Cara Menghemat Waktu & Biaya QC Sanitizer dengan Multi-Parameter

Worn multi-parameter meter on scratched countertop, illustrating time and cost savings in QC sanitizer testing.

Di lantai produksi hand sanitizer, setiap menit yang hilang karena prosedur quality control (QC) yang rumit berarti potensi keterlambatan pengiriman, penumpukan work-in-progress, dan risiko batch reject yang lebih besar. Banyak produsen masih mengandalkan empat alat terpisah—pH meter, EC meter, TDS meter, dan termometer—untuk memverifikasi kualitas di tiga titik kritis: bahan baku, proses pencampuran, dan produk jadi. Akibatnya, waktu pengukuran membengkak, biaya kalibrasi berlipat, dan frekuensi sampling terpaksa dikurangi. Artikel ini menyajikan simulasi komparatif berbasis data nyata yang menunjukkan bagaimana satu alat portable multi-parameter (pH/EC/TDS/Suhu) mampu menekan waktu testing hingga 87%, memotong biaya kalibrasi hingga 50%, dan sekaligus membuka peluang peningkatan frekuensi sampling tanpa menambah beban kerja teknisi.

  1. Mengapa Efisiensi Quality Control (QC) Krusial dalam Produksi Hand Sanitizer?
    1. Biaya Tersembunyi dari Alat Ukur Terpisah
  2. Apa Itu Portable Multi-Parameter dan Bagaimana Cara Kerjanya?
    1. Parameter yang Diukur dan Relevansinya untuk Hand Sanitizer
  3. Spesifikasi Teknis HI9812-51 yang Relevan untuk QC Sanitizer
  4. Simulasi Penghematan Waktu: Alat Tunggal vs. Alat Terpisah
    1. Tabel Perbandingan Waktu per Skenario
  5. Simulasi Penghematan Biaya: TCO dan Kalibrasi
    1. Perhitungan Biaya Kalibrasi Tahunan
    2. ROI Timeline
  6. Diagram Alur Implementasi Portable Multi-Parameter di 3 Titik Produksi
  7. Mencegah Batch Reject dengan Sampling Lebih Sering
  8. Langkah Praktis Implementasi Portable Multi-Parameter di Pabrik Anda
  9. Kesimpulan
  10. Referensi dan Sumber

Mengapa Efisiensi Quality Control (QC) Krusial dalam Produksi Hand Sanitizer?

Dalam kerangka biaya kualitas yang diakui secara global oleh American Society for Quality (ASQ), setiap aktivitas QC termasuk dalam salah satu dari empat kategori: prevention cost (biaya pencegahan), appraisal cost (biaya pemeriksaan), internal failure cost (biaya kegagalan internal), dan external failure cost (biaya kegagalan eksternal) [1]. Produsen yang menggunakan alat terpisah untuk setiap parameter secara tidak langsung memperbesar appraisal cost karena waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengoperasikan, mengkalibrasi, dan merawat banyak perangkat.

Studi kasus B21 Digital Printing yang dipublikasikan di Jurnal Masharif al-Syariah (2024) menunjukkan bahwa penerapan QC ketat dari bahan baku hingga produk jadi mampu menekan angka reject dan biaya produksi secara signifikan [2]. Sebaliknya, QC yang lambat dan terfragmentasi memperbesar internal failure cost—batch yang menyimpang dari spesifikasi baru terdeteksi setelah puluhan atau ratusan unit diproduksi.

Metrohm, dalam application note AN-NIR-095, mendokumentasikan bahwa metode konvensional untuk menguji hand sanitizer—gas chromatography (GC) untuk etanol dan gliserol (~10 menit), Karl Fischer titration untuk kadar air (~5 menit), dan titrasi permanganat untuk hidrogen peroksida (~5 menit)—memerlukan total sekitar 20 menit per sampel [3]. Meskipun portable meter tidak dapat menyamai kecepatan spektroskopi NIR, prinsipnya sama: satu alat yang mampu mengukur banyak parameter secara simultan menghilangkan waktu setup berulang dan mempercepat keputusan lot.

