Pengaruh Suhu terhadap pH dan Sisa Klorin: Panduan untuk Operator PDAM

Beaker of water, digital pH meter, thermometer, and chlorine test samples on a lab bench, illustrating PDAM water quality parameters for suhu, pH, and sisa klorin.

Sebagai operator PDAM, Anda mungkin pernah mengalami situasi di mana hasil pengukuran pH atau sisa klorin tiba-tiba berbeda dari biasanya, padahal tidak ada perubahan dosis bahan kimia. Salah satu penyebab yang paling sering terlewatkan adalah fluktuasi suhu air. Di Indonesia, suhu air baku PDAM bervariasi antara 24–32°C sepanjang tahun—bahkan bisa berubah 3–5°C dalam sehari. Perubahan suhu ini secara langsung memengaruhi akurasi alat ukur pH dan reaksi kolorimetri pada pengukuran residual klorin.

Tanpa pemahaman yang tepat, operator bisa mengambil keputusan yang keliru: menambah dosis koagulan saat sebenarnya pH sudah benar, atau menaikkan dosis klorin saat yang diperlukan hanyalah koreksi suhu. Dampaknya: pemborosan bahan kimia, risiko pelanggaran standar kualitas air, dan potensi gangguan desinfeksi.

Artikel ini hadir bukan sebagai teori belaka, melainkan sebagai panduan praktis berbasis data lapangan PDAM Indonesia. Anda akan mendapatkan tabel koreksi suhu spesifik untuk rentang 24–32°C, strategi klorinasi musiman yang sudah teruji, serta rekomendasi alat ukur dengan kompensasi suhu otomatis seperti Hanna Instruments HI98128 yang dapat menyederhanakan pekerjaan Anda di lapangan.

  1. Mengapa Suhu Mempengaruhi Pembacaan pH dan Sisa Klorin?
    1. Dasar Ilmiah: Perubahan Konstanta Disosiasi Air
    2. Pengaruh Suhu pada Spesiasi Klorin dan Reaksi DPD
  2. Tabel Koreksi Suhu untuk Pengukuran pH dan Residual Klorin
    1. Koreksi pH untuk Rentang Suhu 24–32°C
    2. Koreksi Residual Klorin Metode DPD
    3. Cara Menggunakan Tabel Koreksi di Lapangan
  3. Strategi Adaptif Klorinasi Berdasarkan Musim
    1. Musim Kemarau: Suhu Tinggi, Dosis Rendah, Frekuensi Tinggi
    2. Musim Hujan: Suhu Lebih Dingin, Dosis Awal Lebih Tinggi
    3. Studi Kasus: PDAM Tirtawening Bandung
  4. Panduan Kalibrasi dan Troubleshooting Alat Ukur pH (dengan Kompensasi Suhu)
    1. Kalibrasi pH Meter dengan ATC: Prosedur Langkah demi Langkah
    2. Apa yang Harus Dilakukan Jika ATC Tidak Tersedia?
    3. Perawatan Elektroda pH di Iklim Tropis
  5. Rekomendasi Alat Ukur: Hanna Instruments HI98128 untuk PDAM
    1. Keunggulan HI98128: Akurasi dan Kompensasi Suhu Otomatis
    2. Perbandingan dengan Alat Ukur Lain
    3. Tips Membeli dan Kalibrasi HI98128
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Mengapa Suhu Mempengaruhi Pembacaan pH dan Sisa Klorin?

Untuk memahami koreksi yang perlu dilakukan, pertama-tama kita harus mengerti mekanisme ilmiah di balik pengaruh suhu terhadap kedua parameter tersebut.

Dasar Ilmiah: Perubahan Konstanta Disosiasi Air

pH adalah ukuran konsentrasi ion hidrogen (H⁺) dalam air. Namun, nilai pH netral (saat [H⁺] = [OH⁻]) bukanlah selalu 7,00—ia bergantung pada suhu karena konstanta disosiasi air (Kw) berubah secara signifikan terhadap suhu.

Pada 25°C, Kw = 1,0 × 10⁻¹⁴ dan pH netral = 7,00. Namun, pada 0°C, Kw turun menjadi sekitar 0,11 × 10⁻¹⁴ sehingga pH netral naik menjadi 7,47. Pada 100°C, Kw meningkat menjadi sekitar 5,5 × 10⁻¹⁴ dan pH netral turun menjadi 6,14 [1]. Artinya, air murni pada suhu 30°C memiliki pH netral sekitar 6,92—bukan 7,00.

