Protokol Sampling Konduktivitas untuk QC Operator Pencucian Botol

Seorang operator QC di lantai produksi melakukan pengambilan sampel air bilas dari mesin pencuci botol.

Pendahuluan: Mengapa Protokol Sampling Konduktivitas Krusial untuk QC Pencucian Botol?

Di industri pengemasan minuman dan barang konsumen, konsistensi hasil pencucian botol dan drum bekas menjadi penentu utama kualitas produk akhir. Namun, banyak operator QC di lantai produksi masih menghadapi masalah klasik: hasil cuci botol yang tidak konsisten, konduktivitas air bilas yang fluktuatif, dan tidak adanya standar protokol sampling yang terpadu. Padahal, parameter konduktivitas air bilas adalah indikator langsung efektivitas pembilasan dan kebersihan botol.

Air bilas yang baik harus memiliki konduktivitas rendah—umumnya di bawah 200 μS/cm untuk air murni. Sebaliknya, konduktivitas di atas 250 μmhos/cm sudah mengindikasikan kontaminasi serius yang dapat memengaruhi keamanan produk. Ironisnya, industri kemasan Indonesia hingga saat ini belum memiliki panduan spesifik yang mengatur protokol sampling konduktivitas untuk unit pencucian botol dan drum. Celah inilah yang mendorong penyusunan artikel ini.

Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teori fisika konduktivitas, protokol sampling terstandarisasi, rekomendasi alat dan kalibrasi, serta panduan troubleshooting praktis. Kami akan membahas secara sistematis: prinsip dasar konduktivitas, penentuan titik sampling pada mesin cuci, prosedur pengukuran langkah-demi-langkah, kalibrasi alat ukur seperti Hanna HI8733, troubleshooting fluktuasi konduktivitas, dan integrasi dengan sistem mutu industri.

Prinsip Konduktivitas sebagai Indikator Kualitas Air

  1. Pendahuluan: Mengapa Protokol Sampling Konduktivitas Krusial untuk QC Pencucian Botol?
  2. Prinsip Dasar Konduktivitas: Memahami Parameter Kunci Air Bilas

    1. Apa Itu Konduktivitas dan Mengapa Penting untuk Air Bilas?
    2. Pengaruh Suhu terhadap Akurasi Pengukuran
  3. Penentuan Titik Sampling Konduktivitas pada Mesin Cuci Botol & Drum

    1. Titik Sampling pada Mesin Cuci Botol Tipe Batch vs Continuous Washer
    2. Diagram Lokasi Sampling pada Mesin Cuci Botol
  4. Prosedur Sampling Konduktivitas Langkah-demi-Langkah untuk Operator

    1. Persiapan Alat dan Bahan
    2. Teknik Pengambilan Sampel Air Bilas
    3. Prosedur Pengukuran dengan Hanna HI8733
  5. Kalibrasi Alat Ukur Konduktivitas: Panduan dengan Hanna HI8733

    1. Menyiapkan Larutan Standar KCl
    2. Prosedur Kalibrasi Hanna HI8733 Step-by-Step
    3. Frekuensi Kalibrasi dan Pemeliharaan Sensor
  6. Troubleshooting: Mengatasi Konduktivitas Air Bilas Tidak Stabil

    1. Penyebab Umum Fluktuasi Konduktivitas
    2. Flowchart Troubleshooting untuk Operator
    3. Studi Kasus: Mengatasi Konduktivitas Tidak Stabil di Lini Produksi
  7. Integrasi Protokol dengan Sistem Mutu Industri

    1. Template Logbook Harian QC Konduktivitas
    2. Penyelarasan dengan Standar SNI dan Internasional
  8. Kesimpulan dan Rekomendasi
  9. Daftar Pustaka

Prinsip Dasar Konduktivitas: Memahami Parameter Kunci Air Bilas

Konduktivitas listrik adalah ukuran kemampuan air untuk menghantarkan arus listrik, yang berkorelasi langsung dengan konsentrasi ion terlarut di dalamnya. Satuan pengukuran yang umum digunakan adalah mikrosiemens per sentimeter (μS/cm) atau milisiemens per sentimeter (mS/cm). Secara praktis, konduktivitas memiliki korelasi erat dengan Total Dissolved Solids (TDS): 1 μS/cm setara dengan sekitar 0,6–0,7 ppm TDS.

