Titik Kritis pH & Suhu yang Wajib Dipantau di Instalasi Pengolahan Air

pH meter dan thermometer memonitor suhu serta pH air pada instalasi pengolahan air.

Dalam setiap instalasi pengolahan air (IPA), pH dan suhu bukan sekadar parameter pelengkap—keduanya adalah titik kritis yang menentukan keberhasilan seluruh rangkaian proses, mulai dari koagulasi hingga air siap distribusi. Ketika pH meleset dari rentang optimal, koagulan tidak bekerja, flok pecah, media filter berubah fungsi, dan kualitas air di reservoir menurun drastis. Suhu pun demikian: rendah menggeser pH optimum koagulasi, tinggi memicu pertumbuhan mikroba dan meningkatkan risiko senyawa berbahaya. Artikel ini menyajikan panduan komprehensif pertama yang memetakan titik kritis pH dan suhu di setiap tahap IPA—koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan reservoir—dengan landasan prinsip HACCP, data riset global dan lokal, serta rekomendasi alat ukur presisi untuk memastikan efisiensi operasional dan kepatuhan terhadap baku mutu.

  1. Mengapa pH dan Suhu Merupakan Parameter Kritis dalam Instalasi Pengolahan Air?
    1. Skala pH dan Pengaruhnya pada Reaksi Kimia Air
    2. Suhu: Parameter Fisika yang Mempengaruhi Kinetika dan Kelarutan
  2. Tahap 1: Koagulasi – Titik Kritis pH dan Suhu Pertama
    1. Rentang pH Optimal untuk Alum, PAC, dan Ferri Klorida
    2. Pengaruh Suhu Rendah terhadap Dosis dan Efektivitas Koagulan
    3. Studi Kasus: Koreksi pH saat Koagulasi dengan Dosing Kapur atau Asam
  3. Tahap 2: Sedimentasi – Stabilitas Flok dan Titik Kritis pH
    1. Mekanisme Stabilitas Flok dan Peran pH
    2. Tanda-tanda Kegagalan Sedimentasi Akibat pH Tidak Optimal
  4. Tahap 3: Filtrasi – Perubahan pH oleh Media Filter dan Dampaknya
    1. Mekanisme Zeolit dan Karbon Aktif dalam Mengubah pH
    2. Pengaruh Ketebalan Media Filter terhadap Hasil pH
  5. Tahap 4: Reservoir – Suhu sebagai Indikator Kualitas Air Akhir
    1. Dampak Suhu Tinggi: Pertumbuhan Mikroba, Penurunan DO, dan Risiko THM
    2. Strategi Mitigasi: Naungan, Aerasi, dan Pemantauan Real-Time
  6. Penerapan Prinsip HACCP pada Pengukuran pH dan Suhu di IPA
    1. Penetapan Batas Kritis (Critical Limits) pH dan Suhu di Setiap Tahap
    2. Contoh Penerapan HACCP pada Instalasi Pengolahan Air
  7. Alat Ukur pH dan Suhu untuk Pemantauan Akurat di Instalasi Pengolahan Air
    1. Review Spesifikasi dan Keunggulan HI98128 pHep®5
    2. Panduan Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur pH
    3. Alternatif Alat Ukur untuk Pemantauan Real-Time dan Otomatisasi
  8. Troubleshooting Masalah pH dan Suhu di Instalasi Pengolahan Air
    1. Tabel Troubleshooting: Gejala, Penyebab, dan Solusi
    2. Logika Kontrol Dasar untuk Stabilisasi pH Otomatis
  9. Kesimpulan dan Rekomendasi
  10. Referensi

Mengapa pH dan Suhu Merupakan Parameter Kritis dalam Instalasi Pengolahan Air?

pH dan suhu memengaruhi hampir semua reaksi kimia dan fisika dalam pengolahan air. Pada tahap koagulasi, pH menentukan efektivitas hidrolisis koagulan; pada sedimentasi, pH menjaga stabilitas flok; pada filtrasi, media filter dapat mengubah pH secara signifikan; dan pada reservoir, suhu menjadi indikator utama kualitas mikrobiologis.