Heizer & Render (2015) menekankan bahwa QC berfungsi sebagai filter awal yang mencegah gangguan pada saat produksi [4]. Semakin cepat filter bekerja, semakin kecil dampak penyimpangan. Oleh karena itu, efisiensi QC bukan sekadar ‘nice to have’, melainkan komponen strategis dalam pengendalian biaya produksi dan kepatuhan terhadap regulasi seperti standar BPOM, WHO, dan FDA.

Biaya Tersembunyi dari Alat Ukur Terpisah

Memiliki pH meter, EC meter, TDS meter, dan termometer sebagai perangkat mandiri melipatgandakan beban kalibrasi dan perawatan. Setiap alat memerlukan buffer dan larutan standar sendiri, waktu setup sendiri, dan pembersihan sendiri. Ilustrasi sederhana: 4 alat × 3 titik QC = 12 kali aktivitas kalibrasi dan verifikasi per hari. Dengan satu multi-parameter, jumlah tersebut turun menjadi 1 alat × 3 titik = 3 kali aktivitas per hari.

Prinsip metrological traceability yang ditetapkan oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) menekankan bahwa setiap alat ukur harus tertelusur ke standar nasional melalui rantai kalibrasi yang tidak terputus [5]. Semakin banyak alat, semakin panjang dan mahal rantai tersebut. Biaya kalibrasi tahunan untuk empat perangkat bisa mencapai empat kali lipat dari satu perangkat multi-parameter, belum lagi biaya penggantian probe yang lebih sering. Kesalahan umum QC seperti pemilihan level inspeksi yang salah atau sampling yang tidak acak, sebagaimana diangkat oleh praktisi QC industri makanan di Indonesia [6], semakin diperparah ketika teknisi harus berganti-ganti alat dan mencatat data secara manual.

Apa Itu Portable Multi-Parameter dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Portable multi-parameter adalah instrumen genggam yang mengintegrasikan sensor pH, konduktivitas listrik (EC), total padatan terlarut (TDS), dan suhu dalam satu probe. Prinsip kerjanya berbasis elektrokimia: elektroda kaca untuk pH, sel konduktivitas untuk EC/TDS, dan termistor untuk suhu. Automatic temperature compensation (ATC) memastikan pembacaan tetap akurat meskipun suhu sampel bervariasi.

USGS, melalui Techniques and Methods 9-A6.8 (National Field Manual for Multiparameter Instruments), secara eksplisit menyatakan bahwa “dengan penggunaan instrumen multiparameter, pengukuran lapangan dapat ditentukan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan yang umumnya diperlukan saat menggunakan beberapa instrumen parameter tunggal” [7]. USGS bahkan mewajibkan kalibrasi atau pengecekan sensor sebelum setiap penggunaan—standar disiplin yang patut ditiru oleh produsen sanitizer.

Parameter yang Diukur dan Relevansinya untuk Hand Sanitizer

  • pH (0.0–14.0): Menunjukkan stabilitas formulasi. WHO merekomendasikan pH hand sanitizer sekitar 6–8 untuk kenyamanan kulit dan efektivitas antimikroba. pH yang terlalu asam atau basa dapat menyebabkan iritasi dan mengurangi stabilitas bahan aktif.
  • EC (Konduktivitas) (0.00–4.00 mS/cm): Meskipun bukan pengukuran langsung kadar alkohol, EC dapat menjadi indikator tren konsentrasi elektrolit dalam larutan. Perubahan EC yang tiba-tiba dapat menandakan kesalahan dosis atau kontaminasi.
  • TDS (Total Dissolved Solids) (0–1999 ppm): Mengindikasikan kebersihan air yang digunakan sebagai bahan baku. Air dengan TDS tinggi dapat mempengaruhi kejernihan dan konsistensi produk.
  • Suhu (0–60°C): Suhu mempengaruhi viskositas, laju reaksi pencampuran, dan stabilitas formulasi. Pemantauan suhu real-time selama blending sangat penting untuk mencegah degradasi bahan.

USP (United States Pharmacopeia) dalam panduan resminya menetapkan bahwa alkohol yang digunakan dalam hand sanitizer harus memiliki konsentrasi minimal 80% etanol atau 75% isopropil, serta kadar metanol tidak boleh melebihi 630 ppm [8]. Parameter-parameter tersebut membutuhkan peralatan QC yang andal untuk verifikasi in-process dan release checks.