Untuk air bilas dalam pencucian botol, nilai konduktivitas yang rendah menjadi indikator utama bahwa residu deterjen, mineral, dan kontaminan lain telah berhasil dibilas. Air murni idealnya memiliki konduktivitas 0–200 μS/cm. Sebagai acuan, air layak minum umumnya berada di kisaran 42–500 μS/cm.

Apa Itu Konduktivitas dan Mengapa Penting untuk Air Bilas?

Konduktivitas mengukur kemampuan air menghantarkan listrik akibat adanya ion bermuatan. Semakin banyak ion terlarut (garam, mineral, deterjen), semakin tinggi konduktivitas. Oleh karena itu, konduktivitas air bilas menjadi parameter efisiensi pencucian: setelah proses pembilasan, air bilas akhir harus memiliki konduktivitas serendah mungkin untuk memastikan tidak ada residu yang tertinggal pada permukaan botol atau drum.

Dalam konteks QC industri, memonitor konduktivitas pada setiap tahap pencucian—pre-rinse, main wash, dan final rinse—memungkinkan operator mendeteksi penyimpangan secara real-time dan mengambil tindakan korektif sebelum kualitas produk terdampak.

Pengaruh Suhu terhadap Akurasi Pengukuran

Suhu adalah variabel paling kritis dalam pengukuran konduktivitas. Elektrolit dalam air menunjukkan perubahan konduktivitas sekitar 2% per derajat Celcius pada suhu ruang [3]. Artinya, fluktuasi suhu sekecil 1°C sudah cukup mengubah hasil pengukuran secara signifikan jika tidak dikompensasi dengan benar.

Standar internasional ISO 7888:1985 [1] menetapkan bahwa pengukuran konduktivitas wajib dikoreksi ke suhu referensi 25,0°C. Dokumen tersebut menyediakan tabel faktor koreksi suhu (f25) dari 0°C hingga 35°C yang dapat digunakan untuk mengonversi nilai konduktivitas mentah ke nilai pada 25°C. Lebih lanjut, NIST Special Publication 260-142 [3] menekankan bahwa kestabilan suhu sangat krusial—perubahan 0,005°C saja dapat menyebabkan variasi ±0,01% pada konduktivitas.

Oleh karena itu, alat ukur yang dilengkapi Automatic Temperature Compensation (ATC) menjadi keharusan di lingkungan produksi. Hanna HI8733, misalnya, memiliki ATC pada rentang 0–50°C dengan koefisien β yang dapat diatur dari 0 hingga 2,5%/°C, sehingga operator tidak perlu melakukan koreksi manual.

Standar ISO 7888 Metode Pengukuran Konduktivitas Air


Penentuan Titik Sampling Konduktivitas pada Mesin Cuci Botol & Drum

Keakuratan data konduktivitas sangat bergantung pada representativitas sampel yang diambil. Pedoman teknis pengambilan sampel air dari DLHK Banten menegaskan bahwa titik pengambilan sampel harus ditentukan sedemikian rupa sehingga sampel benar-benar mewakili kondisi air yang diukur. Untuk mesin cuci botol dan drum, kami merekomendasikan minimal tiga titik sampling kritis:

  1. Pre-rinse (bilas awal) – air yang digunakan untuk membilas kotoran kasar sebelum pencucian utama.
  2. Main wash (pencucian utama) – air yang mengandung deterjen dan bahan pembersih.
  3. Final rinse (bilas akhir) – air bersih yang membilas sisa deterjen dan kontaminan.

Pemantauan di ketiga titik ini memungkinkan operator mengidentifikasi di tahap mana terjadi penyimpangan. Sebagai contoh, jika konduktivitas air bilas akhir tiba-tiba meningkat, penyebabnya bisa berupa kegagalan sistem pembilasan, kontaminasi silang dari tahap sebelumnya, atau penurunan kualitas air baku.

Titik Sampling pada Mesin Cuci Botol Tipe Batch vs Continuous Washer

Pemilihan titik sampling juga dipengaruhi oleh tipe mesin cuci yang digunakan:

  • Mesin cuci batch (siklus) – Sampling sebaiknya dilakukan pada setiap siklus pencucian. Ambil sampel dari tangki bilas setelah siklus selesai, sebelum air dibuang.
  • Mesin cuci kontinu (continuous washer) – Sampling dilakukan pada interval waktu yang telah ditentukan, misalnya setiap 30 menit. Sistem pemantauan otomatis dengan sensor inline dapat memberikan umpan balik instan untuk penyesuaian proses [Polyretec].