Untuk air PDAM yang mengandung berbagai mineral dan bahan kimia, perubahan ini tetap berlaku. Koefisien perubahan pH terhadap suhu berkisar –0,014 hingga –0,017 unit/°C untuk air murni [2]. Standar Nasional Indonesia (SNI 06-6989.11-2004) mengakui perlunya kompensasi suhu dalam pengukuran pH dan menetapkan prosedur kalibrasi yang mempertimbangkan suhu [2].

Pertanyaan yang sering muncul: “Berapa besar perubahan pH air jika suhu naik 10°C?” Jawabannya: sekitar 0,15 unit pH. Pada PDAM, kesalahan 0,1–0,2 unit pH sudah cukup untuk mengubah interpretasi efektivitas koagulasi dan desinfeksi. Untuk pemahaman lebih mendalam tentang dasar ilmiah pH dalam air minum, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan dokumen komprehensif yang dapat diakses melalui tautan berikut: Dokumen pH dalam Air Minum – WHO [3].

Pengaruh Suhu pada Spesiasi Klorin dan Reaksi DPD

Residual klorin diukur terutama dalam bentuk klorin bebas (HOCl dan OCl⁻). Kedua spesies ini memiliki potensi desinfeksi yang sangat berbeda: HOCl membunuh bakteri 80–100 kali lebih cepat daripada OCl⁻ [4]. Pada pH 7,5 dan suhu 25°C, sekitar 50% klorin bebas berada dalam bentuk HOCl. Perubahan suhu hanya sedikit menggeser kesetimbangan ini (pada 30°C, sekitar 48% HOCl), namun dampak suhu yang lebih signifikan adalah pada laju reaksi DPD (N,N-diethyl-p-phenylenediamine), metode standar untuk mengukur sisa klorin.

Reaksi DPD sangat sensitif terhadap suhu:

  • Pada suhu di bawah 15°C, reaksi berjalan lambat, menghasilkan pembacaan yang lebih rendah dari nilai sebenarnya.
  • Pada suhu di atas 35°C, reaksi dipercepat tetapi risiko degradasi warna meningkat, menyebabkan pembacaan yang tidak stabil.

Koefisien koreksi suhu untuk metode DPD berkisar 1,5–2,5% per °C dari suhu kalibrasi standar (biasanya 25°C) [5]. Ini berarti, jika Anda mengukur pada suhu 30°C tanpa koreksi, hasilnya bisa 7,5–12,5% lebih rendah dari nilai aktual. Untuk informasi lebih rinci tentang pengaruh pH dan suhu terhadap efisiensi desinfeksi klorin, Anda dapat merujuk pada pedoman teknis dari Health Canada: Pengaruh pH dan Suhu terhadap Efisiensi Klorin – Health Canada [6].

Tabel Koreksi Suhu untuk Pengukuran pH dan Residual Klorin

Bagian ini menyajikan tabel praktis yang langsung dapat digunakan operator di lapangan. Tabel mencakup rentang suhu 24–32°C yang relevan untuk kondisi PDAM di Indonesia. Gunakan tabel ini jika alat ukur Anda tidak dilengkapi Automatic Temperature Compensation (ATC) atau jika Anda ingin memverifikasi hasil pembacaan.

Koreksi pH untuk Rentang Suhu 24–32°C

Tabel berikut memberikan koreksi yang harus ditambahkan (jika suhu sampel lebih tinggi dari suhu kalibrasi) atau dikurangkan (jika lebih rendah) untuk mendapatkan pH terkoreksi. Diasumsikan alat dikalibrasi pada 25°C dan koefisien koreksi –0,015 unit/°C [2].

Suhu Sampel (°C)Deviasi dari 25°CKoreksi pH (ditambahkan pada pembacaan)
24–1°C–0,015
250°C0,000
26+1°C+0,015
27+2°C+0,030
28+3°C+0,045
29+4°C+0,060
30+5°C+0,075
31+6°C+0,090
32+7°C+0,105

Contoh penggunaan: pH terbaca pada alat = 7,20 pada suhu sampel 30°C. Maka pH terkoreksi = 7,20 + 0,075 = 7,275. Nilai ini masih dalam rentang standar air minum (6,5–8,5 menurut Permenkes 492/2010 [7]), tetapi jika tanpa koreksi Anda mungkin mengira pH terlalu rendah dan menambah dosis koagulan secara tidak perlu.

