Pemantauan sisa klor bebas di jaringan distribusi air minum masih menjadi tantangan operasional serius bagi banyak PDAM di Indonesia. Studi lapangan di PDAM Kota Padang mengungkapkan bahwa 26,1% titik sampling memiliki kadar sisa klor di bawah baku mutu 0,2 mg/L, terutama pada jarak 3–6 km dari reservoir [1]. Praktik pemantauan yang masih bersifat random dan tidak sistematis di seluruh rayon menciptakan celah data yang berpotensi membahayakan kualitas air hingga ke keran pelanggan.
Artikel ini menyajikan panduan komprehensif pertama yang mengintegrasikan regulasi resmi Indonesia, riset lapangan PDAM, dan praktik teknis berbasis risiko. Anda akan mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang hierarki ambang batas klorin yang berlaku, faktor-faktor yang menyebabkan penurunan kadar klorin di sepanjang jaringan, matriks frekuensi pengujian berdasarkan karakteristik titik distribusi, serta protokol lapangan langkah demi langkah yang siap diterapkan oleh operator dan teknisi PDAM.
- Regulasi dan Ambang Batas Klorin Bebas di Indonesia
- Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Kadar Klorin dalam Jaringan Distribusi
- Menentukan Frekuensi Pengujian Berdasarkan Risiko Titik Jaringan
- Protokol Lapangan Pemantauan Klorin: Langkah Demi Langkah
- Mengatasi Kadar Klorin Rendah di Titik Terminal Jaringan
- Referensi
Regulasi dan Ambang Batas Klorin Bebas di Indonesia
Kebingungan mengenai ambang batas klorin yang aman sering muncul karena adanya beberapa angka berbeda dari berbagai regulator. Pemahaman yang tepat tentang hierarki regulasi ini menjadi fondasi bagi setiap program pemantauan yang efektif.
Perbedaan Permenkes, WHO, dan SNI: Hierarki Ambang Batas
Tiga kerangka regulasi utama mengatur kadar klorin dalam air di Indonesia, masing-masing dengan konteks dan tujuan yang berbeda. Perbedaan angka ini bukanlah inkonsistensi, melainkan cerminan dari perbedaan fungsi air dan kebutuhan perlindungan kesehatan pada setiap tahap distribusi dan konsumsi.
Permenkes 736/2010: Sisa Klor di Jaringan Distribusi
Peraturan Menteri Kesehatan No. 736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum merupakan acuan utama bagi PDAM. Lampiran peraturan ini secara spesifik menetapkan bahwa sisa klor diuji pada outlet reservoir dengan nilai maksimal 1 mg/L dan pada titik terjauh unit distribusi minimal 0,2 mg/L [1]. Regulasi ini juga mengatur frekuensi pengujian internal untuk parameter sisa klor, yaitu minimal satu bulan sekali dengan jumlah sampel yang bervariasi berdasarkan jumlah penduduk yang dilayani: kurang dari 5.000 jiwa memerlukan 1 sampel, 5.000–100.000 jiwa memerlukan 1 sampel per 5.000 penduduk, dan lebih dari 100.000 jiwa memerlukan 1 sampel per 10.000 penduduk ditambah 10 sampel tambahan [1].
Permenkes 492/2010 dan WHO: Batas Maksimal untuk Air Minum
Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum menetapkan batas maksimal klorin sebagai disinfektan sebesar 5 mg/L [2]. Angka yang sama juga ditetapkan oleh World Health Organization dalam dokumen latar belakang Guidelines for Drinking-water Quality, yang menyatakan bahwa guideline value untuk klorin bebas dalam air minum adalah 5 mg/L [3]. WHO juga mencatat bahwa konsentrasi tipikal klorin pada air minum yang telah didesinfeksi berada pada kisaran 0,2–1 mg/L, dan sebagian besar individu dapat merasakan rasa klorin pada konsentrasi di bawah 5 mg/L, bahkan ada yang merasakan pada level serendah 0,3 mg/L [3]. Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) telah menyimpulkan bahwa hipoklorit tidak dapat diklasifikasikan sebagai karsinogenik bagi manusia (Grup 3) [3].