Untuk kedua tipe, pastikan titik sampling berada pada lokasi yang memungkinkan pencampuran homogen. Hindari mengambil sampel tepat di inlet atau outlet untuk mencegah bias.

Diagram Lokasi Sampling pada Mesin Cuci Botol

Secara visual, titik sampling direkomendasikan sebagai berikut:

  • Pre-rinse tank: Ambil sampel dari bagian tengah tangki, agak jauh dari inlet air masuk untuk menghindari pengenceran yang belum merata.
  • Main wash tank: Ambil sampel dari area resirkulasi, setelah deterjen tercampur sempurna.
  • Final rinse tank: Ambil sampel dari saluran keluar menuju botol, atau dari bagian tangki yang paling dekat dengan nozzle pembilas.

Pengukuran juga sebaiknya dilakukan pada suhu yang sama dengan suhu operasi untuk memudahkan koreksi suhu nantinya.


Prosedur Sampling Konduktivitas Langkah-demi-Langkah untuk Operator

Bagian ini menyajikan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan oleh operator QC di lantai produksi. Prosedur ini mengacu pada standar internasional dan praktik terbaik dari USGS serta ISO.

Persiapan Alat dan Bahan

Sebelum memulai pengukuran, operator harus memastikan:

  1. Alat ukur konduktivitas – Pastikan baterai cukup (Hanna HI8733 menggunakan baterai 9V dengan daya tahan ~100 jam pemakaian kontinu).
  2. Probe (sensor) – Periksa kebersihan probe. Jika kotor, bersihkan dengan deterjen ringan lalu bilas dengan air deionisasi. Untuk kerak membandel, gunakan larutan HCl 5% sesuai panduan USGS [2].
  3. Larutan kalibrasi – Sediakan larutan standar KCl 0,01 M (atau larutan standar komersial yang setara).
  4. Wadah sampel – Gunakan botol polietilen (bukan gelas soda) yang terisi penuh dan tertutup rapat untuk mencegah kontaminasi CO₂ dari udara [1].

Teknik Pengambilan Sampel Air Bilas

Ikuti langkah berikut untuk mendapatkan sampel yang representatif:

  1. Bilas wadah polietilen sebanyak tiga kali dengan air sampel yang akan diukur.
  2. Isi wadah hingga penuh tanpa gelembung udara, lalu segera tutup rapat.
  3. Ukur konduktivitas sesegera mungkin setelah pengambilan sampel untuk menghindari perubahan akibat pertukaran gas dengan atmosfer (terutama CO₂) [1][3].
  4. Catat suhu sampel saat pengukuran.

Pengukuran sebaiknya dilakukan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung dan fluktuasi suhu ekstrem.

Prosedur Pengukuran dengan Hanna HI8733

Hanna HI8733 adalah EC meter portabel multi-range yang dilengkapi probe four-ring HI76302W, dirancang khusus untuk area produksi dan quality control. Berikut langkah pengukuran yang benar:

  1. Nyalakan alat – Tekan tombol ON. Pastikan range selector pada posisi yang sesuai (misal, 0–199.9 μS/cm untuk air bilas yang sangat murni).
  2. Celupkan probe – Rendam probe four-ring ke dalam sampel hingga lubang ventilasi probe terendam. Aduk perlahan untuk menghilangkan gelembung udara.
  3. Aktifkan ATC – Pastikan indikator kompensasi suhu otomatis menyala. HI8733 memiliki ATC pada rentang 0–50°C.
  4. Tunggu hingga stabil – Biarkan pembacaan konstan selama beberapa detik.
  5. Catat hasil – Baca nilai konduktivitas pada layar. Catat juga suhu yang ditampilkan.
  6. Bilas probe – Setelah pengukuran, bilas probe dengan air deionisasi dan keringkan dengan tisu lembut.

Untuk akurasi optimal, lakukan pengukuran pada suhu sedekat mungkin dengan 25°C. Jika tidak memungkinkan, gunakan koreksi suhu berdasarkan tabel faktor koreksi ISO 7888.