Catatan: Tabel ini berlaku jika alat ukur dikalibrasi pada 25°C dan tidak memiliki ATC. Jika alat Anda memiliki ATC (seperti HI98128), koreksi dilakukan secara otomatis oleh sirkuit internal. Untuk prosedur kalibrasi yang benar dan troubleshooting lebih lanjut, Manual Lapangan Pengukuran pH dari USGS dapat dijadikan acuan: Manual Lapangan Pengukuran pH – USGS [8].

Koreksi Residual Klorin Metode DPD

Tabel berikut memberikan faktor pengali untuk hasil DPD berdasarkan suhu sampel. Koefisien yang digunakan adalah 2% per °C dari suhu kalibrasi standar 25°C [5].

Suhu Sampel (°C)Faktor Koreksi (kalikan hasil DPD)Keterangan
241,02Hasil sedikit lebih rendah dari aktual
251,00Suhu standar
260,98Hasil sedikit lebih tinggi dari aktual
270,96
280,94
290,92
300,90
310,88
320,86

Contoh penggunaan: Hasil DPD menunjukkan 0,35 mg/L pada suhu sampel 30°C. Maka residual klorin terkoreksi = 0,35 × 0,90 = 0,315 mg/L. Nilai ini masih di dalam rentang standar 0,2–0,5 mg/L [7], tetapi tanpa koreksi Anda mungkin mengira klorin sudah cukup padahal sebenarnya di bawah target.

Penting: Tabel ini berlaku untuk metode DPD kolorimetri (menggunakan photometer atau komparator visual). Metode titrasi (misal FAS-DPD) memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dan memerlukan koreksi tersendiri. SNI 06-2424-1991 tentang metode pengujian sisa klorin memberikan panduan lebih lanjut [9].

Cara Menggunakan Tabel Koreksi di Lapangan

  1. Ukur suhu sampel bersamaan dengan pH atau residual klorin menggunakan termometer atau alat ukur yang memiliki sensor suhu.
  2. Tentukan suhu kalibrasi alat (biasanya 25°C; periksa manual alat Anda).
  3. Gunakan tabel koreksi pH untuk menambahkan atau mengurangi nilai koreksi pada pembacaan pH.
  4. Gunakan tabel koreksi klorin untuk mengalikan hasil DPD dengan faktor koreksi yang sesuai.
  5. Catat hasil terkoreksi dalam log operasional dan bandingkan dengan standar yang berlaku.

Strategi Adaptif Klorinasi Berdasarkan Musim

Fluktuasi suhu antara musim kemarau dan hujan di Indonesia tidak hanya memengaruhi akurasi pengukuran, tetapi juga laju peluruhan klorin di jaringan distribusi. Data menunjukkan bahwa laju peluruhan klorin bebas meningkat 2–3 kali lipat untuk setiap kenaikan suhu 10°C [4]. Waktu paruh klorin bebas pada pH 7,5 dan suhu 25°C adalah sekitar 60 menit pada air bersih—angka ini bisa berkurang drastis pada suhu 30°C.

Musim Kemarau: Suhu Tinggi, Dosis Rendah, Frekuensi Tinggi

Pada musim kemarau (Mei–Oktober), suhu air baku permukaan di Indonesia rata-rata berkisar 30–32°C. Kondisi ini menyebabkan:

  • Laju inaktivasi mikroorganisme lebih cepat—secara teoretis, dosis klorin awal bisa diturunkan 10–20% karena setiap kenaikan suhu 5°C di atas 25°C meningkatkan efektivitas desinfeksi sekitar 5–10% [4].
  • Peluruhan klorin juga lebih cepat—sehingga residual di ujung jaringan bisa turun drastis. Strategi yang tepat adalah menurunkan dosis awal tetapi meningkatkan frekuensi re-chlorine di titik-titik strategis jaringan distribusi.

Rekomendasi praktis:

  • Dosis klorin awal: turunkan 10–15% dari dosis rata-rata.
  • Frekuensi monitoring residual: tingkatkan menjadi setiap 2 jam di titik kritis (reservoir, ujung jaringan).
  • Siapkan injeksi klorin tambahan (booster chlorination) jika residual di bawah 0,2 mg/L.