SNI AMDK: Batas Lebih Ketat untuk Air Kemasan
Standar Nasional Indonesia SNI 3554:2015 untuk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) menetapkan batas maksimal klorin bebas sebesar 0,1 mg/L [2]. Angka yang jauh lebih rendah ini masuk akal karena air kemasan tidak memerlukan sisa disinfektan untuk melindungi perjalanan air melalui jaringan distribusi yang panjang. Klorin dalam AMDK hanyalah residu dari proses produksi, bukan agen proteksi aktif.
Mengapa Ada Perbedaan Ambang Batas?
Perbedaan angka ambang batas mencerminkan perbedaan konteks dan tujuan. Pada jaringan distribusi PDAM, sisa klor 0,2–1 mg/L diperlukan untuk mempertahankan efek disinfektan selama air mengalir melalui pipa menuju rumah pelanggan. Air minum kemasan, yang tidak melalui jaringan distribusi ekstensif, tidak memerlukan residual chlorine yang tinggi. Sementara itu, batas maksimal 5 mg/L dari Permenkes 492/2010 dan WHO merupakan batas keamanan kesehatan—angka di mana tidak ada efek toksik yang signifikan pada manusia meskipun air dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang.
Konsekuensi Jika Kadar Klorin di Bawah 0,2 mg/L
Ketika sisa klor bebas turun di bawah 0,2 mg/L, kemampuan desinfeksi berkurang drastis. Patogen seperti Escherichia coli dan virus dapat bertahan hidup dan bahkan berkembang biak di dalam pipa. Riset lapangan PDAM Padang menemukan bahwa pada pagi hari, rata-rata sisa klor hanya 0,14 mg/L dan pada siang hari turun menjadi 0,10 mg/L—keduanya jauh di bawah standar minimal [1]. Penelitian LeChevallier (1999) menunjukkan bahwa bakteri dapat masuk melalui celah sambungan pipa bersama air tanah yang terkontaminasi, dan tanpa residual chlorine yang memadai, risiko kontaminasi biologis meningkat secara signifikan [2].
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penurunan Kadar Klorin dalam Jaringan Distribusi
Pemahaman tentang penyebab penurunan klorin (chlorine decay) sangat penting untuk menentukan di mana dan seberapa sering pengukuran harus dilakukan. Beberapa faktor saling berinteraksi mempengaruhi laju penurunan ini.
Jarak dari Reservoir: Decay 0,036 mg/L per km
Penelitian di PDAM Kota Padang memberikan data kuantitatif yang sangat berharga. Sisa klor berkurang sebesar 0,24 mg/L setelah menempuh jarak 6,75 km, yang berarti terjadi penurunan 0,036 mg/L setiap kilometer [1]. Analisis regresi menunjukkan bahwa konsentrasi sisa klor akan mencapai nilai 0 mg/L pada jarak tempuh 11,17 km [1]. Sementara itu, studi di PDAM Kabupaten Bantul menemukan bahwa konsentrasi optimal sisa klor hanya bertahan hingga jarak maksimal ±2,8 km dari reservoir [2].
Pengaruh pH dan Suhu terhadap Efektivitas Klorin
Penelitian di PDAM Padang mengungkapkan korelasi kuat antara pH dan sisa klor (r = 0,649), serta korelasi sedang antara suhu dan sisa klor (r = 0,520) [1]. pH optimal untuk klorinasi berkisar antara 6,5–7,2; pada pH di atas 7,6 efektivitas klorinasi menurun drastis karena bentuk asam hipoklorit (HOCl) yang lebih efektif sebagai disinfektan berubah menjadi ion hipoklorit (OCl⁻) yang kurang efektif [2]. Suhu yang lebih tinggi pada siang hari mempercepat reaksi decay, menjelaskan mengapa rata-rata sisa klor siang (0,10 mg/L) lebih rendah daripada pagi hari (0,14 mg/L) [1].
Mekanisme Bulk Decay dan Wall Decay
Penurunan klorin dalam pipa terjadi melalui dua mekanisme utama. Bulk decay adalah reaksi klorin dengan senyawa organik dan anorganik yang terlarut dalam air—semakin tinggi kandungan organik, semakin cepat klorin habis. Wall decay adalah reaksi klorin dengan dinding pipa dan biofilm yang menempel—pipa tua dengan akumulasi biofilm memiliki laju wall decay yang lebih tinggi [2]. Penelitian Powell et al. (2000) mengidentifikasi bahwa faktor-faktor seperti konsentrasi bahan organik, suhu, dan pH merupakan pengontrol utama laju bulk decay [2].