Metode EPA 120.1 Prosedur Standar Pengukuran Konduktivitas


Kalibrasi Alat Ukur Konduktivitas: Panduan dengan Hanna HI8733

Kalibrasi adalah langkah paling krusial sebelum setiap rangkaian pengukuran. Tanpa kalibrasi yang tepat, data konduktivitas tidak dapat dipercaya dan berpotensi menyesatkan proses QC.

Menyiapkan Larutan Standar KCl

Standar kalibrasi yang paling umum digunakan adalah larutan KCl 0,01 mol/kg. Menurut NIST SP 260-142 [3], larutan ini memiliki konduktivitas 1.408,23 μS/cm pada suhu 25°C. Larutan standar komersial juga tersedia dan sebaiknya disimpan dalam botol polietilen di tempat sejuk, terlindung dari cahaya.

Prosedur Kalibrasi Hanna HI8733 Step-by-Step

  1. Siapkan larutan standar – Tuang larutan KCl 0,01 M ke dalam gelas beaker bersih yang telah dibilas dengan larutan yang sama.
  2. Celupkan probe – Masukkan probe ke dalam larutan standar. Pastikan probe bersih dan kering sebelumnya.
  3. Pilih range – Atur range selector ke posisi yang sesuai (0–1999 μS/cm atau 0–19,99 mS/cm tergantung standar).
  4. Sesuaikan kalibrasi – Putar kenop EC (kalibrasi) hingga layar menunjukkan nilai standar yang diinginkan (misal 1.413 μS/cm untuk standar 0,01 M).
  5. Verifikasi – Angkat probe, bilas, lalu celupkan kembali. Pembacaan harus stabil pada nilai yang sama.
  6. Catat – Dokumentasikan tanggal, waktu, nilai, dan nama operator dalam logbook kalibrasi.

Probe yang kotor dapat menyebabkan error kalibrasi. USGS merekomendasikan pembersihan probe dengan deterjen ringan, diikuti bilasan HCl 5% jika masih kotor, lalu bilas dengan air deionisasi [2].

Frekuensi Kalibrasi dan Pemeliharaan Sensor

  • Kalibrasi harian – Lakukan kalibrasi minimal sekali setiap shift produksi.
  • Setelah perawatan – Kalibrasi ulang setiap kali probe dibersihkan atau diganti.
  • Pemeriksaan berkala – Periksa konstanta sel setiap 6 bulan sesuai ISO 7888 [1].
  • Penyimpanan probe – Simpan probe dalam larutan penyimpanan yang sesuai (biasanya KCl 0,01 M) agar tetap terhidrasi. Jangan biarkan probe mengering.

Sensor yang bersih dan terkalibrasi adalah syarat mutlak untuk akurasi pengukuran. Residu dari sampel sebelumnya dapat melapisi permukaan sensor dan menyebabkan pembacaan yang salah [2].

Pentingnya Ketertelusuran Kalibrasi


Troubleshooting: Mengatasi Konduktivitas Air Bilas Tidak Stabil

Fluktuasi konduktivitas yang tidak wajar sering kali membingungkan operator dan menghambat proses QC. Berikut panduan diagnostik sistematis untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah.

Penyebab Umum Fluktuasi Konduktivitas

GejalaKemungkinan PenyebabSolusi
Konduktivitas naik-turun tanpa polaFluktuasi suhu air bilasPastikan ATC aktif; stabilkan suhu sampel sebelum pengukuran
Konduktivitas terus meningkatKontaminasi silang atau penumpukan ion di sistem sirkulasiPeriksa sistem pembilasan; ganti air bilas
Pembacaan tidak stabil saat probe dicelupSensor kotor, gelembung udara, atau kabel longgarBersihkan probe; aduk perlahan; periksa kabel
Alat tidak mau kalibrasiLarutan standar kadaluarsa atau terkontaminasi; probe kotor; baterai lemahGanti larutan standar; bersihkan probe; ganti baterai
Konduktivitas tiba-tiba tinggiKualitas air baku memburuk; ada kebocoran deterjenUji air baku; periksa sirkulasi deterjen

Pengaruh suhu merupakan penyebab dominan. Setiap kenaikan 1°C dapat mengubah konduktivitas secara signifikan [JMPF]. Selain itu, NIST mencatat bahwa air murni yang terpapar CO₂ atmosfer dapat menunjukkan variasi konduktivitas sekitar ±0,2 μS/cm akibat perubahan konsentrasi karbon dioksida terlarut [3].