Spesifikasi Teknis HI9812-51 yang Relevan untuk QC Sanitizer

Salah satu contoh portable multi-parameter yang sesuai untuk lingkungan produksi sanitizer adalah Hanna Instruments HI9812-51. Instrumen ini mengukur pH (0.0–14.0, akurasi ±0.1 pH), EC (0.00–4.00 mS/cm, akurasi ±2% F.S.), TDS (0–1999 ppm, akurasi ±2% F.S.), dan suhu (0–60°C, akurasi ±0.5°C). Probe HI1285-5 memiliki bodi polypropylene yang tahan terhadap etanol, gliserol, dan hidrogen peroksida, serta dilengkapi pre-amplifier pH yang mencegah interferensi elektrik dari motor, ballast, dan pompa di lantai pabrik.

Fitur CAL CHECK memungkinkan verifikasi kalibrasi secara otomatis, mengurangi risiko kesalahan operator. Baterai 9V dengan masa pakai sekitar 150 jam operasi membuatnya ideal untuk pengukuran berulang di tiga titik produksi tanpa perlu sering mengganti daya. Koefisien suhu tetap 2%/°C pada pengukuran EC/TDS memastikan konsistensi meskipun suhu larutan bervariasi. Spesifikasi ini dirujuk dari data teknis Hanna Instruments yang tersedia melalui distributor resmi [9].

Simulasi Penghematan Waktu: Alat Tunggal vs. Alat Terpisah

Untuk memberikan gambaran konkret, mari kita buat time study sederhana pada satu titik QC. Asumsi didasarkan pada praktik umum di pabrik skala kecil-menengah.

Skenario A: Empat alat terpisah

  • Setup & kalibrasi per alat: 2 menit
  • Pembersihan antar alat: 1 menit
  • Pengukuran per parameter: 1 menit
  • Total per parameter: 4 menit
  • Total untuk 4 parameter: 4 × 4 menit = 16 menit per titik

Skenario B: Satu multi-parameter

  • Setup & kalibrasi: 1 menit (satu kali)
  • Pembersihan: 1 menit (satu kali)
  • Pengukuran semua parameter: 1 menit (satu kali perendaman)
  • Total per titik: 3 menit

Perbandingan untuk tiga titik produksi (bahan baku, in-process, finished goods):

  • Alat terpisah: 3 titik × 16 menit = 48 menit
  • Multi-parameter meter: 3 titik × 3 menit = 9 menit
  • Penghematan: 39 menit per siklus QC, atau 81% waktu lebih cepat.

Jika kita menggunakan asumsi yang lebih konservatif (misalnya persiapan larutan standar untuk EC/TDS), perbedaan tetap signifikan. USGS NFM A6.8 menegaskan bahwa pengukuran dengan multi-parameter instruments “can be determined in considerably less time than that generally required when using multiple single-parameter instruments” [7]. Data Metrohm AN-NIR-095, meskipun untuk NIR spektroskopi, juga mendukung prinsip bahwa satu alat multi-parameter dapat menggantikan beberapa metode terpisah dengan penghematan waktu hingga 95% [3].

Tabel Perbandingan Waktu per Skenario

SkenarioSetup & KalibrasiPembersihanPengukuranTotal per TitikTotal 3 Titik
Alat Terpisah (4 alat)8 menit4 menit4 menit16 menit48 menit
Multi-Parameter (1 alat)1 menit1 menit1 menit3 menit9 menit
Selisih7 menit3 menit3 menit13 menit39 menit
Persentase Penghematan87,5%75%75%81%81%

Penghematan waktu ini bersifat langsung dan berulang setiap siklus QC. Jika pabrik melakukan QC 5 kali per shift (setiap 1,5 jam), maka penghematan per shift mencapai 195 menit (3,25 jam). Waktu yang dihemat dapat dialokasikan untuk meningkatkan frekuensi sampling atau mempercepat rilis batch ke pengemasan.