Studi Kasus: PDAM Padang – 26,1% Titik di Bawah Baku Mutu
Penelitian oleh Reri Afrianita, Puti Sri Komala, dan Yose Andriani dari Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Andalas (dipresentasikan di Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan II, 2016) memberikan gambaran detail tentang kondisi di Rayon 8 PDAM Kota Padang. Dari 23 titik sampling, 6 titik (26,1%) memiliki sisa klor di bawah 0,2 mg/L, dengan rentang 0,142–0,195 mg/L [1]. Titik-titik bermasalah ini berada pada jarak 3–6 km dari reservoir dengan jumlah persimpangan dan sambungan pipa yang tinggi [1]. Peta kontur sebaran yang dihasilkan dari penelitian ini menunjukkan pola penurunan yang jelas dari reservoir ke arah terminal.
Menentukan Frekuensi Pengujian Berdasarkan Risiko Titik Jaringan
Frekuensi pengujian yang ideal tidak bisa seragam untuk seluruh jaringan. Pendekatan berbasis risiko memungkinkan PDAM mengalokasikan sumber daya secara efisien—lebih sering di titik rawan, lebih jarang di titik aman.
Matriks Zonasi Risiko: Jarak, Sambungan, Material Pipa
Berdasarkan data lapangan dan prinsip hidrolika distribusi, berikut adalah matriks zonasi risiko yang dapat diterapkan:
- Zona Merah (Risiko Tinggi): Jarak >5 km dari reservoir, jumlah sambungan padat, pipa berusia >20 tahun, atau memiliki riwayat kontaminasi. Frekuensi pengujian: minimal 2 kali sehari (pagi dan siang).
- Zona Kuning (Risiko Sedang): Jarak 2–5 km dari reservoir, sambungan moderat, pipa usia 10–20 tahun. Frekuensi pengujian: minimal 1 kali per minggu.
- Zona Hijau (Risiko Rendah): Jarak <2 km dari reservoir, dekat dengan titik injeksi, pipa baru. Frekuensi pengujian: minimal 1 kali per bulan (mengikuti standar minimal Permenkes 736/2010).
Batas zona ini didasarkan pada temuan bahwa konsentrasi optimal sisa klor hanya bertahan hingga ±2,8 km (PDAM Bantul) dan penurunan 0,036 mg/L per km (PDAM Padang) [1].
Frekuensi Ideal untuk Titik Berisiko Tinggi vs Rendah
Untuk titik terminal di perumahan padat penduduk yang berjarak jauh dari reservoir, pengujian dua kali sehari (pagi dan siang) sangat direkomendasikan. Alasannya kuat: penelitian PDAM Padang menunjukkan perbedaan signifikan antara rata-rata sisa klor pagi (0,14 mg/L) dan siang (0,10 mg/L) [1]. Jika hanya diuji pada pagi hari, masalah di siang hari—ketika suhu lebih tinggi mempercepat decay—dapat terlewatkan. Sebaliknya, titik dekat reservoir dengan fluktuasi minimal cukup diuji mingguan atau bulanan.
Perbandingan Metode Pengujian: Test Strip, Colorimeter, Online Analyzer
Pemilihan alat pengukur sangat mempengaruhi kualitas data dan efektivitas pemantauan.
| Metode | Akurasi | Biaya | Mobilitas | Kesesuaian |
|---|---|---|---|---|
| Test Strip | 80–90% | Rendah | Sangat Tinggi | Skrining cepat, titik zona hijau |
| Colorimeter (DPD) | Tinggi (deteksi 0,02 mg/L) | Sedang | Tinggi | Lapangan rutin, titik zona kuning |
| Online Analyzer | Sangat Tinggi | Tinggi | Tetap (instalasi) | 24/7, titik kritis zona merah |
Data dari studi perbandingan metode menunjukkan hasil yang konsisten antara chlorine analyzer (0,42 mg/L), chlorine tester (0,39 mg/L), dan spektrofotometer UV-Vis (0,38 mg/L) [2]. SNI 06-4824-1998 secara spesifik menetapkan metode spektrofotometer sinar tampak (colorimetri) sebagai standar pengujian kadar klorin bebas [2].