Menurut World Health Organization (WHO), “pH of water during the coagulation process will affect the coagulant’s chemistry and must be controlled in order to optimize performance and minimize the amount of coagulant in the treated water”[1]. Sementara itu, Health Canada menegaskan bahwa “the operating region for aluminium hydroxide precipitation is in the pH range of 5.5 to 7.7, with minimum solubility occurring at a pH of approximately 6.3 at 25°C”[2]. Kedua otoritas global ini menempatkan pH sebagai parameter yang wajib dikendalikan.

Di Indonesia, Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 menetapkan baku mutu suhu air kelas 1 pada kisaran 22°C–28°C[3]. Standar ini krusial karena suhu di luar rentang tersebut mengganggu kinetika koagulasi, mempercepat pertumbuhan bakteri, dan menurunkan efektivitas desinfeksi. GreenChem.co.id juga mencatat bahwa koagulasi paling efektif pada pH antara 5 hingga 8[4].

Skala pH dan Pengaruhnya pada Reaksi Kimia Air

Skala pH berkisar dari 0 hingga 14, dengan pH 7 sebagai netral. Setiap perubahan satu unit pH mencerminkan perubahan sepuluh kali lipat konsentrasi ion hidrogen. Dalam instalasi pengolahan air, pH memengaruhi kelarutan logam, aktivitas koagulan, dan efektivitas desinfektan. Penelitian menunjukkan bahwa sensor pH memiliki variasi error hingga 0,848% dengan standar deviasi 0,01[5], sehingga akurasi alat ukur menjadi krusial.

Suhu: Parameter Fisika yang Mempengaruhi Kinetika dan Kelarutan

Suhu memengaruhi viskositas air, kelarutan oksigen terlarut (DO), dan laju reaksi kimia. Suhu rendah (misalnya <20°C) meningkatkan viskositas, memperlambat kinetika hidrolisis koagulan, dan menggeser pH optimum koagulasi. Sebaliknya, suhu tinggi (>28°C) menurunkan DO dan mempercepat metabolisme bakteri. Health Canada menekankan bahwa “a lower pH may lead to the formation of less dense and more fragile flocs, resulting in decreased efficiency of the clarification process”[2]—efek yang diperparah oleh suhu rendah.

Tahap 1: Koagulasi – Titik Kritis pH dan Suhu Pertama

Koagulasi merupakan critical control point pertama (CCP-1) dalam sistem HACCP untuk pengolahan air. Pada tahap ini, koagulan ditambahkan untuk menetralkan muatan partikel koloid dan membentuk flok. pH dan suhu sangat menentukan keberhasilan hidrolisis koagulan.

Environmental Protection Agency (EPA) Irlandia dalam Water Treatment Manual: Coagulation, Flocculation and Clarification menyatakan, “The optimum pH for alum coagulation, which is very dependant on the water being treated, usually falls in the range of pH 5 to 8, approximately”[6]. Manual ini juga mengingatkan bahwa “Measurement of coagulation pH is one of the most demanding water quality measurements because of the fouling potential of the water and inherent difficulties with pH measurement, particularly in waters of very low ionic strength”[6].

Rentang pH Optimal untuk Alum, PAC, dan Ferri Klorida

Setiap koagulan memiliki rentang pH kerja yang berbeda:

  • Aluminium sulfat (alum): optimal pada pH 5,5–7,7[2]
  • Poly Aluminium Chloride (PAC): efektif pada pH 5–8, dengan kecenderungan menurunkan pH[4]
  • Ferri klorida: bekerja pada rentang lebih luas, pH 4–11

Data dari GreenChem menunjukkan bahwa PAC menurunkan pH dari 10,39 menjadi 9,97 pada limbah buatan, sementara kapur (koagulan basa) menaikkan pH dari 10,39 menjadi 12,64[4]. Pemilihan koagulan harus disesuaikan dengan pH air baku.

Pengaruh Suhu Rendah terhadap Dosis dan Efektivitas Koagulan

Suhu rendah menggeser daerah pH optimum koagulasi dan mengubah dosis koagulan yang diperlukan. Penelitian pada pengolahan limbah deterjen dengan metode koagulasi-flokulasi menegaskan bahwa suhu rendah meningkatkan viskositas, memperlambat pembentukan flok, dan memerlukan dosis koagulan lebih tinggi[7]. Koefisien korelasi antara suhu dan pH tergolong rendah, namun saling memengaruhi secara signifikan pada kondisi operasional[8].