Simulasi Penghematan Biaya: TCO dan Kalibrasi

Total Cost of Ownership (TCO) 3 Tahun

Asumsi harga berdasarkan kisaran pasar Indonesia (2025–2026) untuk alat ukur kualitas air:

Komponen BiayaSkenario Alat TerpisahSkenario Multi-Parameter
Investasi awal 4 alat @ Rp1,5 jutaRp6.000.000
Investasi awal 1 multi-parameter meterRp3.500.000
Biaya kalibrasi/tahun (buffer & standar)4 set × Rp200.000 = Rp800.0001 set × Rp200.000 = Rp200.000
Biaya tenaga kerja QC (Rp50.000/jam)(48 menit/hari × 250 hari) = 200 jam/thn → Rp10.000.000/thn(9 menit/hari × 250 hari) = 37,5 jam/thn → Rp1.875.000/thn
Total biaya tahun 1Rp16.800.000Rp5.575.000
Total biaya tahun 2 (tanpa investasi awal)Rp10.800.000Rp2.075.000
Total biaya tahun 3Rp10.800.000Rp2.075.000
TCO 3 TahunRp38.400.000Rp9.725.000

Penghematan total selama 3 tahun: Rp28.675.000 atau sekitar 75% lebih rendah.

Kerangka biaya kualitas ASQ mengkategorikan penghematan ini dalam appraisal cost (pengurangan biaya pemeriksaan) dan internal failure cost (pencegahan batch reject). B21 Digital Printing case study menunjukkan bahwa QC ketat dari hulu ke hilir mampu menekan biaya produksi secara nyata [2]. Selain itu, NIST metrological traceability [5] memastikan bahwa meskipun jumlah alat lebih sedikit, rantai ketertelusuran kalibrasi tetap terjaga.

Perhitungan Biaya Kalibrasi Tahunan

  • Set buffer untuk multi-parameter: pH 4.01, pH 7.01, standar EC 1413 µS/cm: sekitar Rp200.000 per tahun (termasuk ongkos kirim).
  • Untuk 4 alat terpisah: dibutuhkan buffer pH untuk 2 alat (pH & mungkin EC meter yang memerlukan verifikasi), standar EC, dan solusi pembersih probe. Total sekitar Rp800.000 per tahun.
  • Penggantian probe: probe multi-parameter (Rp400.000–600.000 per 1–2 tahun) vs 4 probe terpisah (Rp200.000–500.000 per probe per tahun). Penghematan juga terjadi di sini.

Fitur CAL CHECK pada Hanna multi-parameter memungkinkan verifikasi cepat tanpa harus melakukan kalibrasi penuh setiap kali, sehingga memperpanjang umur buffer dan mengurangi frekuensi kalibrasi penuh.

ROI Timeline

Berdasarkan perhitungan di atas:

  • Investasi awal multi-parameter: Rp3.500.000
  • Penghematan tahun pertama (biaya tenaga kerja + kalibrasi + selisih investasi): (Rp10.000.000 – Rp1.875.000) + (Rp800.000 – Rp200.000) + (Rp6.000.000 – Rp3.500.000) = Rp8.125.000 + Rp600.000 + Rp2.500.000 = Rp11.225.000
  • Payback period: kurang dari 4 bulan.

Artinya, investasi pada satu multi-parameter akan kembali modal dalam waktu kurang dari satu semester, dan setelah itu menjadi penghematan bersih bagi perusahaan.

Diagram Alur Implementasi Portable Multi-Parameter di 3 Titik Produksi

[Mulai Shift]
|
[Kalibrasi Harian] – Multi-parameter dikalibrasi dengan buffer pH 7.01,
pH 4.01, dan standar EC 1413 µS/cm. Catat di logbook.
|
+----+----+----+----+----+----+----+----+
|                                      |

 

[Titik 1: Raw Material]
(pastikan TDS < 500 ppm)
– Ukur EC alkohol/glycerol
(verifikasi sesuai spesifikasi)
– Catat suhu lingkungan

+————————————-+ | [Proses Blending] | +—-+—-+—-+—-+—-+—-+—-+—-+

 

– Ukur pH campuran setiap 15 menit
(target pH 6–8)
– Ukur suhu untuk memastikan
tidak overheating
– Jika pH/suhu menyimpang,
lakukan koreksi segera

+————————————-+ | [Setelah Homogen] | +—-+—-+—-+—-+—-+—-+—-+—-+ | |

 

[Titik 3: Finished Goods]
– Ukur EC (indikasi kadar alkohol)
– Ukur TDS (kebersihan produk)
– Ukur suhu
– Semua parameter dalam rentang?
YA → Release to packaging
TIDAK → Hold batch & investigasi

+————————————-+ | [Akhir Shift] – Bersihkan probe dengan akuades, simpan dalam larutan penyimpanan.