Flowchart Troubleshooting untuk Operator

Berikut langkah diagnostik sederhana yang dapat diterapkan:

  1. Apakah konduktivitas naik-turun? → (Ya) Periksa suhu sampel dan pastikan ATC aktif. Jika stabil, lanjut ke langkah 2. (Tidak) Lanjut ke langkah 2.
  2. Apakah konduktivitas terus meningkat? → (Ya) Periksa apakah air bilas sudah waktunya diganti. (Tidak) Lanjut ke langkah 3.
  3. Apakah alat tidak bisa dikalibrasi? → (Ya) Ganti larutan standar dan bersihkan probe. (Tidak) Lanjut ke langkah 4.
  4. Apakah probe terlihat kotor? → (Ya) Bersihkan dengan deterjen lalu HCl 5%. (Tidak) Lanjut ke langkah 5.
  5. Apakah air baku berubah? → (Ya) Hubungi bagian pengolahan air. (Tidak) Konsultasikan dengan QC supervisor.

Studi Kasus: Mengatasi Konduktivitas Tidak Stabil di Lini Produksi

Skenario: Sebuah pabrik minuman ringan mengalami peningkatan konduktivitas air bilas akhir dari rata-rata 120 μS/cm menjadi 250 μS/cm dalam waktu 2 jam. Operator awalnya menduga alat bermasalah, tetapi setelah pengecekan, kalibrasi dan probe dalam kondisi baik.

Investigasi: Setelah memeriksa titik sampling pre-rinse dan main wash, ditemukan bahwa konduktivitas main wash meningkat drastis akibat dosis deterjen yang terlalu tinggi. Akibatnya, pembilasan akhir tidak mampu membersihkan residu deterjen secara tuntas.

Solusi: Dosis deterjen dikembalikan ke level normal, siklus pembilasan diperpanjang 30 detik, dan dilakukan penggantian air bilas akhir. Dalam 1 jam, konduktivitas kembali ke 110 μS/cm.

Pelajaran: Fluktuasi konduktivitas sering kali merupakan gejala dari ketidakseimbangan proses hulu. Pemantauan di beberapa titik sampling sekaligus membantu identifikasi akar masalah lebih cepat.


Integrasi Protokol dengan Sistem Mutu Industri

Protokol sampling konduktivitas bukan hanya alat operasional, tetapi juga komponen penting dalam sistem manajemen mutu seperti ISO 9001, FSSC 22000, atau SNI. Dokumentasi yang baik dan konsistensi data menjadi kunci keberhasilan audit.

Template Logbook Harian QC Konduktivitas

Setiap operator QC sebaiknya mencatat data pengukuran dalam logbook harian yang mencakup:

  • Waktu pengukuran (jam/shift)
  • Titik sampling (pre-rinse, main wash, final rinse)
  • Suhu sampel (°C)
  • Nilai konduktivitas (μS/cm atau mS/cm)
  • Status kalibrasi (sebelum pengukuran)
  • Catatan operator (misal: penggantian air, kebersihan probe, dll.)

Pencatatan yang rapi dan tertib tidak hanya memudahkan pelacakan tren, tetapi juga menjadi bukti kepatuhan terhadap standar yang berlaku.

Penyelarasan dengan Standar SNI dan Internasional

Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pengukuran konduktivitas air pada dasarnya mengadopsi ISO 7888:1985. Dengan menerapkan protokol yang diuraikan dalam artikel ini—mulai dari penggunaan wadah polietilen, kalibrasi dengan KCl, hingga koreksi suhu ke 25°C—perusahaan telah memenuhi persyaratan standar tersebut.

Integrasi ini juga mempermudah proses sertifikasi. Auditor akan melihat bahwa perusahaan memiliki prosedur yang terdokumentasi, alat yang terkalibrasi secara traceable ke standar internasional, dan operator yang terlatih. Dengan demikian, protokol sampling konduktivitas menjadi investasi yang mendukung kualitas dan kepatuhan sekaligus.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Konduktivitas air bilas adalah parameter vital yang tidak boleh diabaikan dalam proses pencucian botol dan drum. Tanpa protokol sampling yang terstandarisasi, operator QC bekerja dalam ketidakpastian—data tidak dapat diandalkan, fluktuasi sulit dijelaskan, dan konsistensi kualitas tetap menjadi target yang sulit dicapai.