Colorimeter HI701: Akurasi dan Portabilitas untuk Lapangan
Untuk pengujian rutin di berbagai titik jaringan, colorimeter portabel seperti Colorimeter Klorin HI701 dari HANNA Instruments menawarkan kombinasi optimal antara akurasi dan mobilitas. Alat ini menggunakan metode DPD pada rentang 0.00–2.50 mg/L—mencakup zona aman 0,2–1 mg/L dan mendeteksi level serendah 0,02 mg/L sesuai rekomendasi WHO [3]. Metode DPD yang digunakan sesuai dengan SNI 06-4824-1998 dan Standard Methods APHA, memastikan hasil yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan ukuran yang ringkas dan pengoperasian satu tombol, HI701 memungkinkan teknisi melakukan pengukuran cepat dan akurat di lapangan tanpa memerlukan peralatan laboratorium yang rumit.
Untuk kebutuhan colorimeter, berikut produk yang direkomendasikan:
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Mengintegrasikan Data Real-Time (pH, Suhu, Debit) ke Jadwal Sampling
PDAM yang telah memiliki sensor online untuk pH, suhu, dan debit dapat memanfaatkan data real-time ini untuk menyesuaikan frekuensi sampling secara dinamis. Sebagai contoh algoritma sederhana:
- Jika pH >7,5 → tingkatkan frekuensi pengujian di zona yang terpengaruh (karena efektivitas klorinasi menurun).
- Jika suhu >30°C → perpendek interval pengujian (karena decay dipercepat).
- Jika debit menurun drastis → periksa titik terminal (karena waktu tinggal air di pipa lebih lama, meningkatkan decay).
Pendekatan adaptif ini memungkinkan PDAM merespons cepat perubahan kondisi operasional tanpa harus menunggu jadwal sampling bulanan.
Protokol Lapangan Pemantauan Klorin: Langkah Demi Langkah
SOP yang terdokumentasi dengan baik adalah kunci konsistensi data. Protokol berikut mengacu pada SNI 6989.57-2008, Standard Methods APHA, dan WHO Technical Note 11 [4].
Peralatan yang Diperlukan dan Kalibrasi
Sebelum berangkat ke lapangan, pastikan peralatan berikut tersedia dan dalam kondisi siap pakai:
- Colorimeter (misal HI701) yang telah dikalibrasi dengan zero solution (air bebas klorin)
- Reagen DPD dalam kondisi belum kedaluwarsa
- pH meter (terkalibrasi) dan termometer
- Gelas kimia atau kuvet bersih (bebas residu)
- Tissue bebas serat untuk membersihkan kuvet
- Buku log atau formulir digital untuk pencatatan
- Aktuator untuk pengambilan sampel dari keran
Prosedur kalibrasi colorimeter: isi kuvet dengan air bebas klorin (air deionisasi atau air yang telah didiamkan 24 jam), lakukan zero/set calibration sesuai manual alat. Verifikasi dengan larutan standar DPD jika tersedia.
Prosedur Pengambilan Sampel Air yang Representatif
- Pilih keran yang sering digunakan oleh pelanggan, bukan keran yang jarang dipakai atau yang terhubung langsung dengan tangki penyimpanan.
- Buka keran dan biarkan air mengalir selama 2–3 menit untuk memastikan sampel mewakili air dari jaringan distribusi, bukan air yang menggenang di pipa rumah.
- Bilas gelas sampling dengan air yang akan diuji sebanyak 3 kali.
- Isi gelas sampling perlahan tanpa menimbulkan gelembung udara.
- Lakukan pengukuran segera dalam waktu 15 menit setelah pengambilan, karena klorin mudah menguap dan bereaksi dengan wadah.
Suhu dan pH air juga harus dicatat pada saat yang sama, karena kedua parameter ini mempengaruhi hasil pengukuran sisa klor.
Pengukuran Menggunakan Metode DPD (Fotometri 515 nm)
- Isi kuvet dengan sampel air hingga garis batas.
- Masukkan kuvet ke colorimeter dan lakukan pembacaan blank (jika diperlukan oleh alat).