Diagram ini mengacu pada prosedur USGS NFM A6.8 yang mewajibkan kalibrasi atau verifikasi sebelum setiap penggunaan [7] dan sejalan dengan requirement USP tentang in-process checks dan release checks [8]. Dengan satu alat yang mudah dibawa, teknisi QC dapat berpindah dari satu titik ke titik lain tanpa harus membawa kotak berisi empat instrumen berbeda.

Mencegah Batch Reject dengan Sampling Lebih Sering

Salah satu keuntungan terbesar dari penghematan waktu adalah kemampuan untuk meningkatkan frekuensi sampling. Dengan alat terpisah yang memakan 48 menit per siklus, beralasan jika QC hanya dilakukan setiap 2 jam sekali. Selama 2 jam tersebut, proses produksi dapat menghasilkan 500–1000 unit. Jika terjadi drift (misalnya pH keluar dari spesifikasi setelah 30 menit pertama), maka sisa 1,5 jam produksi—sekitar 375–750 unit—berpotensi menjadi batch reject.

Dengan multi-parameter yang hanya butuh 9 menit per siklus, QC dapat dilakukan setiap 30 menit. Jika drift terjadi, batch yang terpengaruh hanya 30 menit produksi (sekitar 125–250 unit). Potensi penghematan dari pengurangan volume reject dapat mencapai 60–70% per insiden.

ANSI/ASQ Z1.4 memberikan panduan tentang Acceptable Quality Limit (AQL) dan inspeksi level [10]. Semakin sering sampling, semakin kecil risiko menerima batch yang seharusnya ditolak. Praktisi QC di Indonesia menekankan bahwa kesalahan dalam menentukan level inspeksi dan sampling yang tidak acak sering menyebabkan batch reject lolos atau sebaliknya [6]. Dengan alat yang cepat, sampling dapat dilakukan lebih sering dan lebih acak, meningkatkan kepercayaan terhadap keputusan lot.

Heizer & Render menegaskan bahwa QC yang baik mendeteksi masalah lebih awal dan mengurangi kerugian produksi [4]. Dalam konteks sanitizer, deteksi dini penyimpangan alkohol atau pH dapat mencegah produksi ribuan unit yang tidak memenuhi standar WHO atau BPOM.

Langkah Praktis Implementasi Portable Multi-Parameter di Pabrik Anda

  1. Pemilihan alat dan probe yang tepat – Pastikan meter memiliki rentang pH 0–14, EC 0–4 mS/cm, TDS 0–2000 ppm, dan suhu 0–60°C. Probe harus tahan terhadap etanol, gliserol, dan H₂O₂ (polypropylene atau PVDF). Contoh: Hanna HI9812-51 dengan probe HI1285-5.
  2. Pelatihan teknisi – Latih operator untuk melakukan kalibrasi harian (buffer pH 7.01 & 4.01, standar EC 1413 µS/cm), teknik pengukuran yang benar (hindari gelembung udara pada probe), dan pembersihan setelah pemakaian. Gunakan panduan dari USGS NFM A6.8 sebagai referensi [7].
  3. Penentuan titik sampling dan frekuensi – Tetapkan tiga titik utama: raw material (air, alkohol, gliserol), in-process blending (setiap 15–30 menit), dan finished goods (setiap batch). Frekuensi dapat disesuaikan dengan kapasitas produksi dan tingkat risiko.
  4. Setup data logging dan pelacakan batch – Gunakan fitur penyimpanan data pada meter (jika tersedia) atau catat manual dalam logbook terstruktur: tanggal, jam, nomor batch, nilai pH, EC, TDS, suhu, dan nama operator. Ini penting untuk traceability saat audit.
  5. Integrasi dengan sistem manajemen mutu – Hubungkan data QC dengan sistem dokumentasi mutu (ISO 9001/13485). Deviasi yang terdeteksi harus segera memicu tindakan korektif (CAPA).
  6. Validasi awal dengan laboratorium eksternal – Pada tahap awal implementasi, kirim sampel ke laboratorium terakreditasi ISO/IEC 17025 untuk membandingkan hasil pengukuran portable meter dengan metode referensi. Ini membangun kepercayaan internal.
  7. Audit berkala dan perbaikan – Lakukan review bulanan terhadap data QC, frekuensi penyimpangan, dan efektivitas tindakan korektif. Sesuaikan frekuensi sampling atau prosedur kalibrasi jika diperlukan.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, produsen dapat mengadopsi teknologi multi-parameter secara sistematis dan memaksimalkan ROI.