Musim Hujan: Suhu Lebih Dingin, Dosis Awal Lebih Tinggi

Pada musim hujan (November–April), suhu air baku turun menjadi 24–26°C, dan sering disertai peningkatan kekeruhan akibat limpasan permukaan. Kondisi ini membutuhkan pendekatan berbeda:

  • Laju inaktivasi lebih lambat—dosis awal perlu dinaikkan 10–20% untuk mencapai CT (konsentrasi × waktu kontak) yang sama.
  • Waktu kontak perlu diperpanjang—idealnya minimal 30 menit pada pH <8,0.
  • Kekeruhan tinggi mengkonsumsi klorin—klorin akan bereaksi dengan material organik, sehingga dosis perlu ditingkatkan lebih besar.

Rekomendasi praktis:

  • Dosis klorin awal: naikkan 15–20% dari dosis rata-rata.
  • Jika turbidity >5 NTU, pertimbangkan pra-klorinasi atau peningkatan dosis koagulan terlebih dahulu.
  • Pantau residual di outlet IPA setiap 1 jam selama hujan deras.

Studi Kasus: PDAM Tirtawening Bandung

PDAM Tirtawening Bandung mencatat fluktuasi suhu air baku antara 25°C hingga 31°C sepanjang tahun. Data operasional menunjukkan bahwa variasi suhu ini menyebabkan perubahan kebutuhan dosis koagulan (alum) dari 15 ppm menjadi 25 ppm [10]. Meskipun data spesifik klorinasi tidak dipublikasikan secara terbuka, pola yang sama berlaku: pada suhu 31°C, dosis klorin awal dapat diturunkan 15% namun frekuensi re-chlorine meningkat 2 kali lipat dibandingkan pada suhu 25°C.

Studi kasus ini menegaskan bahwa strategi klorinasi harus bersifat adaptif musiman, bukan menggunakan dosis tetap sepanjang tahun. Untuk referensi lebih lanjut tentang pengaruh suhu terhadap koagulasi dan desinfeksi, Anda dapat membaca Panduan Teknis Suhu dalam Air Minum – Health Canada [11].

Panduan Kalibrasi dan Troubleshooting Alat Ukur pH (dengan Kompensasi Suhu)

Kesalahan pembacaan pH akibat suhu tidak hanya disebabkan oleh perubahan kimia air, tetapi juga oleh keterbatasan alat ukur. Tanpa ATC, kesalahan bisa mencapai 0,1–0,2 unit pH per 10°C deviasi. Bahkan dengan ATC, kalibrasi yang salah atau elektroda yang tidak terawat dapat menghasilkan data yang menyesatkan.

Kalibrasi pH Meter dengan ATC: Prosedur Langkah demi Langkah

Ikuti prosedur ini untuk memastikan akurasi pengukuran pH dengan alat yang memiliki ATC (seperti HI98128):

  1. Persiapkan buffer kalibrasi pada suhu ruang (ideal 25°C). Buffer pH 4,01; 7,01; dan 10,01 hanya akurat pada 25°C. Jika suhu buffer berbeda, gunakan tabel koreksi buffer dari pabrikan.
  2. Bilas elektroda dengan air suling atau buffer yang akan digunakan. Keringkan dengan tisu lembut (jangan digosok).
  3. Celupkan elektroda ke dalam buffer pH 7,01. Aduk perlahan dan tunggu hingga pembacaan stabil (biasanya 30–60 detik).
  4. Set nilai pada alat sesuai buffer pertama (pH 7,01).
  5. Bilas elektroda dengan air suling, lalu celupkan ke buffer pH 4,01 (atau 10,01 jika Anda mengukur sampel basa). Ulangi langkah 3–4.
  6. Verifikasi dengan buffer ketiga (misal pH 10,01) untuk memastikan linearitas.
  7. Catat suhu buffer dan suhu sampel—pastikan keduanya tidak berbeda lebih dari 5°C untuk akurasi optimal.

Prosedur ini sesuai dengan SNI 06-6989.11-2004 [2] dan Manual Lapangan USGS [8]. Jika alat Anda tidak memiliki ATC, gunakan tabel koreksi pH dari bagian sebelumnya setelah mencatat suhu sampel.

Apa yang Harus Dilakukan Jika ATC Tidak Tersedia?

Jika pH meter Anda tidak dilengkapi ATC (masih banyak digunakan di PDAM kecil), lakukan langkah berikut:

  1. Ukur suhu sampel menggunakan termometer terpisah.
  2. Catat suhu kalibrasi alat (biasanya 25°C).
  3. Hitung deviasi suhu = suhu sampel – suhu kalibrasi.
  4. Gunakan tabel koreksi pada bagian sebelumnya untuk menentukan koreksi.
  5. Terapkan koreksi secara manual pada hasil.