Studi Kasus: Koreksi pH saat Koagulasi dengan Dosing Kapur atau Asam

Jika pH air baku terlalu rendah untuk koagulan alum, penambahan kapur (Ca(OH)₂) akan menaikkan pH. Sebaliknya, jika pH terlalu tinggi, injeksi asam sulfat atau CO₂ dapat menurunkan pH. Sucofindo menekankan bahwa pengoreksian pH dilakukan dengan mencampurkan senyawa kapur ke dalam air yang disaring sebelum distribusi[9]. Pemantauan pH secara real-time pada bak koagulasi sangat dianjurkan untuk menyesuaikan dosing secara presisi.

Tahap 2: Sedimentasi – Stabilitas Flok dan Titik Kritis pH

Sedimentasi berfungsi sebagai CCP-2, yaitu titik di mana bahaya dikurangi melalui pengendapan flok. pH yang tidak tepat dapat menyebabkan flok menjadi tidak stabil dan pecah, sehingga partikel halus tidak mengendap dan terbawa ke tahap filtrasi.

GreenChem mencatat, “Flok yang sudah terbentuk dapat menjadi tidak stabil dan pecah jika pH terlalu tinggi atau terlalu rendah”[4]. Health Canada menambahkan bahwa pH rendah menghasilkan flok yang kurang padat dan lebih rapuh, sehingga menurunkan efisiensi klarifikasi[2].

Mekanisme Stabilitas Flok dan Peran pH

Flok terbentuk melalui jembatan partikel yang dipengaruhi muatan permukaan. Perubahan pH mengubah muatan permukaan partikel dan gaya elektrostatik. Pada pH optimal, muatan partikel netral dan agregasi berlangsung maksimal. Di luar rentang tersebut, gaya tolak antar partikel meningkat dan flok mudah terurai.

Tanda-tanda Kegagalan Sedimentasi Akibat pH Tidak Optimal

Operator IPA perlu waspada terhadap gejala berikut:

  • Air outlet bak sedimentasi masih keruh
  • Flok halus tidak mengendap dan tampak seperti awan
  • Waktu tinggal lebih lama dari desain
  • Beban filter downstream meningkat drastis

Deteksi dini melalui pemantauan pH secara kontinu dapat mencegah kegagalan total.

Tahap 3: Filtrasi – Perubahan pH oleh Media Filter dan Dampaknya

Media filter tidak hanya menyaring partikel, tetapi juga dapat mengubah pH air secara signifikan. Zeolit, karbon aktif, dan pasir memiliki karakteristik berbeda dalam memengaruhi pH.

Jurnal Kesehatan Tambusai (2024) melaporkan bahwa filtrasi dengan zeolit dapat mencapai 95% normalisasi pH[10]. Sementara itu, Jurnal Kajian Teknik Industri UNIGORO menemukan bahwa karbon aktif cenderung menaikkan pH karena menyerap senyawa asam dan melepaskan KOH, sedangkan zeolit menurunkan pH melalui pertukaran ion H⁺[11].

Mekanisme Zeolit dan Karbon Aktif dalam Mengubah pH

  • Zeolit: mineral aluminosilikat dengan struktur berpori mampu menukar kation. Ion H⁺ dari zeolit dilepaskan dan digantikan oleh kation logam dari air, sehingga pH air turun.
  • Karbon aktif: permukaan aktifnya menyerap molekul asam organik dan melepaskan ion basa (seperti KOH), sehingga pH air naik.

Pengaruh Ketebalan Media Filter terhadap Hasil pH

Penelitian menunjukkan bahwa semakin tebal media filter, semakin besar perubahan pH yang terjadi. Ketebalan zeolit 50 cm dapat menurunkan pH dari 7,5 menjadi 6,8, sementara karbon aktif setebal 30 cm dapat menaikkan pH dari 6,5 menjadi 7,2[11]. Pemilihan jenis dan ketebalan media harus disesuaikan dengan pH influen dan target pH efluen.

Tahap 4: Reservoir – Suhu sebagai Indikator Kualitas Air Akhir

Reservoir adalah titik akhir sebelum distribusi. Suhu di sini menjadi parameter kritis karena memengaruhi kualitas mikrobiologis, kimia, dan efektivitas desinfeksi.