- Keluarkan kuvet, tambahkan reagen DPD (satu paket bubuk atau tablet), kocok perlahan selama 10–20 detik hingga larut sempurna.
- Segera masukkan kuvet ke colorimeter dan baca nilai dalam mg/L.
- Catat hasil pengukuran bersama dengan waktu, lokasi, suhu, dan pH.
Metode DPD pada panjang gelombang 515 nm adalah standar internasional yang diakui oleh APHA Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater dan SNI 06-4824-1998 [2]. Prinsipnya: DPD (dietil-p-fenilendiamin) bereaksi dengan klorin bebas membentuk senyawa berwarna merah muda, yang intensitas warnanya sebanding dengan konsentrasi klorin.
Interpretasi Hasil dan Tindak Lanjut
Gunakan pohon keputusan berikut untuk merespons hasil pengukuran:
- <0,2 mg/L: Segera laporkan ke supervisor. Tingkatkan frekuensi pengujian di titik tersebut dan titik-titik sekitarnya. Periksa apakah injeksi klorin di booster berfungsi optimal. Evaluasi kemungkinan kontaminasi.
- 0,2–1 mg/L: Kondisi baik. Lanjutkan pemantauan sesuai jadwal.
- >1 mg/L: Kurangi dosis klorin di titik injeksi atau evaluasi jarak antar titik injeksi. Periksa apakah ada keluhan bau atau rasa dari pelanggan.
- Fluktuasi ekstrem: Bandingkan dengan data pH dan suhu. Jika pH >7,6 atau suhu >30°C, lakukan koreksi pH atau pendinginan air di reservoir.
Daftar Periksa (Checklist) untuk Teknisi Lapangan
Cetak dan gunakan checklist berikut setiap kali melakukan pengukuran:
- ☐ Alat terkalibrasi (zero solution)
- ☐ Reagen cukup dan belum kedaluwarsa
- ☐ Keran dialirkan 2–3 menit
- ☐ Sampel diambil tanpa gelembung
- ☐ Suhu dan pH tercatat
- ☐ Pengukuran dilakukan dalam 15 menit
- ☐ Hasil dicatat di logbook
- ☐ Nilai dibandingkan dengan ambang batas (0,2–1 mg/L)
- ☐ Tindak lanjut jika di luar ambang batas
Mengatasi Kadar Klorin Rendah di Titik Terminal Jaringan
Ketika pengukuran rutin mengonfirmasi bahwa titik terminal secara konsisten memiliki sisa klor di bawah 0,2 mg/L, diperlukan tindakan korektif. Berikut adalah solusi teknis yang dapat dipertimbangkan.
Strategi Booster Chlorination: Lokasi dan Dosis
Berdasarkan data bahwa konsentrasi optimal hanya bertahan hingga ±2,8 km dari reservoir dan terjadi penurunan 0,036 mg/L per km, titik injeksi booster chlorination sebaiknya ditempatkan pada jarak sekitar 2,5–3 km dari reservoir utama. Dosis tambahan dihitung berdasarkan decay rate:
Jika target sisa klor di titik terminal adalah 0,3 mg/L dan lokasi booster berjarak 2 km dari terminal, maka dosis tambahan harus memperhitungkan decay 0,036 mg/L × 2 km = 0,072 mg/L, sehingga dosis minimal di titik booster adalah 0,3 + 0,072 ≈ 0,37 mg/L.
Simulasi menggunakan EPANET 2.0 di Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa 17 dari 75 node (22,7%) mengalami kekurangan sisa klor di bawah 0,2 mg/L, dan injeksi tambahan pada node strategis dapat mengatasi masalah ini [2].
Simulasi EPANET untuk Memprediksi Sebaran Klorin
EPANET 2.0 adalah perangkat lunak gratis dari US Environmental Protection Agency yang memungkinkan PDAM melakukan simulasi kualitas air di jaringan distribusi. Dengan memasukkan data jaringan (diameter pipa, panjang, kekasaran), pola konsumsi, dan karakteristik decay klorin, PDAM dapat:
- Mengidentifikasi node-node kritis yang rentan kekurangan klorin
- Menguji berbagai skenario dosis injeksi tanpa risiko lapangan
- Mengoptimalkan lokasi dan jumlah titik injeksi booster
- Memprediksi dampak perubahan jaringan (misal penambahan sambungan baru)
Studi UGM menggunakan EPANET memberikan visualisasi yang jelas tentang sebaran klorin dan titik-titik lemah (22,7% node <0,2 mg/L) yang memerlukan intervensi [2].