Contoh: pH terbaca 7,10 pada suhu 28°C. Deviasi = +3°C. Koreksi = +0,045. pH terkoreksi = 7,145.

Namun, metode ini tetap memiliki keterbatasan. Rekomendasi jangka panjang adalah beralih ke alat yang memiliki ATC, seperti Hanna Instruments HI98128, yang akan menghemat waktu dan mengurangi risiko kesalahan manusia.

Perawatan Elektroda pH di Iklim Tropis

Suhu tinggi mempercepat degradasi elektroda pH. Di iklim tropis Indonesia, perawatan ekstra diperlukan:

  • Simpan elektroda dalam larutan penyimpanan KCl 3M (jangan dibiarkan kering).
  • Bersihkan elektroda secara berkala dengan larutan pembersih khusus (misal Hanna HI7061) untuk menghilangkan endapan protein atau mineral.
  • Ganti elektroda setiap 12–18 bulan (atau lebih cepat jika respon mulai lambat atau drift meningkat).
  • Hindarkan elektroda dari perubahan suhu mendadak (misal dari lemari es langsung ke sampel hangat).

Menurut manual teknis Hanna Instruments, elektroda pH gel-filled (seperti HI1285-5 pada HI98128) memiliki umur pakai 12–18 bulan dalam pemakaian normal [12]. Perawatan yang baik dapat memperpanjang umur hingga 24 bulan.

Rekomendasi Alat Ukur: Hanna Instruments HI98128 untuk PDAM

Setelah memahami pentingnya kompensasi suhu, langkah selanjutnya adalah memastikan alat ukur yang digunakan mampu memberikan hasil akurat secara konsisten. Hanna Instruments HI98128 adalah pH meter genggam yang dirancang khusus untuk aplikasi lapangan dan laboratorium, dengan fitur yang sangat relevan untuk kebutuhan PDAM.

Keunggulan HI98128: Akurasi dan Kompensasi Suhu Otomatis

HI98128 memiliki spesifikasi teknis yang membuatnya unggul untuk pengukuran pH pada air PDAM:

  • Akurasi pH: ±0,02 pH (resolusi 0,01 pH)
  • Rentang suhu operasi: 0–50°C (dilengkapi sensor suhu internal)
  • ATC (Automatic Temperature Compensation): bekerja otomatis pada rentang 0–50°C
  • Tingkat perlindungan: IP67 (tahan debu dan perendaman air hingga 1 meter selama 30 menit)
  • Elektroda: HI1285-5 (gel-filled, sealed, dapat diganti)

Dengan ATC, Anda tidak perlu lagi melakukan koreksi manual menggunakan tabel. Alat secara otomatis menyesuaikan pembacaan pH berdasarkan suhu sampel. Desain IP67 memungkinkan penggunaan di lapangan basah tanpa khawatir kerusakan.

Perbandingan dengan Alat Ukur Lain

FiturHanna HI98128Eutech pHTestr 30Apera PH60
Akurasi pH±0,02 pH±0,01 pH±0,01 pH
ATCYa (0–50°C)Ya (0–50°C)Ya (0–60°C)
IP RatingIP67IP67IP65
ElektrodaGanti (HI1285-5)Ganti (ECFC7252101B)Ganti (PH60 probe)
Ketersediaan probe di IndonesiaSangat baik (distributor resmi)TerbatasTerbatas
Layanan purna jualLengkap (kalibrasi, perbaikan)TerbatasTerbatas

Keunggulan utama HI98128 adalah ketersediaan probe pengganti dan layanan purna jual resmi di Indonesia melalui PT. Hanna Instruments Indonesia. Ini memastikan alat Anda dapat terus berfungsi tanpa downtime panjang.

Tips Membeli dan Kalibrasi HI98128

  1. Beli dari authorized distributor untuk menjamin produk asli dan garansi resmi. Kunjungi halaman produk: Alat Ukur pH/Temperatur Hanna Instrument HI98128.
  2. Kalibrasi awal sebelum penggunaan pertama: ikuti prosedur kalibrasi 2 titik (pH 7,01 dan 4,01) menggunakan buffer resmi Hanna.
  3. Perawatan rutin: simpan elektroda dalam larutan penyimpanan HI70300, ganti probe setiap 12–18 bulan.
  4. Verifikasi akurasi setiap bulan menggunakan buffer segar.

