm. Metode ini lebih sederhana dan dapat digunakan di lapangan dengan fotometer portable. Alat seperti Hanna HI97757 menggunakan metode DPD dan telah disetarakan dengan Standard Methods, memberikan hasil yang andal [5].
Alat Monitoring: Dari Test Kit hingga Fotometer Portable
Pilihan alat monitoring tergantung pada skala produksi dan kebutuhan akurasi:
| Alat | Rentang Ukur | Akurasi | Kelebihan | Skala Ideal |
|---|---|---|---|---|
| Test Kit HI38054 | 0,0–2,3 mg/L | ±0,1 mg/L | Murah, mudah, 100 test per kit | UKM, pengecekan cepat |
| Fotometer Portable HI97757 | 0,00–2,00 mg/L | ±0,02 mg/L ±3% | IP67, 380g, >800 pengukuran, auto-log 50 data | Menengah, QC lapangan |
| Spektrofotometer Benchtop | 0,00–5,00 mg/L | ±0,01 mg/L | Akurasi laboratorium, metode terstandar | Besar, laboratorium terakreditasi |
HI97757 Ozone Portable Photometer adalah solusi modern yang baru dirilis pada 2025. Spesifikasinya: metode DPD, LED 525 nm dengan bandpass filter 8 nm, rentang 0,00–2,00 mg/L, resolusi 0,01 mg/L, akurasi ±0,02 mg/L ±3% pada 25°C. Desain IP67 tahan air dan debu, baterai AA 3 buah mampu >800 pengukuran, dilengkapi tutorial mode dan penyimpanan data otomatis 50 titik. Alat ini ideal untuk QC lapangan yang membutuhkan hasil cepat dan akurat [5].
Tips pengambilan sampel: karena ozon mudah terurai (<20 menit pada suhu ruang), botol sampel harus diisi penuh tanpa gelembung dan segera diuji. Hindari paparan sinar matahari langsung.
Masalah dan Solusi Terkait Ozonasi AMDK
Mengatasi Kadar Ozon Tidak Stabil
Penyebab utama fluktuasi kadar ozon meliputi:
- Suhu air baku yang tinggi (mempercepat dekomposisi ozon)
- pH di luar kisaran optimal (5–7)
- Laju alir yang tidak konsisten
- Degradasi ozone generator karena endapan mineral
Solusi yang dapat diterapkan:
- Instalasi sistem kontrol otomatis yang mengatur dosis injeksi ozon berdasarkan feedback sensor.
- Kalibrasi ozone generator secara periodik (setiap 1–3 bulan) sesuai rekomendasi pabrikan.
- Pengaturan suhu air baku (<25°C ideal).
- Monitoring kadar ozon setiap jam menggunakan alat portabel seperti HI97757 untuk deteksi dini.
- Pencatatan data time-series untuk analisis tren dan tindakan preventif.
Data dari Polinema menunjukkan bahwa dengan maintenance rutin dan kontrol yang baik, kadar ozon dapat dijaga stabil pada kisaran 0,14–0,16 ppm, menghasilkan produk bebas mikroorganisme [1].
Risiko Over-Injeksi dan Mitigasi Pembentukan Bromat
Over-injeksi ozon terjadi ketika kadar melebihi 0,3 ppm. Risiko yang muncul:
- Migrasi komponen dari kemasan plastik (misalnya antimon) ke dalam air
- Perubahan rasa air menjadi logam atau tajam
- Pembentukan bromat jika air baku mengandung bromida
WHO menetapkan guideline value untuk bromat sebesar 10 µg/L, dan pembentukan bromat dapat diminimalkan dengan:
- Mengontrol dosis ozon sesuai kebutuhan (jangan berlebihan)
- Menggunakan air baku dengan kadar bromida rendah
- Memasang filter granular activated carbon (GAC) setelah ozonasi untuk mereduksi bromat
- Memantau kadar residu ozon secara real-time
Studi di PT XYZ (Karimah Tauhid 2024) menunjukkan bahwa dengan monitoring ketat, residu ozon terjaga pada 0,05–0,06 ppm, sangat aman dan jauh di bawah batas regulasi [7].
Panduan Praktis bagi Produsen AMDK
Rekomendasi Alat Monitoring Berdasarkan Skala Produksi
| Skala Produksi | Alat yang Direkomendasikan | Estimasi Biaya (Indikatif) |
|---|---|---|
| UKM (kapasitas <10.000 L/hari) | Test Kit HI38054 | Rp 500.000–1.000.000 |
| Menengah (10.000–50.000 L/hari) | Fotometer HI97757 | Rp 10.000.000–15.000.000 |
| Besar (>50.000 L/hari) | Spektrofotometer + sensor online | Rp 20.000.000+ |
HANNA Instrument HI97757 cocok untuk skala menengah karena memberikan akurasi mendekati laboratorium dengan portabilitas tinggi. Distribusi alat ini di Indonesia tersedia melalui distributor resmi Hanna Instruments.