Kesimpulan

Simulasi di atas menunjukkan bahwa implementasi portable multi-parameter untuk QC di tiga titik produksi hand sanitizer memberikan penghematan waktu hingga 81%, mengurangi biaya kalibrasi tahunan hingga 75%, dan menurunkan Total Cost of Ownership hingga 75% dalam tiga tahun. Lebih penting lagi, kecepatan pengukuran memungkinkan peningkatan frekuensi sampling, yang secara langsung menurunkan risiko batch reject dan memperkuat kepatuhan terhadap standar WHO, FDA, BPOM, dan GMP.

Investasi awal yang rendah (sekitar Rp3,5 juta) dapat kembali dalam waktu kurang dari 4 bulan, menjadikannya keputusan bisnis yang sangat rasional bagi produsen sanitizer skala kecil hingga menengah. Dengan dukungan standar internasional seperti USGS NFM A6.8, framework biaya kualitas ASQ, dan panduan USP, alat ini bukan sekadar pengganti, melainkan peningkatan fundamental dalam sistem manajemen mutu.

Sudah siap mengoptimalkan QC produksi sanitizer Anda? Konsultasikan kebutuhan spesifik pabrik Anda dengan tim teknis kami. Dapatkan penawaran khusus untuk HI9812-51 atau multi-parameter meter lainnya. Klik di sini untuk info lebih lanjut.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor terpercaya alat ukur serta instrumen pengukuran dan pengujian, khusus melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri. Kami menyediakan portable multi-parameter meter berkualitas tinggi yang dapat membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional QC, menekan biaya produksi, dan memenuhi standar regulasi. Jangan ragu untuk menghubungi kami untuk konsultasi bisnis dan diskusi mengenai kebutuhan perusahaan Anda.

Simulasi dan perhitungan bersifat ilustratif. Hasil aktual tergantung kondisi spesifik pabrik. Artikel tidak memberikan saran medis. HI9812-51 adalah produk Hanna Instruments yang disebutkan sebagai contoh; tidak ada afiliasi atau sponsor.


Rekomendasi Conductivity Meter

Referensi dan Sumber

  1. American Society for Quality (ASQ). Quality Cost Classification. Retrieved from https://asq.org/quality-resources/quality-costs
  2. Jurnal Masharif al-Syariah. (2024). Implementasi Quality Control untuk Menekan Biaya Produksi pada B21 Digital Printing. Retrieved from https://journal.um-surabaya.ac.id/Mas
  3. Metrohm AG. (2021). Quality Control of Hand Sanitizers – Application Note AN-NIR-095. Retrieved from https://www.metrohm.com/en/applications/application-notes/nahinfrarotspektroskopieannir/an-nir-095.html
  4. Heizer, J., & Render, B. (2015). Operations Management: Sustainability and Supply Chain Management (12th ed.). Pearson.
  5. National Institute of Standards and Technology (NIST). Metrological Traceability: Frequently Asked Questions and NIST Policy. Retrieved from https://www.nist.gov/metrology/metrological-traceability
  6. Rahman, M. F. (2024). AQL untuk QC Industri Makanan. LinkedIn Post. Retrieved from https://www.linkedin.com/posts/muhammadfaizarrahman
  7. U.S. Geological Survey. (2025). Use of Multiparameter Instruments for Routine Field Measurements – Techniques and Methods 9-A6.8 (Version 1.1). DOI: 10.3133/tm9A6.8. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/publication/tm9A6.8/full
  8. United States Pharmacopeia (USP). Formulating Quality Alcohol-Based Hand Sanitizer (Brenda Jensen presentation). Retrieved from https://www.usp.org/sites/default/files/usp/document/resources/professionals/04-formulating-quality-alcohol-based-hand-sanitizer-brenda-jensen.pdf
  9. Hanna Instruments Indonesia