Hasil riset dari Conference SAINTEK Universitas Terbuka menunjukkan bahwa suhu air Sungai Kahayan di beberapa stasiun melebihi baku mutu 28°C akibat intensitas penyinaran matahari langsung[8]. Suhu tinggi mempercepat metabolisme bakteri, menurunkan DO, dan meningkatkan risiko pembentukan trihalomethane (THM) saat klorinasi.

Dampak Suhu Tinggi: Pertumbuhan Mikroba, Penurunan DO, dan Risiko THM

  • Pertumbuhan bakteri: suhu >28°C mempercepat perkembangbiakan bakteri patogen dan pembentuk biofilm.
  • Penurunan DO: kelarutan oksigen menurun drastis pada suhu tinggi, mengganggu proses aerobik.
  • Risiko THM: reaksi antara klorin dan material organik meningkat pada suhu tinggi, menghasilkan senyawa karsinogenik.

WHO menekankan bahwa CT requirements (konsentrasi × waktu kontak) untuk desinfeksi sangat dipengaruhi suhu; pada suhu lebih rendah, waktu kontak atau dosis klorin harus ditingkatkan[1].

Strategi Mitigasi: Naungan, Aerasi, dan Pemantauan Real-Time

Beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan:

  • Naungan: pasang atap atau jaring peneduh di atas reservoir untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.
  • Aerasi: injeksi udara atau air terjun untuk meningkatkan DO dan menurunkan suhu melalui penguapan.
  • Sirkulasi: pompa sirkulasi untuk homogenisasi suhu dan mencegah stratifikasi termal.
  • Pemantauan real-time: gunakan data logger suhu yang terintegrasi dengan sistem SCADA untuk deteksi dini.

Penerapan Prinsip HACCP pada Pengukuran pH dan Suhu di IPA

HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) menyediakan kerangka sistematis untuk mengidentifikasi titik-titik kritis dan menetapkan batas kritis. Dalam konteks IPA, pH dan suhu menjadi critical factor bersama dengan waktu, aktivitas air, dan konsentrasi pengawet[12][13].

Penetapan Batas Kritis (Critical Limits) pH dan Suhu di Setiap Tahap

TahapanParameterBatas KritisTindakan Korektif
Koagulasi (CCP-1)pH5,5–7,7 (untuk alum)[2]Dosing kapur/asam, sesuaikan dosis koagulan
Koagulasi (CCP-1)Suhu22–28°C[3]Evaluasi sumber air baku, pertimbangkan pemanasan/pendinginan
Sedimentasi (CCP-2)pH±0,5 dari pH koagulasiEvaluasi dosis koagulan, periksa flok
Filtrasi (CCP-2)pH efluen6,5–8,5[1]Ganti atau regenerasi media filter
Reservoir (CCP-2)Suhu≤28°C[3]Aktifkan aerasi/sirkulasi, pasang naungan

Contoh Penerapan HACCP pada Instalasi Pengolahan Air

Berikut flowchart sederhana dengan penandaan CCP:

  • Intake → bukan CCP
  • Koagulasi → CCP-1 (pH & suhu)
  • Flokulasi → bukan CCP
  • Sedimentasi → CCP-2 (pH & kekeruhan efluen)
  • Filtrasi → CCP-2 (pH efluen)
  • Desinfeksi → CCP-1 (suhu & dosis klorin)
  • Reservoir → CCP-2 (suhu)

Pendekatan ini memungkinkan operator fokus pada parameter yang benar-benar kritis dan mengambil tindakan korektif tepat waktu.