Artikel ini telah menyajikan panduan komprehensif yang mencakup:

  • Prinsip dasar konduktivitas dan pengaruh suhu dengan acuan ISO 7888 [1] dan NIST [3].
  • Penentuan titik sampling pada mesin cuci batch dan kontinu, serta diagram visual lokasi sampling.
  • Prosedur pengukuran langkah-demi-langkah menggunakan Hanna HI8733 dengan probe four-ring.
  • Panduan kalibrasi sesuai standar USGS [2] dan pemeliharaan sensor.
  • Tabel troubleshooting dan flowchart untuk mengatasi fluktuasi konduktivitas.
  • Integrasi protokol ke dalam sistem mutu dan dokumentasi logbook.

Dengan menerapkan protokol ini, perusahaan dapat meningkatkan konsistensi hasil pencucian, mengurangi risiko kontaminasi, dan memperkuat posisi dalam audit mutu.

Untuk hasil optimal, kami merekomendasikan penggunaan alat ukur konduktivitas yang andal seperti Hanna HI8733 dengan teknologi four-ring probe yang menghilangkan efek polarisasi dan dilengkapi ATC presisi. Alat ini dirancang khusus untuk kebutuhan produksi dan QC di lingkungan industri.


CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi pengukuran yang terpercaya di Indonesia. Kami menyediakan berbagai produk untuk kebutuhan quality control industri, termasuk alat ukur konduktivitas seperti Hanna HI8733. Sebagai mitra bisnis yang berfokus pada solusi B2B, kami siap membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial di bidang pengukuran. Untuk konsultasi dan pemesanan, silakan konsultasi solusi bisnis dengan tim kami.

Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Prosedur pengukuran harus disesuaikan dengan kebijakan perusahaan dan standar industri yang berlaku. Tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kerugian akibat penerapan langsung tanpa verifikasi.

Rekomendasi Conductivity Meter


Daftar Pustaka

  1. ISO 7888:1985 — Water quality — Determination of electrical conductivity. International Organization for Standardization. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/14838/ffffe623f2654f4ea96ea3ceb22de16f/ISO-7888-1985.pdf
  2. Radtke, D.B., Davis, J.V., & Wilde, F.D. (N.D.). U.S. Geological Survey Techniques of Water-Resources Investigations, Book 9, Chapter A6.3: Specific Electrical Conductance. U.S. Geological Survey. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/twri/twri9a6/twri9a63/twri9a63.pdf
  3. Shreiner, R.H. & Pratt, K.W. (2004). NIST Special Publication 260-142: Standard Reference Materials — Primary Standards and Standard Reference Materials for Electrolytic Conductivity. National Institute of Standards and Technology. Retrieved from https://www.nist.gov/system/files/documents/srm/260-142-2ndVersion.pdf
  4. Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika (JMPF) – UNS. (Publikasi tentang konduktivitas air dengan analisis temperatur). Sumber dari jurnal.uns.ac.id/jmpf.
  5. DLHK Banten. (N.D.). Pedoman Teknis Pengambilan Sampel Air untuk Parameter Fisik. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten. Retrieved from dlhk.bantenprov.go.id
  6. Polyretec. (N.D.). Sistem Pemantauan Kualitas Air untuk Daur Ulang Botol Plastik. Retrieved from www.polyretec.com/id
  7. US EPA. (N.D.). Indicators: Conductivity. Retrieved from https://www.epa.gov/national-aquatic-resource-surveys/indicators-conductivity
  8. EPA Method 120.1: Conductance (Specific Conductance, µmhos at 25°C) by Conductivity Meter. (1982). U.S. Environmental Protection Agency. Retrieved from https://www.epa.gov/sites/default/files/2015-08/documents/method_120-1_1982.pdf
  9. NIST. (N.D.). Metrological Traceability: Frequently Asked Questions and NIST Policy. National Institute of Standards and Technology. Retrieved from https://www.nist.gov/metrology/metrological-traceability

Konsultasi Kebutuhan Pengujian Anda

Dapatkan penawaran produk sesuai dengan kebutuhan Anda.