Langkah-Langkah Stabilisasi Kadar Ozon
- Ukur suhu air baku – Targetkan <25°C. Jika lebih tinggi, pertimbangkan pendinginan awal.
- Atur pH air – Pertahankan pH 5–7 agar stabilitas ozon optimal.
- Set laju alir – Sesuaikan dengan kapasitas ozone generator (rujuk spesifikasi pabrikan).
- Monitor setiap jam – Gunakan HI97757 untuk mengukur kadar ozon di titik injeksi dan titik akhir.
- Catat data – Buat log harian untuk analisis tren.
- Lakukan tindakan korektif – Jika kadar <0,1 ppm, tingkatkan dosis atau periksa generator. Jika >0,3 ppm, kurangi dosis atau cek kemungkinan kontaminasi.
- Kalibrasi generator – Lakukan setiap bulan sesuai manual.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, produsen AMDK dapat menjaga kadar ozon dalam rentang SNI, memastikan produk aman, dan menghindari risiko regulasi.
Kesimpulan
Ozon adalah disinfektan yang sangat efektif untuk industri AMDK, dengan keunggulan kecepatan reaksi dan tidak meninggalkan residu berbahaya. Namun, keefektifannya sangat bergantung pada pengendalian kadar yang presisi. Regulasi di Indonesia—terutama SNI 3553:2023 dan Permenperin 62/2024—menetapkan batas kadar ozon yang ketat, sehingga monitoring rutin menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar. Fluktuasi kadar ozon dapat menyebabkan kegagalan disinfeksi atau risiko residu, sebagaimana dibuktikan oleh data lapangan. Dengan menggunakan alat monitoring yang tepat seperti HI97757 Ozone Portable Photometer, produsen dapat melakukan deteksi dini, menjaga kualitas produk, dan memastikan kepatuhan terhadap standar. Artikel ini telah memberikan panduan lengkap—dari pemahaman mekanisme ozon, regulasi, metode pengukuran, hingga solusi stabilisasi—yang dapat diterapkan langsung di lini produksi Anda.
Untuk memastikan produk AMDK Anda aman dan sesuai standar, segera lengkapi lini produksi Anda dengan alat monitoring kadar ozon yang terpercaya. Dapatkan informasi lebih lanjut tentang HI97757 Ozone Portable Photometer atau hubungi distributor resmi Hanna Instruments di Indonesia melalui tautan berikut.
Hanna Instrument Indonesia (hannainst.id) yang dikelola langsung oleh Ukurdanuji adalah supplier dan distributor alat ukur serta instrumen pengujian terpercaya di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Spesialisasi kami adalah menyediakan alat ukur kualitas air, termasuk fotometer ozon, untuk mendukung operasional bisnis Anda. Kami memahami kebutuhan industri AMDK akan akurasi dan keandalan, serta siap menjadi mitra Anda dalam mengoptimalkan proses produksi. Untuk mendiskusikan kebutuhan perusahaan Anda, silakan hubungi tim kami melalui halaman kontak resmi untuk konsultasi solusi bisnis yang sesuai.
Rekomendasi Photometer Lainnya
Photometer
Photometer
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan ahli pengolahan air atau regulator terkait. Selalu rujuk pada peraturan perundang-undangan dan standar terbaru.
Referensi
- Nabih, F.N., Takwanto, A., & Rahayu, M. (2021). Pengaruh Konsentrasi Ozon Terhadap Nilai pH dan Total Dissolve Solid (TDS) Produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Distilat Jurnal Teknologi Separasi, Politeknik Negeri Malang. Retrieved from https://jurnal.polinema.ac.id/index.php/distilat/article/view/2228
- Peraturan Menteri Perindustrian No. 62 Tahun 2024 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia untuk Air Minum dalam Kemasan Secara Wajib. Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK. Retrieved from https://peraturan.bpk.go.id/Details/308193/permenperin-no-62-tahun-2024
- World Health Organization. (2017). Guidelines for Drinking-Water Quality, 4th Edition incorporating the 1st addendum – Annex 5: Treatment Methods and Performance (Section A5.1.2: Ozonation). Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/water-safety-and-quality/dwq-guidelines-4/gdwq4-with-add1-annex5.pdf
- UPN Veteran Jawa Timur. (N.D.). Efisiensi Kadar Ozon pada Disinfeksi E.Coli. Jurnal Chempro. Retrieved from https://chempro.upnjatim.ac.id
- American Public Health Association, American Water Works Association, Water Environment Federation. (2017). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 23rd Edition – Method 4500-O3 Ozone (Indigo Colorimetric Method). Washington, DC: APHA.
- BPOM RI. (N.D.). Pedoman Persyaratan Keamanan dan Mutu Air Baku dan Air Minum. Retrieved from https://perpustakaan.pom.go.id/slims/repository/50a8a3093e0503ef93d5eb33852e2385.pdf
- Karimah Tauhid. (2024). Monitoring Residu Ozon pada AMDK di PT XYZ. Retrieved from https://pdfs.semanticscholar.org