Alat Ukur pH dan Suhu untuk Pemantauan Akurat di Instalasi Pengolahan Air

Pemantauan yang akurat memerlukan instrumen yang andal. Kriteria pemilihan alat ukur pH dan suhu untuk IPA meliputi:

  • Akurasi tinggi (±0,05 pH atau lebih baik)
  • Kompensasi suhu otomatis (ATC)
  • Kalibrasi mudah (minimal dua titik)
  • Tahan air (waterproof) untuk kondisi lapangan
  • Portabel untuk pengukuran di berbagai titik

Review Spesifikasi dan Keunggulan HI98128 pHep®5

HI98128 dari Hanna Instruments adalah pH dan temperature tester portabel yang dirancang untuk aplikasi industri. Spesifikasinya meliputi:

  • Rentang pH: -2,00 hingga 16,00 pH
  • Resolusi: 0,01 pH
  • Akurasi: ±0,05 pH pada 25°C
  • Kalibrasi: otomatis dua titik (pH 4,01 & 7,01)
  • ATC (Automatic Temperature Compensation) built-in
  • Waterproof IP67
  • Bobot hanya 100 gram

Keunggulan utama HI98128 adalah kemudahan penggunaan di lapangan dengan akurasi setara laboratorium. Alat ini sangat cocok untuk pemantauan rutin di bak koagulasi, sedimentasi, outlet filtrasi, dan reservoir.

Panduan Kalibrasi dan Perawatan Alat Ukur pH

Kalibrasi yang benar adalah kunci akurasi. Langkah-langkahnya:

  1. Bilas elektroda dengan air deionisasi.
  2. Celupkan ke dalam larutan buffer pH 7,01, tunggu hingga stabil, lalu set nilai.
  3. Bilas lagi, celupkan ke buffer pH 4,01, set nilai kedua.
  4. Setelah kalibrasi, bilas dan siap digunakan.

Frekuensi kalibrasi disarankan setiap hari sebelum pengukuran, atau setiap kali pengukuran pada sampel yang sangat berbeda. Perawatan elektroda meliputi penyimpanan dalam larutan KCl (bukan air deionisasi) dan pembersihan berkala dengan larutan pembersih elektroda.

Alternatif Alat Ukur untuk Pemantauan Real-Time dan Otomatisasi

Untuk instalasi yang membutuhkan pemantauan kontinu, tersedia pH transmitter dengan sensor online yang dapat diintegrasikan ke SCADA. Data logger suhu juga dapat dipasang di reservoir untuk merekam tren harian. Mertani.co.id menyediakan sistem water quality monitoring yang mencakup parameter pH, suhu, dan lainnya secara real-time[14]. Sistem ini memungkinkan operator mendeteksi penyimpangan sedini mungkin dan mengambil tindakan otomatis.

Troubleshooting Masalah pH dan Suhu di Instalasi Pengolahan Air

Tabel Troubleshooting: Gejala, Penyebab, dan Solusi

GejalaPenyebabSolusi
pH tidak stabil di reservoirFluktuasi sumber air baku, dosing tidak presisiPasang pH meter online dengan kontrol dosing otomatis
Koagulasi gagal (turbidity tinggi)pH di luar rentang optimal (5–8)Lakukan jar-test, sesuaikan dosis atau jenis koagulan
Flok pecah di sedimentasipH tidak sesuai, flok rapuhKoreksi pH, evaluasi kecepatan pengadukan
pH efluen filtrasi menyimpangMedia filter jenuh, jenis media tidak tepatRegenerasi/ganti media filter, sesuaikan ketebalan
Pembacaan pH meter error (drift)Elektroda kotor, buffer kadaluarsaBersihkan elektroda, kalibrasi ulang dengan buffer baru

Logika Kontrol Dasar untuk Stabilisasi pH Otomatis

Sistem kontrol pH otomatis umumnya menggunakan kontrol PID (Proportional-Integral-Derivative). Sensor pH memberikan sinyal umpan balik ke controller, yang kemudian mengatur dosing pump untuk injeksi asam atau basa. Set point pH biasanya ditetapkan berdasarkan hasil jar-test (misalnya pH 6,5 untuk koagulasi alum). Sistem ini membutuhkan pH transmitter berkualitas, dosing pump yang akurat, dan tuning parameter PID yang tepat. Pemasangan sistem seperti ini secara signifikan mengurangi fluktuasi pH dan menghemat biaya bahan kimia.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Pemantauan pH dan suhu merupakan titik kritis yang menentukan keberhasilan instalasi pengolahan air. Di setiap tahap—koagulasi, sedimentasi, filtrasi, dan reservoir—kedua parameter ini saling memengaruhi dan memerlukan pengendalian yang cermat. Penerapan prinsip HACCP membantu operator mengidentifikasi CCP, menetapkan batas kritis, dan mengambil tindakan korektif tepat waktu.