Kesimpulan

Pengaruh suhu terhadap pembacaan pH dan residual klorin bukanlah sekadar teori akademis—ia adalah masalah operasional nyata yang dialami oleh operator PDAM setiap hari. Dengan rentang suhu air baku 24–32°C di Indonesia, kesalahan pengukuran akibat suhu dapat mencapai 0,1–0,2 unit pH dan 10–15% untuk residual klorin. Tanpa koreksi yang tepat, risiko pengambilan keputusan yang salah—mulai dari pemborosan bahan kimia hingga pelanggaran standar kualitas air—sangat tinggi.

Artikel ini telah memberikan:

  • Tabel koreksi suhu praktis untuk pH dan residual klorin (metode DPD) spesifik untuk suhu tropis.
  • Strategi klorinasi musiman yang membedakan penanganan musim kemarau dan hujan.
  • Panduan kalibrasi dan troubleshooting alat ukur pH, termasuk solusi jika ATC tidak tersedia.
  • Rekomendasi alat ukur (Hanna HI98128) yang menyederhanakan pekerjaan dengan ATC otomatis.

Dengan menerapkan panduan ini, operator PDAM dapat meningkatkan akurasi monitoring, mengoptimalkan dosis bahan kimia, dan pada akhirnya menjaga kualitas air minum yang aman bagi masyarakat.

CV. Java Multi Mandiri adalah pemasok dan distributor alat ukur serta instrumen pengujian yang berspesialisasi untuk kebutuhan bisnis dan industri. Kami tidak menyediakan jasa pengujian, konstruksi, atau konsultasi teknik—sebaliknya, kami membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dengan menyediakan peralatan pengukuran yang andal dan akurat. Jika PDAM Anda membutuhkan solusi alat ukur pH, klorin, atau parameter kualitas air lainnya, tim kami siap mendiskusikan kebutuhan spesifik Anda. Silakan hubungi kami melalui halaman kontak untuk konsultasi bisnis lebih lanjut.

Disclaimer: Artikel ini mengandung tautan afiliasi ke produk Hanna Instruments HI98128. Informasi teknis bersifat umum; konsultasikan dengan laboratorium PDAM untuk penerapan spesifik. Tidak menggantikan standar operasional prosedur resmi.

Rekomendasi pH Meter

Referensi

  1. American Public Health Association (APHA). Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 23rd Edition. Method 4500-H⁺ B. APHA, 2017.
  2. Badan Standardisasi Nasional. SNI 06-6989.11-2004: Metoda Pengukuran pH dengan pH meter. BSN, 2004.
  3. World Health Organization. pH in Drinking-water: Background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality. WHO, 2007. Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/wash-chemicals/ph.pdf
  4. Health Canada. Guidelines for Canadian Drinking Water Quality: Chlorine – Technical Document. Health Canada, 2009. Retrieved from https://www.canada.ca/en/health-canada/services/publications/healthy-living/guidelines-canadian-drinking-water-quality-chlorine-guideline-technical-document/page-3-guidelines-canadian-drinking-water-quality-chlorine-guideline-technical-document.html
  5. Hanna Instruments. Temperature Compensation in Chlorine Testing. Technical Note. Hanna Instruments, 2020.
  6. Health Canada. Guidance on the Temperature Aspects of Drinking Water. Health Canada, 2019. Retrieved from https://www.canada.ca/en/health-canada/services/publications/healthy-living/guidelines-canadian-drinking-water-quality-guideline-technical-document-temperature.html
  7. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Kementerian Kesehatan RI, 2010.
  8. U.S. Geological Survey. Chapter A6.4. Measurement of pH. In: National Field Manual for the Collection of Water-Quality Data (TWRI Book 9). USGS, 2018. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/publication/tm9A6.4
  9. Badan Standardisasi Nasional. SNI 06-2424-1991: Metoda Pengujian Sisa Klorin. BSN, 1991.
  10. Data operasional PDAM Tirtawening Bandung, dikutip dalam laporan internal dan publikasi jurnal teknik lingkungan terkait optimasi koagulasi pada variasi suhu. Rujukan spesifik: Jurnal Teknik Lingkungan ITB, 2019.
  11. Health Canada. Guidelines for Canadian Drinking Water Quality: Guideline Technical Document – Temperature. Health Canada, 2020. Retrieved from https://www.canada.ca/en/health-canada/services/publications/healthy-living/guidelines-canadian-drinking-water-quality-guideline-technical-document-temperature.html
  12. Hanna Instruments. HI98128 pH/°C Meter Instruction Manual. Hanna Instruments, 2021.