Penyesuaian pH dan Suhu untuk Efektivitas Maksimal
Mengontrol pH air dalam rentang optimal 6,5–7,2 dapat meningkatkan efektivitas klorinasi secara signifikan tanpa perlu menambah dosis klorin. Jika pH air baku secara alami tinggi (>7,6), injeksi CO₂ atau asam lemah dapat dilakukan di reservoir. Penyesuaian ini tidak hanya menghemat biaya klorin tetapi juga mengurangi risiko pembentukan trihalometana (THM) yang lebih tinggi pada pH tinggi. Pendinginan air di reservoir, misalnya dengan naungan atau sirkulasi yang lebih baik, dapat memperlambat laju decay klorin pada siang hari.
Studi Kasus: Solusi di PDAM Bantul dan UGM
PDAM Kabupaten Bantul berhasil mengoptimalkan distribusi klorin dengan memetakan zona efektif hingga jarak ±2,8 km dari reservoir. Untuk melayani area di luar zona ini, mereka menerapkan injeksi booster di titik strategis berdasarkan hasil pemantauan rutin. Simulasi EPANET di UGM memberikan rekomendasi penambahan titik injeksi yang berhasil meningkatkan cakupan node dengan sisa klor ≥0,2 mg/L dari 77,3% menjadi lebih dari 95% [2].
Pemantauan klorin bebas yang efektif bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, melainkan investasi dalam perlindungan kesehatan masyarakat dan kepercayaan pelanggan terhadap layanan PDAM. Tiga pilar utama—pemahaman regulasi, pemetaan faktor risiko, dan protokol lapangan yang konsisten—harus berjalan beriringan untuk memastikan setiap tetes air yang mencapai keran pelanggan aman dan berkualitas.
Mulailah dengan mengaudit jaringan distribusi PDAM Anda menggunakan matriks zonasi risiko yang telah diuraikan. Identifikasi titik-titik kritis, tetapkan frekuensi pengujian yang sesuai, dan lengkapi tim lapangan dengan alat ukur yang andal. Colorimeter Klorin HI701 dari HANNA Instruments, dengan metode DPD yang terstandarisasi dan portabilitas tinggi, adalah pilihan tepat untuk menjamin akurasi data di setiap titik pengukuran.
Rekomendasi Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Colorimeter
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi teknis. Informasi tidak menggantikan peraturan resmi atau konsultasi dengan ahli. Pembaca disarankan merujuk pada peraturan terkini (Permenkes, SNI) dan kondisi spesifik PDAM masing-masing. Penyebutan produk tertentu (misal Colorimeter HI701) bukan merupakan rekomendasi eksklusif; setiap alat ukur harus dikalibrasi dan diverifikasi sesuai standar.
Referensi
- Afrianita, R., Komala, P.S., & Andriani, Y. (2016). Kajian Kadar Sisa Klor di Jaringan Distribusi Penyediaan Air Minum Rayon 8 PDAM Kota Padang. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Lingkungan II, e-ISSN 2541-3880. Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Andalas. Diperoleh dari https://lingkungan.ft.unand.ac.id/images/fileTL/SNSTL_II/OP_026.pdf.
- Kumpulan peraturan dan studi: Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/MENKES/PER/IV/2010; Standar Nasional Indonesia SNI 3554:2015; Studi PDAM Kabupaten Bantul; Simulasi EPANET oleh Universitas Gadjah Mada; Powell, J.R., et al. (2000). “Factors controlling bulk chlorine decay”; LeChevallier, M.W. (1999). “Bacterial growth in distribution systems”.
- World Health Organization. (2003). Chlorine in Drinking-water: Background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality (WHO/SDE/WSH/03.04/45). Diperoleh dari https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/wash-chemicals/chlorine.pdf.
- Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana Pengawasan Kualitas Air Minum. Diarsipkan di FAOLEX, Food and Agriculture Organization. Diperoleh dari https://faolex.fao.org/docs/pdf/ins225271.pdf.