Rekomendasi praktis untuk operator dan teknisi IPA:

  1. Lakukan jar-test secara berkala untuk menentukan pH optimum koagulan sesuai karakteristik air baku.
  2. Implementasikan pemantauan real-time pH dan suhu di setiap titik kritis, baik menggunakan alat portabel seperti HI98128 maupun sensor online.
  3. Tetapkan batas kritis dan prosedur korektif untuk setiap CCP sesuai standar WHO, Health Canada, dan PP No. 82/2001.
  4. Gunakan alat ukur berkualitas dengan kalibrasi rutin untuk menjaga akurasi.
  5. Mitigasi suhu reservoir melalui naungan, aerasi, dan sirkulasi.

Sudahkah Anda memetakan titik kritis pH dan suhu di instalasi Anda? Dengan pendekatan sistematis berbasis data dan instrumen yang andal, kualitas air sesuai standar dan efisiensi operasional dapat tercapai.


Untuk memastikan akurasi pemantauan pH dan suhu di instalasi Anda, CV. Java Multi Mandiri merupakan supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi terpercaya, khususnya dalam menyediakan solusi untuk kebutuhan bisnis dan industri. Kami dapat membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional pengolahan air melalui produk-produk berkualitas seperti HI98128 serta mendukung pemilihan alat yang tepat sesuai aplikasi Anda. Untuk konsultasi solusi bisnis lebih lanjut, silakan hubungi tim kami melalui halaman kontak atau kunjungi profil perusahaan kami.

Rekomendasi Data Logger


Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan SOP resmi instalasi pengolahan air. Untuk akurasi pengukuran, selalu ikuti pedoman kalibrasi alat. Produk yang disebutkan (HI98128) adalah contoh, penyesuaian sesuai kebutuhan instalasi.

Referensi

  1. Fawell, J.K. (2020). pH in Drinking-water: Background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality. World Health Organization. Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/wash-chemicals/ph.pdf
  2. Health Canada. (2019). Guidelines for Canadian Drinking Water Quality: Guideline Technical Document – pH. Retrieved from https://www.canada.ca/en/health-canada/services/publications/healthy-living/guidelines-canadian-drinking-water-quality-guideline-technical-document-ph.html
  3. Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.
  4. GreenChem.co.id. (n.d.). pH Sebagai Faktor Penting Dalam Proses Koagulasi Dan Flokulasi. Retrieved from https://greenchem.co.id/id/news/ph-sebagai-faktor-penting-dalam-proses-koagulasi-dan-flokulasi
  5. Neliti – Repository jurnal ilmiah Indonesia. (n.d.). Alat Ukur Kualitas Air Minum dengan Parameter pH, Suhu, dan Kekeruhan.
  6. Environmental Protection Agency Ireland. (2020). Water Treatment Manual: Coagulation, Flocculation and Clarification. Retrieved from https://www.epa.ie/publications/compliance–enforcement/drinking-water/advice–guidance/EPA_water_treatment_mgt_coag_flocc_clar2.pdf
  7. Neliti. (n.d.). Pengolahan Limbah Deterjen dengan Metode Koagulasi-Flokulasi.
  8. Conference SAINTEK Universitas Terbuka. (2024). Analisa Pengaruh Suhu, pH dan TDS Terhadap Kualitas Air.
  9. Sucofindo.co.id. (n.d.). Bagaimana Tahapan dan Manfaat Pengolahan Air Bersih. Retrieved from https://www.sucofindo.co.id/artikel-1/pengolahan-air-bersih/pengujian-dan-analisis-21/bagaimana-tahapan-dan-manfaat-pengolahan-air-bersih
  10. Jurnal Kesehatan Tambusai. (2024). Efektivitas Pengelolaan Air Bersih Menggunakan Metode Filtrasi.
  11. Jurnal Kajian Teknik Industri UNIGORO. (n.d.). Penurunan Kadar pH Dengan Metode Filtrasi.
  12. Wikipedia Indonesia. (n.d.). Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (HACCP).
  13. Sudarmaji. (n.d.). Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis (Hazard Analysis Critical Control Point). Neliti.
  14. Mertani.co.id. (n.d.). Water Quality Monitoring System. Retrieved from https://mertani.co.id